Imam Al-Bushiri dan Sholawat Burdahnya

Siapa tak kenal Burdah? Kalangan pesantren, masyarakat tradisional dan kaum Ahlussunnah wal Jamaah tentu sangat karib-akrab dan bahkan mendarahdaging dengan syair/qashidah ini. Sekurang-kurangnya sudah delapan abad bergulir tradisi Burdahan dilestarikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Syair Burdah yang berjumlah 163 bait ditulis oleh seorang pujangga yaitu Imam al-Bushiri, ia adalah seorang imam para penyair pujian untuk para kekasih Tuhan semesta alam, penyusun al-Burdah yang mulia yg merupakan qasidah paling terkenal dalam pujian kepada Nabi SAW dalam bahasa arab. Namanya Imam Muhammad bin Sa’id al-Bushiri.

Al-Bushiri memulai hidupnya dengan menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama dan bahasa arab. Lalu menempuh jalan tasawuf dengan bimbingan gurunya Abu al-Abbas al-Mursi. Kepenyairannya telah begitu detas mengilhamkan banyak qasidah puji-pujian untuk manusi termulia- semoga rahmat termulia dan salam paling sempurna tercurah kepada Rasulullah.

Ia wafat di Iskandariah tahun 696 H. Makamnya di Masjidnya disebuah pantai berhadapan dengan Masjid Abu al-Mursi. Banyak pecinta menziarahinya.

Kala itu al-Bushiri terkena penyakit lumpuh setengah badan. Tubuhnya yg kurus menanggung rasa sakit tak terkira. Para dokter tak mampu mengobatinya. Ketika penyakitnya ini amat memberatkan, ia bertekad menyusun qasidah pujia-pujian untuk Rasulullah SAW. Dengan qasidah ini ia berniat untuk memohon (kesembuhan) kepada Allah melalui syafaat Rasulullah SAW. Ia pun mulai menyusun qasidah itu yang dikenal sebagai “Burdah” (selimut).
Inilah bait pertama pada qasidah itu:

‎أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ

Ah, adakah aku mengenang seorang teman (Rasulullah SAW) di Dzi salami 
Engkau cucurkan air mata bercampur darah!

Ia menyanyikan dan melantunkan bait ini berulang-ulang, dan ia bertawasul kepada Allah melalui Nabi kita Muhammad SAW. Dalam upaya mengangkat penyakitnya. Ia banyak menangis dan berdoa. Ketika tidur, ia bermimpi berjumpa Rasulullah SAW. Denga tangan sucinya, Rasulullah mengusap bagian tubuh al-Bushiri yang amat sakit. Lalu beliau menyelimutkan kalimat kepada al-Bushiri.

Ketika bangun, al-Bushiri sudah sembuh dari penyakitnya, qasidahnya dinamai “Burdah” (selimut), karena qasidah ini dinisbahkan pada selimut Nabi Muhammad SAW, yg beliu lepaskan dari beliau dan beliau kenakan kepada al-Bushiri karena beliau kagum dengan qasidah al-Bushiri.

Burdah al-Bushiri, Dirasat Tarikhiyyah, Karya Muhammad Khalif Tsabit
Qisasul Auliya’ hal.284

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar