Cahaya Ramadhan

Selain menjadi kewajiban, puasa Ramadhan sekaligus berfungsi sebagai guru pendidik bagi kita. Agar tercipta suatu naluri ketaqwaan dalam hati kita. Al-Quran yang merupakan cahaya petunjuk sempurna pun diturunkan pada bulan Ramadhan. Sedangkan petunjuk tidak akan mungkin diberikan kecuali kepada orang yang bertaqwa.

Hal ini mengadung pelajaran, bahwa menghidupkan bulan puasa dengan membaca, pelajaran dan memahami Al-Quran akan melahirkan cahaya berupa hidayah dalam hati. Atas dasar apa pemahaman itu? Mari kita bersama-sama mendayung perahu agar bisa berjalan mengarungi samudera keilmuan.

Hidayah adalah cahaya. Seorang yang berada dalam kegelapan tidak mungkin melihat tanpa adanya cahaya. Dunia ini sejatinya gelap gulita, dan menjadi terang benderang seperti yang kita lihat tidak lain karena cajaya Allah.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah cahaya langit dan bumi.’’ (An-Nur:35)

Lalu wujud apa cahaya Allah itu? Salah satu cahaya itu adalah Kalamullah Al-Quran al-Karim.

 وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

… dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Quran).” (An-Nisa:174)

Cahaya tidak mungkin didapatkan kecuali oleh orang yang mempunyai hati bersih dan bertaqwa. Taqwa adalah hasil dari adanya puasa yang benar, dan merupakan kendaraan yang mampu mengantarkan manusia menuju cahaya hidayah dan petunjuk Al-Quran.

Lalu bagaimana dengan puasa harfiy? Apakah menghasilkan ketaqwaan? Mari kita pahami dahulu apa itu harfiy, karena banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan balasan dari puasa yang dilakukan kecuali hanya lapar dan dahaga.

Puasa harfiy adalah puasa yang mencegah orang yang berpuasa dari syahwat perut dan kemaluan hanya pada siang hari, sedangkan pada waktu malam ia bagaikan budak perut dan kemaluan. Sedangkan puasa yang menghasilkan ketaqwaan adalah puasa yang disertai dengan niat dari hati untuk mensifati diri dengan sifat-sifat Allah (yang pantas untuk manusia) sesuai kadar kemampuanya.

Secara hakikat, puasa merupakan salah satu sifat ketuhanan. Tidak ada yang bersifat dengan sifat ini secara sempurna kecuali Allah, Dzat yang memberi makan, tetapi tidak makan dan tidak diberi makan.

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu .”(Al-Ikhlas:2)

Puasa adalah salah satu dari makna ‘Ash-Shamad’. Ini adalah makna dalam hadist Qudsiy yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Setiap amal anak adam itu untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan.’’

Dalam hadist itu, puasa disandarkan kepada allah. Dengan artian tidak ada yang bersifat puasa dengan sempurna kecuali Allah saja. Hal itu karena Allah tidak membutuhkan kepentingan maupun keinginan (syahwat) sejak azali dan selamanya. Sedangkan mahluk masih membutuhkan makan, menginginkan tercapainya kepentingan dan keinginan.

Inilah niat yang seharusnya diperhatikan, agar puasa kita juga berfungsi sebagai pemecah syahwat dan pemutus keinginan-keinginan duniawi. Bila hal ini tidak dilakukan dan tidak ada usaha dari kita, maka syahwat dan keinginan itu akan menjauhkan dan memutuskan diri kita dari Allah. Penyembah hawa nafsu itulah penyembah dan pengikut syahwatnya, dia diibaratkan oleh Al-Quran bahwa hewan ternah lebih mulia darinya. Wal-iyadzu Billah.

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” Al Furqon:43-44)

Oase Jiwa 2 hal.116 | Kanthongumur 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar