Memahami Kembali Kalimat Syathahat Para Sufi

Tasawuf merupakan jalan hidup dan cara tertentu dalam tingkahlaku manusia, dalam upayanya merealisasikan kesempurnaan moral, pemahaman tentang hakekat realitas, dan kebahagiaan rohaniah. Kadang-kadang rumit untuk diterangkan secara detail, karena fenomena-fenomena yang terdapat di dalamnya merupakan kondisi perasaan (state of feeling) yang susah untuk dipahami. Salah satu kondisi perasaan yang sulit dipahami tersebut adalah ucapan-ucapan asing yang dilontarkan oleh para Sufi ketika mengalami pengalaman ekstase (Wajd) yang luar biasa dengan Tuhan, yang disebut Syathahat. Namun kemudian, ucapan-ucapan tersebut diingkari ketidakbenarannya dan diyakini bahwa orang yang mengucapkannya adalah kafir.

Salah satu tujuan Sufi yang kadang-kadang dicapainya melalui mujahadah secara terus-menerus adalah fana’, yaitu peleburan yang diikuti oleh kebertahanan dalam Allah (baqa’), menurut Abu Bakar al-Kalabadzi (w. 378/988 M) baqa’ adalah hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaan dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu. Dan pengalaman yang kedua ini (baqa’) selalu dianggap sebagai suatu tindakan bebas karunia Ilahi, yang memasuki manusia, dan pengalaman yang seperti ini sering disebut dengan ekstase (Wajd), yaitu menemukan Tuhan dan menjadi tenang dan damai setelah mendapatkan-Nya. Dan karena kebahagiaan yang melebihi segalanya disebabkan oleh penemuan (Wajd) itu, kemungkinan manusia dapat kegilaan dalam kebahagiaan yang berlebih itu. Dan ini merupakan salah satu kondisi perasaan (states of feeling) yang agak rumit diterangkan pada orang lain secara detail kata-kata apapun adalah seperti Syathahat.

Syatahat sendiri biasanya terjadi pada para pemula dalam pendakian ruhani, dimana ia dimaksudkan bisa sampai pada puncak kesempurnaan, maka awal pendakiannya sebagai akhir dari sebuah keinginan (iradah) nya. Maknanya adalah, permualaan dari sebuah puncak akhir dan kesempurnaan. Dan ketika para sufi mencapai pada puncak akhir dan kesempurnaan tersebut adalah kesempurnaan penyatuan antara manusia dan Tuhan. Maka mulailah mereka mengungkapkan tentang Wajdnya yang sedang meluap itu dengan ungkapan yang aneh untuk didengar oleh pendengarnya.

Problem mengenai Syathahat ini bukanlah merupakan hal yang baru bagi para sufi. Maka, muncullah Abu Nashr As-Sarraj At-Thusi (wafat tahun 378 H) dengan membawa gagasan mengenai Syathahat yang merupakan persoalan yang rumit di zamannya, Carl W Ernst mengungkapakan bahwa ia telah mengembangkannya secara menarik untuk memahaminya, sehingga penjelasan yang ditawarkannya menjadi bentuk yang paling awal dari beberapa penjelasan yang semacam itu. Dalam bukunya Al-Luma’, secara khusus ia menafsirkan Syathahat para sufi dan memberikan jawaban terhadap mereka yang mengingkari ucapan-ucapan seperti ini yang secara dhahirnya adalah tidak benar akan tetapi secara batin adalah benar.

Abu Nashr As-sarraj At-Thusi, seorang sufi abad keempat hijriyah dilahirkan di Thus, ia adalah seorang sufi sekaligus penulis sistematis terdahulu tentang sufisme yang banyak membicarkan tentang kajian tasawwuf pada masanya yang penuh dengan penyimpangan dalam aqidah dan ajaran kaum sufi, terutama penyimpangan orang-orang yang mengaku sebagai bagian dari mereka. Dalam bukunya Al-Luma’ ia meletakkan dasar-dasar ajaran tasawwufnya, termasuk penjelasan tentang Syatahahat Sufiyah. Gagasan-gagasan yang dituangkan As-Sarraj at-Thusi dalam karya besarnya Al-Luma’ merupakan warisan tasawwuf Islam yang sangat gemilang dan agung, setiap lembaran-lembarannya telah dijadikan sebagai rujukan dalam perguruan-perguruan tinggi yang meluluskan para sarjana besar.

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar