Mengenal Lebih Dekat Sosok KH. Umar Sholeh

Sejatinya mbah walid Umar tidak seperti yang dibayangkan orang sebagai pribadi yang tegas dan selalu berpegang teguh terhadap prinsip yang dianutnya. Dalam beberapa hal, Sikap dan pandangannya dinamis dan koopretif sebagaimana yang dilihat penulis di akhir kehidupannya. Dulu walid akan sangat tidak suka terhadap telivisi. Tapi 2 tahun terakhir beliau selalu pergi ke ‘ndalem’ kulon meminta dicarikan acara dunia dalam berita termasuk juga yang bersifat seni seperti  pertunjukan ketoprak Yogyakarta dan Semarang. Begitupun foto,  banyak santri-santri yang tidak berani memoto atau berfoto dihadapan beliau. Tapi saat-saat akhirnya beliau berkenan difoto dengan beberapa tokoh dan saat menikahkan putranya. Ini ditunjukkan dengan memajang foto-foto tersebut di dinding ruang tamu.

pict/online/kempek

Jika berpergian,  Beliau meminta dipakaikan celana panjang,  karena kondisi fisik sepuhnya lebih merasa nyaman dengan celana panjang, ini sesuatu yang jarang terlihat tatkala beliau muda.

Ketika beliau muda, diceritakan seorang alumni, beliau menghadiri  hajatan di suatu daerah. Melihat qori’ perempuan yang nembaca qur’an,  beliau langsung pulang kembali karena tidak berkenan. Dan saat saya menjadi menantu beliau, saya diminta semaan dihadapan beliau dan santri-santri putri. Tapi keesokan harinya beliau ngendikan : “gimana kalau pakai mik biar semua bisa mendengar?”

Pandangan dan visinya terhadap pendidikan juga terlihat kooperatif, terutama tentang keberadaan ustadz laki-laki yang mengajar di pondok putri. Tatkala besannya KH Fuad Amin sowan ke beliau untuk diperkenankan didirikan madrasah diniah Takhosus Putri dengan diperkenankannya ustadz laki-laki sebagai pengajarnya ,  mbah walid ngendikan : ‘ ya wes bokat wes zamane ‘… Hal lain adalah ketika ponakan-ponakan beliau meminta doa restu ketika hendak melanjutkan pendidikan di Timur Tengah,  beliau mendukungnya dan hanya berpesan : “besuk ne wes teka sing kana, aja maedo (manglo)  apa kang wes dadi keyakinanku ya..” (sebagaimana yg dituturkan KH. Udaib Malaysia, red)

Siapapun yang mengenal sosok beliau, tidak lagi meragukan keistiqomahannya  dalam amal ibadah. Meski sering udzur karena usia lanjut tidak menghentikan keajegan beliau terhadap qiyamulail. Beliau selalu mutholaah kitab didepan ndalem wetan pada jam 1.30 dan langsung menuju  ke ndalem kulon dengan kunci duplikat yang dibawanya  tepat jam 2.30 untuk  salat malam hingga adzan subuh dan duduk di depan rumah menunggu santri yang bersiap-siap jama’ah. Kebiasaan tersebut berjalan bertahun-tahun, ini dibuktikan banyaknya buku agenda beliau yang berisi kutipan-kutipan catatan penting tentang hukum,  doa,  dan masalah khilafiyah dengan disertai rujukan kitab-kitab serta halamannya sebagai hasil mutholaah yang ditekuninya. Meskipun begitu beliau tetap tidak meninggalkan aktifitasnya mulang dan ngajari santri di pagi dan siang hari.

Itulah sosok walid umar,  keikhlasan,  istiqomah  dan kezuhudannya memunculkan  karomah dan keberkahan dalam hidupnya. Banyak ‘ibrah  yang mesti ditiru santrinya2 terutama tentang kedisiplinan dan keajegannya yang  selalu dibarengi ikhlas dalam pengabdian membesarkan pondok pesantren Kempek.

Melihat perjalanan hidup beliau tersebut diatas sejatinya perubahan itu selalu niscaya, dan walid telah memulai dengan mengajarkannya untuk kita dengan tidak saklek. Walid merespon zaman dan tidak mau menyulitkan dengan cara yang bijak sambil tetap berpegang teguh pada nilai-nilai:

المحافظة على القَديم الصَالح  والأخذ  بالجديد الاصلح

Semoga kita diberikan Allah anugrah dan hidayah agar dapat menteladani amal shaleh beliau, meski tidak melihatnya langsung. Jangan takut untuk berbuat ikhlas, jangan khawatir ikhlas  akan mengantarkan pada kerugian. Berkaca dari kehidupan walid Umar, meski beliau sudah tidak ada semenjak 18 tahun yang lalu, maqbarohnya tidak pernah sepi pengunjung. Semua karena khidmah dan amal jariahnya. ‘Allah’ ‘alam.

Oleh Ny. Hj. Afwah Mumtazah (kempekonline)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar