Resapi 5 Nasihat Gus Miek Ini Untukmu yang Berstatus sebagai Santri

Rasulullah pernah bersabda bahwa agama adalah nasihat. Meskipun Gus Miek jenis wali yang nyeleneh (malamatiyah), beliau tetap peduli terhadap umat. Itu terbukti dari nasihat-nasihatnya di pengajian-pengajian dan “dunia malam” untuk umat Muhammad. Berikut ini 5 nasihat Gus Miek beserta komentar saya (jika diperkenankan atau abaikan jika tidak nyambung. Hehe):

1. Curhat via Al-Quran
“Satu-satunya tempat yang baik untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah Majelis Sema’an Al-Qur’an. Hal ini tertera di dalam (kalau tidak salah) tiga hadis, antara lain: Man arada an yatakallama ma’a Allah falyaqra’il Quran (siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, bacalah Al-Qur’an).

Nasihat ini dialamatkan kepada mereka yang suka galau agar mendekat kepada Al-Quran, membacanya, mendengarkannya, mengkajinya, menghafalnya, karena Al-Quran mengandung berkah, ibadah, dan media berkomunikasi dengan Allah.

2. Ilmunya sampai Dhat Saja
“Huruf hijaiyah itu ada banyak ada ba’, jim, dhat, sampai ya’. Demikian juga dengan taraf ilmu seseorang. Ada orang yang ilmunya cuma sampai ba’, ada orang yang ilmunya sampai jim, ada orang yang ilmunya sampai dhat saja. Nah, orang yang ilmunya seperti itu tidak paham kalau diomongi huruf tha’, apalagi huruf hamzah dan ya’.”

Pesan ini mengajarkan kita agar tidak sombong dan supaya rendah hati, karena di atas langit ada langit, wafauqa kulli dzi ilmin alim (di atas setiap orang alim ada Yang Mahaalim).

 

3. Dana yang Benar-benar Halal
“Akhirnya (maaf), kita menyadari bahwa kaum ulama, lebih-lebih seperti saya, dituntut untuk menggali dana yang lebih baik, dana yang benar-benar halal, kalau kita memang mendambakan rida Allah.”

Kritik ini ditujukan kepada Gus Miek sendiri dan para kyai dan dai agar benar-benar mencari harta yang halal serta tidak mengkomersialkan dakwahnya agar bisa meraih rida Allah.

4. Plus-Minus Ragam Pesantren

“Para santri itu lemah pendidikan keterampilannya. Sudah terlanjur sejak awalnya begitu. Tapi Alhamdulillah, di pesantren-pesantren seperti Gontor dan Pondok Pabelan diajarkan keterampilan-keterampilan. Di sana, keterampilannya ada, tapi wiridannya tidak ada. Saya senang pesantren yang ada wiridannya.”

Nasihat ini telaah kritis Gus Miek terhadap plus-minus ragam pesantren. Ada pesantren yang fokus ke peng(k)ajian kitab kuningnya saja, tanpa dibekali ketrampilan bahasa asing, wirausaha, dll. Sebaliknya ada pesantren yang fokus kepada ketrampilan-ketrampilan minim wiridan. Alangkah bagusnya jika keduanya diseimbangkan di seluruh pesantren Indonesia, baik pesantren salaf maupun pesantren modern.

 

5. Keteladanan
“Hidup itu yang penting satu: keteladanan.”

Singkat padat, itulah pesan kelimanya. Terlebih di zaman sekarang, keteladan sangat susah dicari. Banyak orang pandai dan alim tapi tidak bisa diteladani. Pesan ini sepertinya mengacu kepada firman Allah: “Laqad kana lakum fi rasulillah uswatun hasanah” (Pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang yang baik bagimu) (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

 

Sumber ; Datdut.com

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Bagikan ke:

Komentar

komentar