Inilah Peringatan Ulama Salaf Tentang Bahayanya Wahabi

Tentang bahaya Wahabi yang wajib kita ketahui. Sahabat yang ku muliakan, semoga cahaya keagungan ilahi selalu mengantarkan kita semua pada gerbang ketaqwaan dan samudera keistiqomahan dalam mencapai cinta Allah yang abadi sepanjang waktu dan zaman.

Akhir ini kita melihat bagaimana fitnah keji akan akidah umat dikoyak koyak oleh kelompok yg mengatas namakan sunnah. Mereka seperti Khawarij dimasa lalu yang sangat mudah membid’ahkan, mensesatkan bahkan mengkafirkan sesama muslimnya.

Mereka menyerupakan Allah dengan makhluk, menghina Rasulullah bahkan mengacaukan syariat dengan mudahnya berfatwa ini haram ini halal itu fi naar itu halal darahnya.

Para Ulama Salaf hingga ulama akhir zaman sudah memperingatkan akan bahaya virus wahabiyah, berikut kutipan mereka:

Peringatan Dari Ulama Salaf Tentang Bahaya Wahabiyah:

1. Ulama Madzhab Syafi’i

Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata:

وَكَانَ السَّيِّدُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْأَهْدَلُ مُفْتِيْ زَبِيْدَ يَقُوْلُ: لاَ يُحْتَاجُ التَّأْلِيْفُ فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ، بَلْ يَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم سِيْمَاهُمُ التَّحْلِيْقُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ اهـ (السيد أحمد بن زيني دحلان، فتنة الوهابية ص/٥٤).

“Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).

2. Ulama Madzhab Maliki

Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

3. Ulama Madzhab Hambali

Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, Muhammad bin Abdul Wahab sebagai berikut:

عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥). “

Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah.

Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya.

Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi.

Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya.

Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

Pendapat Ulama lain mengenai bahaya Wahabiyah:

1. Dr. Ali Jumah, mufti Mesir mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan militan dan teror.

2. Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar mengatakan bahwa Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada manhaj salaf.

3. Dr. Yusuf Qardawi, intelektual Islam produktif dan ahli fiqh terkenal asal Mesir, mengatakan bahwa Wahabi adalah gerakan fanatik buta yang menganggap dirinya paling benar tanpa salah dan menganggap yang lain selalu salah tanpa ada kebenaran sedikitpun. Gerakan Wahabi di Ghaza, menurut Qardawi, lebih suka memerangi dam membunuh sesama muslim daripada membunuh Yahudi.

4. Dr. Wahbah Az-Zuhayli (وهبة الزحيلي), mufti Suriah dan ahli fiqh produktif, menulis magnum opus ensiklopedi fiqh 14 jilid berjudul Al Muwsuatul Fiqhi al-Islami (الموسوعة الفقه الإسلامي ) . Az-Zuhayli mengatakan seputar Wahabi Salafi (yang mengafirkan Jama’ah Tabligh): “mereka [Wahabi] adalah orang-orang yang suka mengkafirkan mayoritas muslim selain dirinya sendiri.”

5. Syekh Hisyam Kabbani, ketua tariqah Naqshabandi dunia, mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan neo-Khawarij. Yaitu aliran keras yang menghalalkan darah sesama muslim dan terlibat dalam pembunuhan khalifah ke-3 Utsman bin Affan.

6. Syekh Muhammad Al-Ghazali, ulama berpengaruh Mesir, termasuk salah satu pengeritik paling keras gerakan Wahabi. Dalam kitabnya yang berjudul “Al Wahhabiyah Tusyawwihul Islam wa Tuakhirul Muslim” (Wahabi menistakan Islam dan membuat muslim terbelakang) Al-Ghazali menuangkan sejumlah kritikan pada Wahabi baik yang ditulis oleh dirinya sendiri maupun yang dikutip dari ulama dan intelektual Mesir yang lain.

Al-Ghazali antara lain menyatakan: Agama yang diserukan oleh sekelompok suku Baduwi ini (maksudnya Muhammad bin Abdul Wahab) adalah agama lain yang berbeda dengan agama Islam yang kita ketahui dan kita muliakan.

7. Peringatan Dari Hadratus Syaikh Hasyim Asyari Atas Bahaya Wahabi

Berikut teks penjelaskan Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam رِسَالَةُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ atau Risalatu Ahlissunnah wal Jama’ah:

فصل: في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء ظهور البدع وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان

Pasal : Menjelaskan Penduduk Jawa Berpegang kepada Madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah dan Awal Kemunculan Bid’ah dan Meluasnya di Jawa serta Macam-macam Ahli Bid’ah di Zaman ini

قد كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي الآراء والمذهب ومتحدي المأخذ والمشرب، فكلهم في الفقه على المذهب النفيس مذهب الإمام محمد بن إدريس، وفي أصول الدين على مذهب الإمام أبي الحسن الأشعري، وفي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام أبي الحسن الشاذلي رضي الله عنهم أجمعين

Umat Islam yang mendiami wilayah Jawa sejak zaman dahulu telah bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya. Di bidang fiqh, mereka berpegang kepada madzhab Imam Syafi’i, di bidang ushuluddin berpegang kepada madzhab Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan di bidang tasawwuf berpegang kepada madzhab Abu Hamid al-Ghazali dan Abu al-Hasan asy-Syadzili, semoga Allah meridhai mereka semua.

ثم إنه حدث في عام الف وثلاثمائة وثلاثين أحزاب متنوعة وآراء متدافعة وأقوال متضاربة، ورجال متجاذبة، فمنهم سلفيون قائمون على ما عليه أسلافهم من التمذهب بالمذهب المعين والتمسك بالكتب المعتبرة المتداولة، ومحبة أهل البيت والأولياء والصالحين، والتبرك بهم أحياء وأمواتا، وزيارة القبور وتلقين الميت والصدقة عنه واعتقاد الشفاعة ونفع الدعاء والتوسل وغير ذلك.

Kemudian pada tahun 1330 H timbul berbagai pendapat yang saling bertentangan, isu yang bertebaran dan pertikaian di kalangan para pemimpin. Diantara mereka ada yang berafiliasi pada kelompok Salafiyyin yang memegang teguh tradisi para tokoh pendahulu.

Mereka bermadzhab kepada satu madzhab tertentu dan berpegang teguh kitab-kitab mu’tabar, kecintaan terhadap Ahlul Bait Nabi, para wali dan orang-orang salih. Selain itu juga tabarruk dengan mereka baik ketika masih hidup atau setelah wafat, ziarah kubur, mentalqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafaat, manfaat doa dan tawassul serta lain sebagainya

ومنهم فرقة يتبعون رأي محمد عبده ورشيد رضا، ويأخذون من بدعة محمد بن عبد الوهاب النجدي، وأحمد بن تيمية وتلميذيه ابن القيم وعبد الهادي

Diantara mereka (sekte yang muncul pada kisaran tahun 1330 H.), terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.

فحرموا ما أجمع المسلمون على ندبه، وهو السفر لزيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، وخالفوهم فيما ذكر وغيره

Mereka mengharamkan hal-hal yang telah disepakati oleh orang-orang Islam sebagai sebuah kesunnahan, yaitu bepergian untuk menziarahi makam Rasulullah Saw. serta berselisih dalam kesepakatan-kesepakatan lainnya.

قال ابن تيمية في فتاويه: وإذا سافر لاعتقاد أنها أي زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم طاعة، كان ذلك محرما بإجماع المسلمين، فصار التحريم من الأمر المقطوع به

Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Fatawa-nya: “Jika seseorang bepergian dengan berkeyakinan bahwasanya mengunjungi makam Nabi Saw. sebagai sebuah bentuk ketaatan, maka perbuatan tersebut hukumnya haram dengan disepakati oleh umat Muslim. Maka keharaman tersebut termasuk perkara yang harus ditinggalkan.”

قال العلامة الشيخ محمد بخيت الحنفي المطيعي في رسالته المسماة تطهير الفؤاد من دنس الإعتقاد: وهذا الفريق قد ابتلي المسلمون بكثير منهم سلفا وخلفا، فكانوا وصمة وثلمة في المسلمين وعضوا فاسدا

Al-‘Allamah Syaikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya Thathhir al-Fuad min Danas al-I’tiqad (Pembersihan Hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa: “Kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun khalaf. Mereka adalah duri dalam daging (musuh dalam selimut) yang hanya merusak keutuhan Islam.”

يجب قطعه حتى لا يعدى الباقي، فهو كالمجذوم يجب الفرار منهم، فإنهم فريق يلعبون بدينهم يذمون العلماء سلفا وخلفا

Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Mereka laksana penyandang lepra yang mesti dijauhi. Mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka. Hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun khalaf

ويقولون: إنهم غير معصومين فلا ينبغي تقليدهم، لا فرق في ذلك بين الأحياء والأموات يطعنون عليهم ويلقون الشبهات، ويذرونها في عيون بصائر الضعفاء، لتعمى أبصارهم عن عيوب هؤلاء
Mereka menyatakan: “Para ulama bukanlah orang-orang yang terbebas dari dosa, maka tidaklah layak mengikuti mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.” Mereka menyebarkan (pandangan/asumsi) ini pada orang-orang bodoh agar tidak dapat mendeteksi kebodohan mereka

ويقصدون بذلك إلقاء العداوة والبغضاء، بحلولهم الجو ويسعون في الأرض فسادا، يقولون على الله الكذب وهم يعلمون، يزعمون أنهم قائمون بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، حاضون الناس على اتباع الشرع واجتناب البدع، والله يشهد إنهم لكاذبون.

Maksud dari propaganda ini adalah munculnya permusuhan dan kericuhan. Dengan penguasaan atas jaringan teknologi, mereka membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menyebarkan kebohongan mengenai Allah, padahal mereka menyadari kebohongan tersebut. Menganggap dirinya melaksanakan amar makruf nahi munkar, merecoki masyarakat dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syariat dan menjauhi kebid’ahan. Padahal Allah Maha Mengetahui, bahwa mereka berbohong.

1. “Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Syam, Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Yaman: Mereka berkata: Ya Rasulullah doakan di negeri Najd pula. Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Syam, Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Yaman. Ya Rasulullah doakan di negeri Najd pula. Kemudian Rasulullah bersabda di sanalah berlaku: Zalazilu wal fitan (malapetaka dan fitnah) dan di sana juga munculnya tanduk syaitan“

Derajat Hadits.

Hadits ini adalah hadits sahih di keluarkan oleh Imam Bukhari No: 1037 – Bab Zalazil juga oleh Imam Muslim: “Kitab Haji” No: 476, Imam Ahmad Juz 2, 3, 6, dan juga “Al-Muntaq’ Al-Hindi Kanzul Ummal” No: 35116 dan 38158 dan Ibnu Asakir di dalam ”Tahzib Tarikh Damsyik “, Ibnu Hajar di dalam “Majumuk Zawaid”, Khatib Al-Baghadi ”Tarikh Bagdad”, Abu Nuim di dalam ”Hilyatul Awliya” juga Al-Munzir di dalam Targib wal Tarhib, Imam As-Sayuti ”Jamul Jawami” No: 9836.

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak mendoakan Najd (Riyadh) tiada ulama juga awliya, orang saleh di Najd (Riyadh), karena kawasan tersebut merupakan kawasan Badui dan jelmaan Syaitan dan munculnya malapetaka apa yang akan di sebut sebentar lagi sebagai TANDUK SYAITAN merupakan tempat tinggal Muhammad Abdul Wahab, Abul Azizi Al-Baz yang tinggal di Najd (Riyadh), juga Saleh Usaimin serta Musilamatul Kazab.

2. Bersabda Nabi: Fitnah terjadi dari Masyarik – di riwayatkan oleh Imam Bukhari ”Kitab Fitnah” Hadits No: 7092 bab ke 17.

3. Dari Salim dari Bapanya dari Nabi s.a.w. bahwasanya ia berdiri di sisi mimbar maka ia berkata: “Fitnah akan terjadi di sana dan munculnya tanduk syaitan atau tanduk matahari” – Di keluarkan oleh Imam Bukhari No: 7093. Kitab Khamis bab ke 4, Kitab Istaq bab 27, Kitab Fitan Bab 16, Kitab Talaq bab 25, Kitab Maghazi bab 74, Kitab Manaqib bab ke 5 dan Kitab Bade Kholaq bab 11, 15. Juga Riwayat Muslim No: 81 Kitab Fitan Hadits No: 44, 46-50. At-Tarmidzi di dalam Manaqib bab 73, Kitab Fitan Bab 79, Al-Muwatuk: Kitab Isti’ zak Hadits No: 29.

4. Dari Nafik bin Ibnu Umar beliau dengar nabi bersabda semasa menghadap ke Masyarik (timur):”Tidaklah fitnah itu akan berlaku di sana nanti – sehingga munculnya tanduk syaitan” Hadits Bukhari No: 7094, Hadits Muslim No: 81 [Sama seperti di atas]

5. Di dalam Musnad Imam Ahmad No: 3679 dari Ibnu Umar dari Nabi Bahwa baginda berdiri di pintu Sayyidatina ‘Asyiah maka ia menunjukkan tangannya ke Masyrik: lalu bersabda: “Fitnah akan terjadi di sana sehingga munculnya tanduk syaitan” – Isnad sahih –

6. Sabda Baginda s.a.w. “Akan muncul segolongan manusia dari Masyriq (Timur) mereka membaca Al-Quran akan tetapi tidak melebihi had, dan mereka akan keluar daripada agama (sesat) umpama tersesatnya anak panah yang keluar dari busurnya dan tanda-tanda mereka adalah mencukuri rambut (botak)”

7. Diriwayatkan oleh Abi Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w bahwasanya baginda bersabda “Ketua kaum kuffar di Masyriq (Nadj)”

8. Di dalam riwayat yang lain sabda baginda lagi ”Di sanalah akan keluar (munculnya) Tanduk Syaitan“

9. Sabda baginda lagi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ”Di sanalah (Masyriq) akan terjadi malapetaka dan fitnah”

Kesimpulan

Dalam meneliti dari pelbagai aspek seperti nahwu, sorof dan di mana baginda bersabda. Nabi berkata (Keluar atau Muncul ) adalah Fi’il Mudhar’ yang memberi arti: terus menerus atau berturut-turut, kini dan akan datang. Jadi bisa kita pahami bahwa setelah Musilamatul al-Kazab di Najd (Riyadh) akan muncul pula segolongan dari umat ini secara terus menerus dari TEMPAT YANG SAMA, DAN BERTERUSAN antara golongan yang pendusta agama yang TELAH muncul di Nadj (Riyadh) adalah:

Musilamatul Kazab – Nadj (Riyadh) Zul-Khuwaisirah at-Tamimi ketua Khawarij – Nadj (Riyadh) Kasib bin Rabi’ – Nadj (Riyadh)Misar bin Fadki – Nadj (Riyadh)Al-Qaramitah – Nadj (Riyadh) dan YANG TERAKHIR Muhammad Abdul Wahab an-Najdi, dari Bani Tamim seperti juga golongan Khawarij yang berasal dari BANI TAMIM, besar kemungkinan mereka adalah SATU qabilah juga dari Riyadh

Syeikh Zaini Dahlan menyebutkan yang di maksudkan 2 tanduk syaitan dari Nadj (Riyadh) di dalam hadits itu adalah Musilamatul Kazab dan Muhammad Abdul Wahab.

Jadi Kelima golongan ini yang terkenal adalah Musailamah Al Kadzdzab yang di karuniai Irhas dan pada abad ini adalah Muhammad bin Abdul Wahab.

Di dalam sebuah hadits nabi yang begitu panjang menceritakan sekumpulan Pendusta Agama “Akan datang segolongan dari kamu mereka yang menyeru ajaran Tauhid tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa, mereka membaca Al-Quran tidak masuk ke tengorokan (bukan dari hati), dan mereka membaca Al-Quran tidak sama seperti kamu baca, mereka sembahyang tidak sama sebagaimana kamu sembahyang dan mereka berpuasa tidak sama seperti kamu puasa, mereka sesat dari agama Islam seperti tersasarnya panah dari busurnya, kemudian nabi memberikan bentuk fisiknya, mereka mencukur rambut dan misai, manakala jubahnya di pertengahan betis kemudian mereka membunuh serta menuduh orang-orang Islam adalah penyembah berhala. Kemudian nabi menyuruh kita apabila kita bertemu mereka, maka hendaklah kita memerangi mereka maka barangsiapa yang memerangi mereka maka ia mendapat ganjaran yang besar, maka barangsiapa yang terbunuh maka ia syahid”

Hadits ini di keluarkan oleh Imam Bukhari di dalam ”Alamat Nubuwah” dan juga Imam Muslim di dalam “Kitab Zakat, bab Tahzir pakaian dunia” An-Nasa’i di dalam Khosis. Ibnu Majah Bab Khawarij, Hakim di dalam Al-Mustadrak juz 2, Tarikh Baghdad juzuk ke 1, Abu Nuim Hilyatul Awliya juz ke 4. Hadits ini adalah hadits sahih.

Keterangan:

Berdasarkan hadits ini maka tidak diragukan lagi golongan yang di maksudkan oleh nabi adalah salafi dan wahabi, karena apa? karena golongan wahabi dan salafi ini menyeru ke jalan Tauhid tetapi sia-sia. Golongan wahabi membaca Al-Quran dengan fasih dan lancar akan tetapi tidak masuk dalam hati mereka.

Setelah itu nabi pun menerangkan ciri-ciri mereka yaitu kepala botak, maka golongan wahabi dan salafi di Mesir, Saudi dan lain-lain semuanya botak jikalau ada rambut pun pendek, bagaimana dengan pakaian mereka? jikalau hendak melihat pakaian mereka sebatas betis konon hendak ikut sunnah, orang wahabi di Saudi pakai jubah di betis dan ciri yang terakhir mereka membunuh serta menuduh orang-orang Islam adalah penyembah berhala ciri inilah yang sering terjadi di Saudi yang mengatakan bid’ah, syirik atau peyembah berhala, sudah sekian banyak ulama yang telah di bunuh oleh golongan wahabi di Najd di antara ialah Syeikh Zamzami, syeikh Al Buthi dan banyak lagi yang telah menjadi korban.

 

Sumber Peci Hitam

Loading...
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *