Saat Otoritas Dakwah Berubah Haluan

Dakwah merupakan bagian penting dalam islam. Dalam sejarah islam, setelah wafatnya para nabi dan rasul, tugas dakwah diemban para ulama yang mumpuni dan teruji di bidang ilmu-ilmu keagamaan. Sesuai dengan hadits nabi yaitu  ‘al-‘ulama waratsatu al-anbiya’, ulama adalah penerus para nabi. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ulama memiliki otoritas keagamaan yang kuat setelah nabi muhammad saw.

Peran ulama amatlah penting untuk memberikan wawasan keislaman yang komprehensif dikalangan umat muslim. Sebagai rujukan dan tempat bertanya umat, ulama haruslah orang-orang yang otoritatif dalam berdakwah, yaitu mereka yang telah mendalami keilmuan islam dalam jangka waktu cukup lama dan tidak instan, dari sanad atau lembaga pendidikan keagamaan terpecaya. Selain kedalaman ilmu, mereka juga haruslah berkepribadian islami yang tercermin dalam kata dan laku sehingga bisa menjadi teladan bagi masyarakat luas.

Namun, diera digital, dakwah terus mengalami transformasi, baik dari aspek penyampai pesan maupun kontennya. Bagaimana tidak, pada era ini, banjir saluran informasi keagamaan tak bisa dihindari. Terlebih melalui media sosial (medsos) seperti instagram, facebook, youtube, twitter, line, maupun link-link pesan instan di grup-grup whatsapp. Konten-konten agama menyebar tanpa filter.

Alhasil, ‘ulama instan’ bermunculan dan menjadi populer lantaran saluran-saluran itu. Para ‘ulama instan’ dengan segala ‘pengetahuan agama’ yang dibawanya itu bermunculan tanpa kontrol dan sukses menciptakan ‘islam pamflet’; yakni islam yang dikemas sederhana, singkat, dan menarik. Persis seperti di pamflet. ‘islam pamflet’ sudah menjadi komoditas yang diperjual belikan, baik dalam industri hiburan maupun kegiatan-kegiatan keagamaan ditengah masyarakat muslim indonesia.

Para penerima pesan dakwah (mad’u), terutama generasi muda perkotaan banyak yang tertarik mendengarkan dan mempraktikkan ‘islam pamflet’ ini. Mereka menjadikan ‘ulama instan’ hasil olahan medsos itu sebagai rujukan utama dalam keseharian mereka. Sayangnya, sejumlah pesan itu tak senantiasa sejalan dengan nilai-nilai islam yang berlandaskan al-qur’an, hadits, dan nafas islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Kecenderungan ‘islam pamflet’ ini terutama sekali sangat berpengaruh pada kalangan muda muslim atau populer disebut generasi milenial. Hal ini terjadi karena peran medsos amat kuat dan tak terpisahkan dalam keseharian mereka. Menurut survei centre for strategic and international studies (csis) pada 2017, generasi muda indonesia adalah generasi muda yang paling aktif menggunakan medsos dibanding dengan negara-negara lain di asia, yaitu sebesar 87,4%.

Selain itu, survei the wahid foundation (2016) terhadap 1.600 siswa di wilayah jabodetabek juga memperkuat temuan csis tersebut. Sebanyak 38% siswa sma sederajat aktif kegiatan rohani islam (rohis) menggunakan instagram setiap hari dan 14% diantaranya menggunakan linkedin setiap hari.

Temuan tersebut membuktikan betapa kuat pengaruh media sosial bagi milenial muslim. Hal ini tentu berdampak tehdap pola pikir dan perilaku keagamaan mereka. Sekaligus menunjukkan bahwa sumber tertulis (buku, buletin, majalah), media audio visual (radio, televisi, cd/dvd/vcd) dan sumber lisan (ustadz/mubalig/dai) yang otoritatif tetapi gagap teknologi (gaptek dan gagap media sosial sudah terpinggirkan dan tergantikan oleh mereka yang sadar medsos.

Karenanya, mengembalikan peran sumber keagamaan yang otoritatif ditengah derasnya globalisasi informasi dikalangan muslim milenial sangatlah penting. Dari sisi generasi milenial, mereka harus disadarkan agar peka memilih ustadz atau ulama yang mumpuni dibidangnya. Ulama yang juga memiliki wawasan kemasayarakatan dan keindonesiaan serta sudah terbiasa terjun langsung ditengah masayarakat menjadi mujahid dakwah yang mendidik, mengajarkan, dan menyebarkan pesan islam ramah dan damai bersumberkan pada al-qur’an dan sunnah.

Selain itu, ulama ini juga, pada saat yang sama, memiliki sikap istiqomah dalam menjaga moralnya diruang publik. Ini karena, sekarang kita bisa temukan “ulama” yang hanya fasih dan merdu mengumandangkan ayat-ayat suci al-qur’an dan menyampaikan pesan-pesan sunnah, tetapi abai dan lalai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi ulama maupun ustadz zaman now penting untuk tak hanya bisa bedakwah secara konvensional dari mimbar ke mimbar, dari pengajian ke pengajian, tetapi juga mennguasai medsos dan ikut menggunakannya dalam menyampaikan pesan dakwah yang akurat dan mendalam tapi cukup mudah dicerna generasi milenial. Peran ulama yang seperti ini akan mengantarkan generasi milenial menjadi generasi cerdas, religius, dan bertanggung jawab dalam ikut membangun masayarakat dan bangsa indonesia yang nyaman dan damai bagi semua kalangan.

(Vika Nurul Mufidah)

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4
Bagikan ke:

Komentar

komentar