Bagaimana Etika Berdebat dalam al-Qur’an? (Bagian 1)

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna diantara mahkluk-makhluk Allah yang lainnya[1]. Mereka dianugerahi akal yang bisa digunakan untuk berfikir tentang segala hal, masalah ketuhanan[2] kehidupan[3] lingkungan[4] dan lain sebagainya. Dalam al-Qur’an Allah Swt menganjurkan manusia untuk memfungsikan akalnya untuk berfikir, diantara redaksinya adalah “Afalā tatadzakkarūn, afalā ta’qilūn [5]”. Sebagai akibat dari penggunaan akal atau memungsikannya adalah adanya perbedaan cara pandang. Perbedaan ini terkadang dianggap sebagai bentuk perselisihan. Dengan demikian, tidak sedikit dari manusia berselisih antar sesama, karena perbedaan cara pandang dalam memandang suatu masalah.

Perbedaan cara pandang dalam berfikir mengakibatkan manuisa memiliki keberaragaman pendapat dalam mengkaji sesuatu. Dalam hidup bermasyarakat, manusia tidak bisa mengelak dari hal ini, di perkuliahan seorang dosen akan berdebat atau berbeda pendapat dengan mahasiswanya, mahasiswa satu dengan yang lainnya saat berdiskusi, presiden dengan bawahannya (lawan politik ataupun masyarakat biasa), penjual dengan pembeli, dan lain sebagainya.

Karena dorongan hawa nafsu yakni ingin menang sendiri, maka, tidak sedikit kasus silang pendapat ini, justru menjadi awal perpecahan dan pertikaian. Debat tidak lagi bertujuan untuk memecahkan suatu masalah, tapi justru dijadikan ajang saling menyalahkan, menghina, mencemooh, dan lain-lain, yang ujungnya terkadang berakhir dengan anarkis.

Tak jarang perbedaan pendapat dalam diskusi maupun berdebat berakhir ricuh, baik dalam diskusi politik seperti kekacauan sidang paripurna suatu kasus yang ditayangkan secara live oleh beberapa TV swasta beberapa waktu lalu, diskusi antar mahasiswa yang berahrir ricuh juga sperti rapat anatara BEM dan UKM di Universitas Batanghari yang berahir anarkais, bahkan dalam diskusi keagamaan sekalipun berakhir anarkis seperti kasus pembubaran diskusi saat bedah buku Irshad Manji. Dan masih banyak lagi diskusi-diskusi yang berakhir ricuh diberbagai kalangan. Kasus-kasus di atas merupakan salah satu potret betapa perbedaan pendapat, bisa berakhir dengan anarkis, mempertaruhkan martabat, bahkan nyawa sekalipun.

Sejatinya perselisihan pendapat telah dimulai semenjak dahulu, sebelum manusia itu diciptakan. Ketika Allah menerangkan kepada para malaikat, bahwa Ia akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, mereka (para malaikat) mendebatNya, seraya mengajukan argumen mereka, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana (bumi), sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? …” (Al-Baqarah 2 : 30).

Perselisihan pendapat itu bisa dibilang sudah menjadi sunnatullah, namun bukan berarti setiap perbedaan itu harus berakhir dengan tragis. Allah dan Rasulullah-Nya telah mengajarkan manusia, untuk berdialog dengan baik, ketika terjadi perselisihan pendapat, sehingga, dampak dari adu argumen tersebut, tidak harus berakhir dengan keributan dan perpecahan. Seperti yang telah diajarkan oleh Allah dalam firmanNya :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl 16  : 125).

Ayat di atas memerintahkan manusia ketika melakukan dialog  dan tukar fikir hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut serta dengan tutur kata yang baik, hal itu sama seperti firman Allah :

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[6], dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (al-Ankabut 29 : 46)

Dengan demikian Allah SWT memerintahkan manusia untuk berlemah lembut sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun As. Untuk berlemah lembut ketika menghadap kepada Fir’aun melalui firmanNya[7] :

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaahaa 20 : 44).

 

 

[1] Qs. Al Isra’ 17  :  70

[2] Qs. Al An’am 6  : 71

[3] Qs. An Nisa 4 : 36

[4] Qs. Ar Rum  30 : 41

[5] Qs. Al An’am 6 : 80

[6] Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim Ialah : orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

[7] Abdurrahman bin Ishaq, Tafsir Ibnu Katsir : Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir (bogor : pustaka imam asy-syafi’i. Cet. 1.  2003), jilid 5, h, 121

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar