NU dan Muhammadiyah Dorong Jaga Kebersamaan walau Beda Pilihan Politik

Gesekan dan konflik horisontal di tengah masyarakat kerap terjadi hanya karena perbedaan pilihan politik. Menyikapi kondisi tersebut, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mendorong masyarakat untuk menjaga kebersamaan walau berbeda pilihan politik.

Komitmen menjaga kebersamaan tersebut ditegaskan oleh NU dan Muhammadiyah dalam pernyataan bersama yang ditandatangani KH Said Aqil Siroj dan H Haedar Nashir. Pertemuan kedua ormas Islam terbesar itu dilakukan di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Rabu (31/10).

“Pada tahun politik ini semua pihak agar mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik. Kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, cerdas, dewasa, serta menjunjung tinggi keadaban serta kepentingan bangsa dan negara. Hindari sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama. Kami percaya rakyat dan para elite Indonesia makin cerdas, santun, dan dewasa dalam berpolitik,” bunyi pernyataan bersama NU dan Muhammadiyah poin keempat.

 

“Ada beberapa yang kita diskusikan tentang bagaimana merekatkan kebersamaan di tubuh bangsa kita di tengah suasana tahun politik yang mana itu juga jadi bagian hajat kita sebagai bangsa,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir usai pertemuan dikutip NU Online dari detikcom.

Pada poin ketiga pernyataan bersama, NU dan Muhammadiyah juga berkomitmen menjalin kerja sama di bidang pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Khusus bidang pendidikan, NU dan Muhammadiyah akan mengembangkan pendidikan di pesantren dan perguruan tinggi.

“Meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang konstruktif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun masyarakat yang makmur baik material maupun spiritual, serta peran politik  kebangsaan melalui program pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan bidang-bidang strategis lainnya. Komunikasi dan kerjasama tersebut sebagai perwujudan ukhuwah keumatan dan kebangsaan yang produktif untuk kemajuan Indonesia,” bunyi poin ketiga.

Dalam kesempatan yang sama kepada wartawan, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyoroti kondisi persatuan di masyarakat yang dipengaruhi pola pikirnya tentang agama. Menurut Kiai Said, sebagian masyarakat memahami agama secara sempit sehingga pemikiran radikal kerap muncul.

“Belakangan ini kita rasakan ada suatu yang aneh, ada sesuatu yang dari luar, sebagian saudara kita jadi radikal, keras, ini sama sekali tak menunjukkan watak kepribadian bangsa Indonesia,” terang Kiai Said.

 

 

Sumber : NU Online

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar