Solusi Berwudhu Saat Memakai Perban

Perban atau gift hampir bisa dipastikan selalu menghiasi korban kecelakaan. Ini tentu akan menyisakan satu persoalan dengan ibadah wudhu’. Pasalnya, tak jarang perban atau gift menutupi salah satu anggota wudhu’ sehingga para korban terkadang kebingungan. Dalam kondisi seperti ini, apakah ia harus salat tanpa wudhu’, atau wudhu’ tapi dengan cara berbeda?

Seorang yang patah tulang atau terluka akibat kecelakaan pasti akan kesulitan melakukan pekerjaannya. Jangankan mau berjalan, berdiri saja ia tak mampu. Bahkan tak jarang ia harus disuapin ketika makan. Belum lagi, ia harus banyak nurutin kata-kata Bu Dokter. Harus gini, harus gitu, ‘gak boleh gini, ‘gak boleh gitu.

Namun demikian, kita tak boleh lupa pula bahwa bukan hanya nasehat Bu Dokter yang harus dituruti ketika sakit seperti itu. Aturan agama Islam yang namanya salat juga harus tetap dijalankan, bagaimanapun caranya. Tak bisa salat sambil berdiri, maka duduk, tak bisa duduk, maka berbaring, tak bisa dengan berbaring, maka dengan isyarat mata, tak bisa dengan isyarat mata, maka dengan hati, tak bisa dengan hati maka segera disalati saja, karena sudah mati.

Yah… begitulah kewajiban salat dalam Islam. Super sangat diwajibkan bagi umat Muhammad Saw. Tapi, ketika kita mengalami kecelakaan atau terjatuh mungkin ada sedikit masalah. Sebelum salat tentu kita harus dalam keadaan suci. Dengan ungkapan lain, kita harus berwudlu’ dulu. Masalahnya, ketika kita terluka, kepala, tangan, atau kaki kita biasanya dibalut dengan perban. Dan Untuk yang patah tulang. biasanya anggota badan yang tulangnya patah atau retak maka akan div gift oleh dokter.

Aksesori-aksesori semacam perban atau gift pada korban kecelakaan ini tentunya akan menghalangi air ke kulit. Artinya, wudhu’ bisa bermasalah dalam kondisi seperti ini. Karena wudhu’ sendiri baru dikatakan sah bila air telah menyentuh secara langsung pada kulit anggota wudhu’. Di sinilah letak kesulitan para korban-korban kecelakaan yang hendak berwudlu. Apakah di setiap kali wudhu’, mereka harus membuka perbannya supaya air dapat merata ke seluruh anggota wudhu’. Atau adakah cara lain yang lebih mudah dan juga dianggap sah secara Syara’? Mari kita bahas bersama!

Dalam literatur kitab fikih, istilah perban dikenai dengan nama ‘ishabah, yaitu kain yang digunakan untuk membalut luka agar terlindung dari kotoran. Sementara untuk patah tulang atau tulang yang retak ada istilah lain yang digunakan, yaitu dikenal dengan istilah jabirah. Sebuah alat semacam kayu yang digunakan untuk menutupi dan menekan bagian tulang yang patah agar nyambung/lurus kembali. [lawsyih ‘Ala lbni Qasim, 36; al-Fiqh al-Manhaji ‘Ala Madzhabiy Imam alSyafi’iy, 68:|]

Di masa sekarang, ‘ishabah sama persis dengan fungsi perban yang biasa digunakan para dokter untuk membalut luka korban kecelakaan. Sedangkan fungsi jabirah juga tidak terlalu beda jauh dengan gift yang biasa digunakan untuk korban patah tulang. Gift adalah semacam cairan yang dipasang ke tubuh pasien yang patah. Lalu dalam waktu tertentu gift tersebut membeku sesuai dengan ukuran bagian tubuh yang patah.

Terkait dengan ‘ishabah dan jabirah tersebut, para pakar Fikih klasik sudah sejak dulu mempresentasikan solusinya. Pertama, dari mazhab Syafi’iyah. Pada mulanya, di qaul qadim (fatwa Imam Syafi’iy ketika di Baghdad) termaktub bahwa korban kecelakaan yang telah dibalut dengan jabirah atau ‘ishabah mendapat dispensasi dengan bertayamum saja sebagai ganti dari wudhu’. [al-Majmu’, 268zll]

Dispensasi tersebut jelas keringanan yang nyata bila dipraktikkan. Pasalnya, kita hanya perlu tayammum dan tidak perlu susah-susah berwudlu sekalipun ada air, karena ini adalah keadaan darurat. Namun, entah mengapa keputusan hukum tersebut berubah setelah Imam Syafi’iy pindah ke Mesir. Di sana Beliau berfatwa bahwa pemakai ‘ishabah dan jabirah diwajibkan tetap berwudlu sebagaimana biasa, namun ketika pada bagian yang terbalut, maka hanya perlu diusap saja dan langsung seketika itu bertayamum untuk mengganti basuhannya. [Bughyatu al-Mustarsyidin, 60:|]

Jadi, seandainya bagian yang terbalut ada dua anggota wudlu maka tayammumnya juga dua kali. Misalnya tangan dan kaki. Selanjutnya, Syafi’iyyah menambah-nambah ketentuan dalam kasus ini, yaitu bilamana akan membalut luka tersebut maka harus dalam keadaan suci dulu, Karena kalau tidak, maka aktivitas salat yang dilakukan selama badan terbalut harus I’adah (diulang kembali) ketika sudah sembuh. Ketentuan ini berlaku jika anggota yang terbalut adalah selain anggota tayammum (wajah dan tangan). Namun, ketika yang terbalut adalah anggota tayammum maka salat wajib diulang. baik sebelum membalut telah suci terlebih dahulu atau belum. [Tawsyih ‘Ala Ibni Qasim, 36: als Fiqh al-Manhaji ‘Ala Mazhabiy lmam al-Syafi’iy, 68:l]

Ketentuan Imam Syafi’iy ini bukan tak beralasan. Beliau mendasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Jabir,

Dari Jabir Ra, ia berkata: “Kami sedang keluar dalam sebuah perjalanan. Kemudian (di perjalanan) sebuah batu menghantam seorang dari kami dan melukai kepalanya. Lalu ia tertidur dan bermimpi basah. Setelah bangun, ia bertanya pada para sahabatnya: “Apakah kalian menemukan untukku rukhshah (keringanan) untuk bertayamum?” Para sahabatnya pun menjawab’ ”Kami sama sekali tidak menemukan rukhshah untukmu sementara kamu masih sanggup untuk menggunakan air”. Maka, ia pun mandi lalu ia mati. Tatkala kami menghadap pada Nabi Saw., diceritakanlah berita itu pada Beliau. Beliau lalu bersabda: “Mereka telah membunuhnya, (semoga) Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya terlebih dahulu ketika mereka masih belum tahu? Sesungguhnya obat kepelikan itu adalah bertanya. Sesungguhnya ia hanya perlu bertayamum dan mengikat lukanya dengan kain kemudian mengusap kain tersebut serta membasuh seluruh badannya. [Sunan Abi Dawud, 465:I, Sunan al-Baihaqi, 227zl]

Kedua, mazhab Malikiyah dan Hanafiyah. Kelompok ini mendasarkan argumennya pada hadis,

Dari sayyidina Ali Ra Ia berkata: kedua tanganku patah ketika perang Uhud dan bendera pun terjatuh. Lalu Nabi bersabda pada para sahabat lainnya, “Tempatkanlah bendera itu di tangan kiri Ali, karena dialah pemegang benderaku di dunia dan akhirat”. Lalu, aku bertanya pada Nabi: ”Wahai Rasul, apa yang harus aku perbuat dengan jaba’ir ini?”, Rasul menjawab: ”Usaplah itu…!”.

Dari ini, Imam Malik dan Abu Hanifah menyimpulkan bahwa para pengguna jabirah atau ‘ishabah hendaknya mempertimbangkan kuantitas luka/patah yang dideritanya. Jika yang sakit lebih dominan maka dia hanya perlu bertayamum saja. Namunjika lebih dominan yang sehat maka dia wajib membasuh anggota wudhu’ yang sehat dan mengusap yang sakit, tanpa harus bertayamum dan tanpa harus mengulang salatnya. [Tuhfatu al-Fuqaha’ 89:I, Maraqat aI-Mafatih Syarhu al-Misykatu al-Mashabih, 468:II, ‘Aunu aI-Ma’bud, 383:I]

Ketiga, mazhab Imam Ahmad. Menurut beliau, setelah menganalisis ulang argumen Syafi’iyah menyatakan bahwa tidak ada satu keterangan pun yang sahih dari Nabi tentang kewajiban mengusap ‘ishdbah atau jabirah. Kalau pun ada maka itu dha’if. Dari itu, Imam Ahmad menegaskan bahwa pengguna ‘ishabah atau jabirah hanya diwajibkan membasuh anggota yang sehat dan bertayamum saja sebagai ganti membasuh yang sakit. Dan kalaupun harus mengusap yang sakit, maka hal tersebut dilakukan ketika pembalutnya terlalu melebihi sasaran luka yang dikehendaki. Hanabilah juga menyatakan bahwa tak perlu adanya i’c’idah dalam kasus tersebut. [al-Mughniy, 314:I, Maraqat aI-Mafatih Syarhu aI-Misykatu aI-Mashabih, 468:II]

Demikianlah uraian mengenai argumen ulama mazhab tentang shahibu al-jabirah dan shahibu ai-‘ishabah. Manakah yang harus kita pilih? Pada dasarnya, argumentasi para ulama di atas sungguh samasama kuat. Kita tidak bisa mengetahui secara pasti mana yang paling kuat. Karena boleh jadi menurut kita kuat, tapi menurut yang lain itu lemah. Dan itulah ragam fikih dan rahmat perbedaan bagi umat Islam. Itu semua tak lain agar kita mau terus berpikir dan menganalisis. Pada kasus kita saat ini, yang pasti solusi yang ditawarkan haruslah sejalan dengan Ruh syari’ah Islam, yaitu mendahulukan kemaslahatan umat, baik dunia maupun akhirat.

Kalau kita lihat kenyataan yang ada, misalnya di rumah-rumah sakit atau di puskesmas-puskesmas, mereka memang tidak berdaya Untuk bertingkah laku seperti orang sehat. Oleh karena itu, seharusnya; memang mereka layak mendapat dispensasi yang lebih mudah dari pada orang yang sehat Coba bayangkan! Ketika kita ikut mazhab Syafi’iyah, yaitu harus membasuh anggota yang sehat, lalu diusap pada bagian pembalut, lalu ditayamumi sebagai ganti dari yang tak ter basuh, setelah itu masih harus mengganti salat ketika yang dibalut termasuk anggota tayamum. Ketentuan hukum ini jelas lebih sulit dari pada dalam keadaan normal. Apakah ini yang dikehendaki Syari’ah?

Dalam kondisi seperti ini, nampaknya Mazhab Hanafiy dan Imam Malik atau imam Ahmad lebih maslahat untuk diikuti, karena dengan begitu si korban memang benar-benar akan mendapat kemudahan sebelum melakukan salat. Ketentuan ini akan memacu para korban untuk tetap salat dan juga akan membuktikan bahwa agama Islam tidak terlalu sukar dan pelik. Nabi sendiri sudah menyatakan bahwa janganlah kita mempersulit diri ketika hendak beribadah. Sabda Beliau,

Buatlah menjadi mudah dan jangan kalian per sulit (dalam beragama). [Shahih al-Bukhariy, 1332!] Wa-Allahu A’lamu.

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Bagikan ke:

Komentar

komentar