Koruptor Ditinjau dari Tiga Tingkatan Spiritual

Sedikitnya ada tiga tingkatan spiritualitas yang bisa menjadi pengukur di mana posisi koruptor yang tercatat beragama ‘Islam’ di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Tiga tingkatan spiritualitas tersebut adalah iman, islam dan ihsan.

Inti iman adalah percaya pada keberadaan Dzat Adi Kodrati. Dzat tersebut diyakini sebagai Yang Maha Baik. Ukuran keberimanan seseorang pada Dzat tersebut adalah kesabaran dan rasa syukur.

Orang yang tidak bersabar saat menghadapi kesulitan bukan orang beriman. Jika seseorang beriman (mu’min) pada Dzat Yang Maha Baik, niscaya dia tak mengeluh menghadapi cobaan. Dia tetap teguh dalam kondisi yang kurang kondusif karena dia yakin Tuhan Maha Besar dibandingkan persoalan sebesar apapun.

Ketika seseorang tidak bersabar menghadapi persoalan dan penuh keluhan, orang itu bisa terpeleset dari iman karena potensial melupakan Tuhan Yang Maha Besar dari apapun. Maka dari itu, sabar merupakan parameter keimanan seseorang.

Baca Juga :Dari Suap Syariah Sampai Naturalisasi

Pengukur keimanan kedua adalah syukur. Secara ringkas, syukur bisa dimaknai sebagai terima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikanNya. Orang beriman harus berterima kasih kepada Tuhan atas segala yang melekat dan melingkupi dirinya.

Ketika seseorang tidak bersyukur, dia akan gelisah dan melupakan anugerah Tuhan padanya yang disadarinya ataupun tidak disadarinya. Di situlah alasan mengapa syukur merupakan neraca bagi keimanan seseorang.

Di tingkatan lebih lanjut, seseorang seyogianya tak sekadar beriman, tapi juga berislam. Definisi singkat ‘orang Islam’ (muslim) versi Nabi Muhammad saw. adalah “man salima al-muslimûna min lisânihi wa yadihi“. Orang Islam adalah orang yang perkataan dan perbuatannya selamat dari keburukan.

Pada tingkatan lebih tinggi lagi, seseorang seyogianya sampai pada level ‘ihsan‘, yaitu “an ta’buda Allah kaannaka tarâhu. Wainlam takun tarâhu, fainnahu yarâka“. Artinya, orang yang berihsan, alias muhsin, adalah orang yang selalu merasa dekat dengan dan diawasi oleh Tuhan.

Bagaimana dengan koruptor? Apakah koruptor itu mukmin, muslim atau muhsin?

Koruptor adalah maling harta negara, tentu bukan seorang muhsin. Ketika dia mencuri uang rakyat, dia tak merasa bahwa Allah selalu mengawasi tindak tanduknya. Karena itu, koruptor bukan orang yang berihsan.

Apakah, dengan demikian, koruptor adalah muslim? Secara KTP, seorang koruptor mungkin tercatat sebagai orang beragama Islam. Tapi secara hakikat, koruptor bukan muslim. Mengapa? Sebab, seperti disinggung di atas, muslim adalah orang yang perkataan dan perbuatannya terjaga dari keburukan.

Di pihak lain, koruptor adalah pencuri. Jadi, tangannya kotor, penuh keburukan. Koruptor pun sangat potensial, bahkan cenderung aktual, dalam kebohongan. Ketika koruptor berbohong, koruptor pada hakikatnya bukan muslim, karena mulutnya tak terjaga dari keburukan.

Bila koruptor, secara hakikat bukan muslim apalagi muhsin, apakah koruptor masih layak disebut beriman? Nyatanya, koruptor adalah orang yang rakus. ‘Mayoritas’, untuk tidak mengatakan ‘semua’, koruptor adalah orang yang mapan secara ekonomi.

Para koruptor rata-rata kaya, tapi korupsi. Itu menunjukkan ketidakbersyukuran mereka atas nikmat yang telah mereka dapatkan. Itu juga menunjukkan ketidaksabaran mereka untuk memegang amanat dengan baik, tanpa tergoda hasrat yang salah. Mengingat sabar dan syukur adalah parameter iman, maka koruptor yang tidak bersabar dan tidak bersyukur, pada hakikatnya, tidak beriman.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa koruptor bukan mukmin, bukan muslim dan bukan muslim, meskipun berKTP ‘Islam’. Kalau kesimpulannya sedemikian rupa, layakkah kita membela koroptor berKTP ‘Islam’ dengan mengangapnya sebagai saudara seagama? (syiarNusantara)

Baca Juga :Wakil Rakyat Yang Korupsi Masuk Surga

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar