Inilah Nasihat Mbah Mimun dan Habib Lutfi Tentang Pernikahan

A. NASIHAT HABIB LUTHFI BIN YAHYA TENTANG JODOH DAN PERNIKAHAN

Rahmat turun karena sebab ikhtiar. Contoh: sakinah, mawaddah dan rahmah akan muncul jika seseorang sudah ikhtiar untuk menikah. Yang Allah Swt. perintahkan kepada kita adalah memilih suami yang shaleh atau istri yang shalehah. Sebisa mungkin, taatilah perintah tersebut tanpa berpikir sampai kapan jodoh kita itu bertahan.

Banyak sekali kriteria yang dipilih seseorang (misalkan kecantikan, kegantengan, pangkat harta, dll.) tapi pilihlah pasangan yang memiliki kualitas bagus dalam hal ibadah dan akhlak. Sedangkan masalah harta itu nomor tiga. Rasulullah Saw. menjamin kalau seseorang mendahulukan hal demikian, kelak kehidupan suami akan mudah, ringan, lapang dan tanpa beban (fadzfar bidzatiddin taribat yadaka).

Perlu diketahui, rahmat Allah Swt. itu tidak akan datang tanpa usaha dari anggota keluarga dan keshalehan anggotalah yang diperlukan dalam mangarungi gelombang kehidupan rumah tangga. Sedangkan aktifitas lainnya (semisal seks) itu hanyalah sarana pelengkap saja. Jadi keshalehan para anggota keluargalah yang dibutuhkan dalam mengarungi gelombang kehidupan.

Syarat utama dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah itu adalah seorang suami sudah siap menjadi bapak sebelum menjadi bapak, sedangkan istri sudah siap menjadi ibu sebelum menjadi ibu. Oleh karena itu, bagi seorang lelaki carilah wanita yang sudah tampak jiwa keibuannya, begitu juga dengan wanita carilah lelaki yang berjiwa kebapakan.

Masalah jodoh itu saya ibaratkan dengan buah. Buah itu akan masak kalau sudah tiba waktunya. Kalau buah belum masak, rasanya akan masam. Dan kalau masam, mungkin buahnya tidak akan termakan. Sebab selain bergetah, buah yang belum masak dapat membuat sakit perut. Jadi menunggu jodoh tiba itu ibarat kita menunggu buah yang akan masak, nanti akan tiba sendiri. Kita tidak boleh berperasangka buruk, misalnya “kok jodohku lambat” tapi kembalikan semuanya pada Allah Swt. Sebab Allah lah yang menentukan jodoh kita. Jodoh yang ditentukan oleh Allah Swt. itu kelak akan datang kepada kita. Allah lah yang mengatur jodoh kita. Kita juga tidak boleh berperasangka buruk dan menyalahkan orang lain. Yang penting, jangan berputus asa memohon kepada Allah (berdoa).

Saya sarankan bagi yang belum menikah, sebaiknya pelajari dulu apa itu pengertian sakinah, mawaddah dan rahmah. Persiapkan mulai sekarang bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. Sebab kelak perilaku anak itu kurang lebihnya akan meniru perilaku orangtuanya. Jangan pontang-panting minta anak shaleh-shalehah setelah jabang bayi lahir. Tapi mintalah mulai sekarang, mintalah secara istiqamah kepada Allah Swt. agar kelak dikasih pasangan yang shaleh-shalehah serta diberikan anak yang shaleh-shalehah pula yang mampu menjawab tantangan bangsa dan negara.

Untuk pemudi, paling penting kriteria calon suami itu; semangat bekerja, bertanggungjawab, tidak meninggalkan shalat 5 waktu, dan mau mendekati ulama dan orang-orang shaleh. Insyaallah akan membawa kebaikan baik duniawi maupun ukhrawi. Yang masih single semoga segera mendapat jodoh, yang membawa maslahat dunia dan akhirat. (Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya viaMuslimedia News – MMN)

B. NASIHAT KH. MAEMOEN ZUBAIR TENTANG UANG MAHAR NIKAH

Nasehat Syaikhina wa Murabbi Ruhina KH. Maimoen Zubair buat cowok-cowok yang masih jomblo yang mau nikah, yang dulu selalu kuingat:

“Cung, awakmu nek nikah usahakno mahare bojomu seng akeh walaupun calon bojomu cuman njaluk mahar seperangkat sholat, nek gak nduwe duwet. Nek iso yo golek-golek ndisek, amergo duwet mahar kuwi berkah nek dienggo usaha. Dadi engko mari nikah awakmu njaluk ijin karo bojomu duwet kuwi kanggo modal usahamu. Insyaallah engko usahamu barokah.” (Nak, kalau kamyu menikah usahakan mahar istrimu yang banyak walaupun calon istrimu hanya minta mahar seperangkat alat sholat, jika tidak punya uang. Kalau bisa ya nyari-nyari dulu, karena uang mahar itu berkah jika dipakai usaha. Jadi nanti setelah menikah kamu minta ijin ke istrimu uang mahar itu akan dipakai untuk modal usahamu. Insyaallah usahamu akan berkah).

“Poko’e aku manut opo seng dingendikaake guruku, sam’an wa tho’atan, mugi-mugi diparingi berkah uripku, berkah keluargaku, berkah umurku, lan berkah bondoku. Amin.” (Ust. Muhammad Noor Yusuf).

Rasulullah Saw. memberikan mahar senilai 500 dirham kepada Siti Aisyah, setara dengan 50 dinar atau 200 gram emas atau sekitar 100 juta rupiah. Pada zaman itu 1 dinar setara 10 dirham. Pada saat itu harga seekor kambing hanya 5-10 dirham, jadi maharnya cukup untuk membeli 50-100 ekor kambing.

Aisyah Ra. berkata, “Mahar Rasulullah kepada para istri beliau adalah 12 uqiyah dan satu nasy. Tahukah engkau apakah nash itu?” Abdurrahman Ra. menjawab, “Tidak.” Aisyah Ra. berkata, “Setengah uqiyah.” Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mahar Rasulullah kepada para istri beliau. (HR. Muslim)

Saat menikah dengan Khadijah Ra. diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. memberi mahar 20 ekor unta (nilainya setara 400-an juta rupiah). Saat menikahi Hindun (Ummu Habibah Ra.) diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. memberikan mahar 4.000 dirham (setara 800 juta rupiah). Sedangkan saat menikahi Shafiyah Ra. maharnya berupa pembebasan dirinya dari perbudakan, meski tidak berwujud harta namun nilainya bisa ratusan juta hingga milyaran rupiah (biaya normal penebusan budak agar merdeka). (Sumber: Ust. Muhammad Noor Yusuf

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Bagikan ke:

Komentar

komentar