Lima Pesan Kebangsaan, Dalam Rangka Momentum Proklamasi 9 Ramadhan

Bangsa Indonesia akan menapaki usia 76 tahun sejak diproklamirkan kemerdekaannya tahun 1364 Hijriyah. 9 Ramadhan 1364 H yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945 dipilih oleh para pendiri bangsa tentunya dengan banyak pertimbangan.

Setidaknya, para Bapak Bangsa berharap Indonesia dibangun dengan semangat keberkahan bulan suci Ramadhan, sekaligus mengukuhkan bahwa para kiai adalah di antara penentu bagi kemerdekaan Indonesia.

Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim As’yari mengatakan bahwa nasionalisme dan agama bukanlah dua hal yang bertentangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan dan keduanya saling menguatkan,” kata KH Marzuki Mustamar, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini, Senin 13 Mei 2019.

Selanjutnya, Kiai Marzuki mengemukakan Bung Karno suatu ketika juga mengatakan bahwa nasionalisme yang sejati bukan copie atau tiruan dari nasionalisme Barat.

“Akan tetapi nasionalisme yang timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan,” tegasnya menirukan perkataan Presiden RI pertama tersebut.

Menurutnya, 9 Ramadhan 1364 H yang bertepatapan dengan 17 Agustus 1945 dipilih oleh founding fathers bukan tanpa pertimbangan.

“Mereka ingin membangun Indonesia dengan spirit keberkahan bulan suci Ramadhan, sekaligus menegaskan bahwa para kiai adalah muassis (pendiri) Kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.

Secara khusus, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang ini mengemukkaan bahwa memasuki usia 76 tahun yaitu 9 Ramadhan 1364 kemerdekaan Indonesia, PWNU Jatim menyampaikan imbauan dan pesan kebangsaan sebagai berikut (9 Ramadhan 1364-1440):

1.Menyelenggarakan tasyakkuran kemerdekaan dan doa bersama di lingkungan masing-masing dalam rangka mengenang para kiai, pejuang, dan para syuhada salihin perintis kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.Mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mensyukuri anugerah kemerdekaan di bulan Ramadhan ini dengan bersatu membangun negeri dan bersama memerangi hoaks, ujaran kebencian dan fitnah yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3.Menyerukan bagi para pengurus NU di segala tingkatan, dan warga NU di Jawa Timur, untuk pro-aktif membantu pemulihan suasana sosial masyarakat pasca Pemilu 2019 yang aman dan damai demi menjaga ukhuwah wathaniyah dan keutuhan NKRI tercinta.

4.Mengimbau kepada umat Islam di Indonesia untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan memperkokoh tali persaudaraan dan persatuan antar komponen masyarakat. Ukhuwah adalah modal utama kita di dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, adil, dan makmur. Jaga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan setanah air) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia), agar Indonesia terbebas dari ancaman perpecahan.

5.Menyerukan secara khusus kepada warga NU di bulan Ramadhan ini untuk melakukan gerak batin, memohon pertolongan dan perlindungan pada Allah SWT. Agar negara tercinta Indonesia senantiasa tercipta suasana aman dan damai, saling menghormati perbedaan dan junjung tinggi persatuan dan persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Kiai Marzuki menyampaikan bahwa memperingati, mensyukuri, dan mengisi kemerdekaan itu hukumnya wajib.

“Mengapa? Kita sadar bahwa kita bersujud di Indonesia, dilahirkan di Indonesia, mencari nafkah di Indonesia, semua yang kita lakukan berada di Indonesia. Dan sampai saat ini Indonesia yang kondusif inilah tempat kita untuk mendekat kepada Allah SWT,” tegasnya.

Ketua NU Jatim ini juga mengingatkan bahwa momentum kemerdekaan di bulan Ramadhan ini dengan meneguhkan ukhuwah.

“Yaitu ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan memperkokoh ikatan persatuan Indonesia untuk bersatu memerangi hoaks demi hadirnya Indonesia baldatun thayyibatun warabbun ghafur, merdeka,” kata Kiai Marzuki mengakhiri. (adi/ngopibareng.id)

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar