Sanad Keilmuan Ustadz Google

pada zaman digital dan era medsos seperti saat ini, dunia seperti ada dalam kotak persegi panjang yang dapat digenggam setiap saat, ponsel, handphone. darinya, manusia melihat apa yang terjadi dibelahan dunia yang bermil-mil jauhnya menjadi sangat dekat. tak hanya bisa disaksikan, juga dihadirkan dalam ruang kehidupan kita. seperti ingin menikmati kuliner, ingin berlibur, atau membeli barang-barang yang dibutuhkan. dengan hanya “Menyentuh” layar kaca itu, semua akan sampai di depan pintu rumah, tak perlu bermacet-macet atau mengantre.

pertanyaannya, apakah semua relasi manusia saat ini berwujud digital? Dan, apakah media digital itu bisa menyelesaikan semuanya?

salah satu relasi manusia adalah proses belajar. harus diakui saat inipun, proses belajar mengajar sudah banyak berbasis e-learning. begitupula dengan gelaran ilmiah, konferensi, seminar, dialog dan wawancara yang tidak mensyaratkan tatap muka langsung. revolusi teknologi telah banyak membuat manusia lebih mudah dengan urusannya.

lantas, bagaimana dengan belajar agama? jika dahulu kita harus datang ke guru, ustadz, atau kiai untuk bertanya soal agama, maka peran itu sekarang banyak digantikan oleh ustadz google. ya, google hanya dengan mengetikkan satu kata kunci di mesin pencarian, topik yang kita inginkan langsung muncul begitu saja. sangat mudah, bukan ?

sekarang ini, semangat mencari dan berbagi ilmu agama lewat daring (online) sedang ngehits. mereka bisa menuliskan, merekamnya dan menggugahnya di youtube atau dengan cara siaran langsung, live streaming. begitu mudahnya akses belajar agama, mudahnya mencari jawaban atas persoalan keagamaan, kita menjadi seperti berbelanja dipasar bebas. ibaratnya kita datang ke supermarket yang menjajakan dagangannya. bedanya, barang-barang yang dijual disupermarket sudah terpilih dan konsumen mudah memilihnya karena kasatmata.

Hal tersebut berbeda dengan pengetahuan agama yang bersifat ilahiah, sehingga terbuka ruang penafsiran. oleh karena keterbukaannya yang sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu para pengakses mendapat banyak argumentasi keagamaan yang amat beragam. dari yang bertutur lembut hingga yang bernada tinggi, sehingga tampak seperti marah-marah, seolah benar sendiri. bila beruntung, konsumen juga bisa berdialog online, langsung dengan sang ustadz.

Dahulu, setiap proses pencarian ilmu agama, ada perjumpaan antara guru dan murid. bahkan, terhadap informasi yang diterima, terkadang perlu dikonfirmasi hingga bertahun-tahun. salah satu muhaddits terkenal, misalnya imam bukhari lebih dari 16 tahun berkeliling untuk memastikan kedudukan, kepastian, dan kebenaran suatu berita dari Nabi SAW.

Bandingkan dengan generasi zaman now yang begitu mudah mem-forward kabar berita nyaris tanpa klarifikasi. berita-berita yang dishare itu meliputi berbagai jenis informasi, termasuk soal agama. pengalaman penulis, banyak membaca yang langsung percaya ketika membaca kabar berita baru. apalagi, jika tidak ada yang mengklarifikasinya. kemudahan akses informasi via gawai itulah faktor penyebabnya. kemajuan teknologi agaknya telah mengikis ruang-ruang sakral dan privat menjadi sangat terbuka. siapa saja bisa mengakses. inilah pasar bebas itu. ironisnya, sejumlah media bias pemberitaannya, sangat bergantung pada pemiliknya. tak lagi mengedepankan kaidah-kaidah jurnalistik.

Bagaimana dengan pengetahuan agama? sektor ini pun tak luput dari kecenderungan tersebut. masyarakat terkotak-kotak dengan ustadz idolanya masing-masing. sering pula muncul labelling orang yang tidak menyukainya, bukan dari referensi pengetahuan agama. pendek kata, agamaku dari guru digital dan status online.

Dialog tak lagi terjadi antara sang murid dan sang guru, lantaran para pembelajar agama itu nyaris tidak mengalami perjumpaan dengan gurunya. sering saya jumpai, dalam informasi-infromasi keagamaan itu, sang ustadz hanya menampilkan foto dirinya, atau malah tidak sama sekali. hanya tanya, lalu jawab. jarang juga, di media sosial seorang ustadz atau ustadzah menjelaskan latar belakang pendidikannya. kalaupun ditampilkan, pembaca mungkin tak sempat membacanya karena yang mereka perlukan, hanyalah jawwaban atas masalah keagamaan yang mereka gusarkan.

Benarkah dalam belajar agama, seseorang harus mempunyai sambungan pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan? jawabnya tentu saja ya. pengetahuan yang diperoleh hendaknya tersambung kepada nabi saw. karena, dari sanalah pengetahuan agama pertama kali diperoleh. ulama besar imam syafi’i mengatakan, tiada ilmu tanpa sanad. begitu pula kata imam al-tsauri “menuntut ilmu tanpa sanad bagaikan seseorang yang ingin menaiki atap rumah tanpa tangga.”

Selama ini, mungkin kita hanya mengenal sanad dalam literatur hadits. sanad dimaksudkan sebagai hasil pelacakan autentik terhadap perawi atas kekuatan perolehan matan atau redaksi hadits dari nabi SAW. sanad juga bisa dimaksudkan sebagai ketersambungan pengetahuan dari seseorang kepada gurunya, hingga kepada nabi SAW.

Menuntut ilmu pada zaman milenial dianggap tidak praktis jika harus selalu bertemu sang ustadz. apalagi, rasa ingin tahu anak muda itu begitu kuat dan harus segera menemukan jawabannya. keingintahuan generasi milenial ini dijawab di pasar bebas digital dengan google yang menghidangkan santapan spiritual siap dilahap pembacanya.

Namun, muatan-muatan spiritual itu bisa saja menghadirkan interpretasi-interpretasi yang berbeda-beda. persoalan agama tidaklah cukup dengan bacaan-bacaan bebas di dunia daring. hal itu karena sang ustadz seringkali meninggalkan teks-teks bacaan itu begitu saja dan tak bisa didialogkan. kalaupun adan menu tanya jawab daring, para ustadz itu pun tidak selalu bisa online dan langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Apa yang tersurat dalam bacaannya kadang belum bisa dipahamkan, karena itu perlu ditanyakan. kehadiran ustadz atau guru dipandang penting agar seseorang tidak berguru kepada benda mati. Almarhum Habib Munzir Al-Musawa (wafat 2013) pemimpin majelis dakwah yang banyak digandrungi anak-anak muda itu pernah memberi nasehat tentang pentingnya guru.

“orang yang beguru kepada buku saja, maka dia tidak akan menemukan kesalahannya. buku tidak dapat menegur, sedangkan guru bisa menegur jika dia salah. jika tidak paham, dia bisa betanya. sebaliknya, berguru pada sebuah buku, jika pembacanya tidak paham dia mungkin hanya terikat pada pemahamannya sendiri. oleh karena itu, seseorang haruslah punya guru, tempat dia bertanya. guru juga bisa menegurnya jika dia salah memahami.”

Guru tak hanya soal kekayaan ilmu, juga soal keteladanan. kita tak hanya mempelajari pengetahuan yang dimilikinya, tapi juga perilaku dan keteladanannya. artinya, kecendrungan bertanya soal agama lewat media sosial tanpa mencermati siapa yang membawanya dan mengonfirmasi isinya merupakan hal-hal yang mestinya dihindarkan.

Kini, seiring kemajuan zaman, sang ustadz bisa menjumpai komunitas daring (online) murid-muridnya, tanpa harus datang kemajelis pengajian atau kerumahnya. lihatlah model pengajian online dengan kiai online. sebagai contoh ulil abshar abdalla dengan pengajian kitab ihya ulumuddin, yang melakukan “kopi darat” dengan santri-santri onlinenya.

Disinilah sanad online bertemu karena pengajaran agama sangat mudah diakses, gurunya bisa ditemui, mampu, dan bisa merespond murid-muridnya. sang murid atau santri juga bisa bertanya di mana dan bagaimana gurunya atau dainya memperoleh ilmu pengetahuan. demikian pula gairah generasi milenial mengaji sekrang ini. tantangan ini perlu dijawab dengan tepat, dengan menyediakan guru-guru mengaji yang terpercaya sanad keilmuan dan silsilah gurunya agar pengajian agama benar-benar menjadi rahmat bagi semesta.

 

(Vika Nurul Mufidah)

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5811
Bagikan ke:

Komentar

komentar