Habib Luthfi Bin Yahya: Cinta Menjadi Syarat Iman

Habib Luthfi Bin Yahya: Cinta Menjadi Syarat Iman

Mahabbah adalah syarat dari iman. Maqam (tingkatan) mahabbah ialah maqam tinggi di bawah maqam ridha. Seseorang tidak akan merasa ridha dengan apapun takdir Allah kecuali setelah ia sudah mempunyai cinta pada Allah. Husnudzan tidak mampu dilakukan seseorang kecuali ia punya cinta.

Kekhusyu’an shalat dapat diraih jika seseorang punya cinta kepada Allah. Dengan cinta itu, ia melakukan shalat dengan sepenuh hati, karena dorongan hati tidak karena terpaksa. Untuk belajar khusyu’, belajarlah pada 3 tempat saja dulu, yakni pada takbiratul ihram, al-Fatihah dan tasyahhud. Sebelum takbir merasalah bahwa kita akan menghadap Allah, dilihat dan didengar Allah. Saat membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, hadirkanlah hati. Sedangkan dalam tasyahhud saat membaca 2 kalimat syahadat.

Dalam mendengarkan adzan, orang yang mahabbah akan tergerak hatinya untuk bangga, bahwa nama Tuhannya dikumandangkan di mana-mana, oleh banyak para muadzin. Ia tidak akan merasa terganggu dengan suara adzan, atau seakan menyalahkan adzan, seperti berkata “Kok sudah adzan ya. Kok cepat banget waktu berlalu ya.”

Seorang santri akan mendapat ridha dari para gurunya juga jika ia punya mahabbah besar terhadap gurunya. Seorang santri harus tanggap terhadap keperluan gurunya. Bangunlah sumber-sumber ekonomi untuk menyokong kebutuhan pesantren. Para kiai menanggung beban biaya besar untuk memutar roda pendidikan pesantrennya. Ada biaya pembangunan, bisyarah para pengajar, penyelenggaraan berbagai acara. Tidak jarang kekurangan biaya itu ditutup dari uang pribadi beliau.

Para alumni harus tanggap yang demikian jika mereka benar-benar cinta pada para kiainya. Jangan sampai para kiai membuat proposal demi memenuhi biaya-biaya tersebut. Apakah kalian rela, jika para kiai kalian membawa proposal kesana-kemari?! Kalian harus tanggap! Ini kritik untuk kalian. Buatlah lembaga ekonomi semacam PT atau CV, biar fokus untuk pengembangan ekonomi. Jangan yang berbentuk yayasan yang orientasinya hanya sosial, tidak membangun ekonomi.

Di jaman Kanjeng Nabi Saw. diantaranya ada sahabat Abdurrahman bin ‘Auf yang menyokong ekonomi dakwah Nabi Saw. Dengan ekonomi yang sudah tersokong diharapkan para kiai akan lebih istiqamah dan fokus dalam mengajar dan dakwah. Dulu Habib Hasyim bin Umar (kakek Habib Luthfi Bin Yahya) punya perekonomian yang sangat maju. Kekayaan itu beliau gunakan diantaranya untuk menyejahterakan para kiai dan pesantren yang ada di jaman beliau.

Kembali pada mahabbah. Jadi, kunci semua yang tersebut di atas adalah mahabbah. Jangan sampai mahabbah hanya dengan lisan belaka, namun dibuktikan dengan bukti nyata. Terkadang, seorang alumni hanya menyumbang 1 ekor kambing untuk haul kiainya. Namun di manapun tempat ia pamerkan, ia cerita-ceritakan pada banyak orang. Ia tidak sadar bahwa perbuatannya itu secara tidak langsung menjatuhkan wibawa kiainya, seakan pihak keluarga kiai tidak mampu membiayai acara haul dan sangat membutuhkan uluran tangan para alumni. Yang demikian juga sebagai contoh mahabbah yang hanya dengan lisan saja, bukan mahabbah yang sesungguhnya.

(Pengajian Ramadhan Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan, malam Kamis 13 Ramadhan 1438 H/7 Juni 2017 M. Sumber: FP TintaSantri).

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
31
Bagikan ke:

Komentar

komentar