SUFI RASA WAHABI

Oleh : Al Habib Haidar Assegaf*

Melihat kenyataan di lapangan rasanya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa dua kelompok ini, sufi dan wahabi, adalah musuh bebuyutan, Tom and Jerry. Seakan tidak ada habisnya sinetron perseteruan dua kubu yang masing-masing punya banyak pengikut yang fanatik dan rela berkorban apa saja demi kelompoknya. Itu namanya loyalitas, kesetiaan, sehidup-semati, duduk sama rata berdiri sama tinggi, alias kompak.

Sebagian orang pasti akan risih bahkan mengkritik tajam judul tulisan ini. Itu tidak masalah selama dia mau membaca tulisan ini sampai habis, tidak hanya baca judul lalu komentar seperti yang sudah sering sekali terjadi. Berdasarkan penelitian ala Cak Lontong, debat kusir yang biasa ditemukan di media sosial 8 dari 10 diantaranya terjadi karena netizen merasa cukup dengan judul dan langsung mengerti isi beritanya, padahal nihil.

Membingungkan memang bagaimana bisa ada 'Sufi Rasa Wahabi'. Mereka berdua terlalu bertentangan. Ibarat garam tapi manis, malu tapi mau, benci tapi rindu. Dalam ilmu logika ada kaidah paten bahwa dua hal yang bertolak belakang tidak mungkin berada dalam satu hal secara bersamaan. Sebuah kotak tidak bisa disifati dengan warna hitam dan putih secara bersamaan, mustahil. Seharusnya begitu juga dalam masalah sufi dan wahabi ini.

Lho, berarti tulisan ini tidak sesuai logika? Yah, silakan saja kalau mau berpendapat demikian. Masing-masing pribadi berhak menilai secara insaf semua yang ditawarkan sebagai wacana dan pengetahuan. Tentu tulisan ini tidak berani menyatakan bahwa ia mendobrak pondasi ilmu mantiq karena menemukan dua hal yang bertentangan ternyata bisa menjadi satu. Tulisan ini terlalu sederhana untuk itu. Tulisan ini mah apa atuh.

Biasanya kelompok salafi atau wahabi dikenal dengan sikapnya yang eksklusif, konservatif, fundamentalis, keras dan yang sejenisnya. Mengikut kesimpulan sementara orang, wahabi biasanya memandang bahwa dirinya benar dan yang lain salah, mereka di surga yang lain di neraka, mereka paling Islam yang lain lumayan Islam. Sekelompok orang yang lebih ekstrim justru menyifati mereka sebagai kelompok yang mengeluarkan orang Islam dari agamanya alih-alih mengajak orang lain masuk Islam.

Jangan buru-buru marah dan mengkonter ciri-ciri di atas. Itu memang kenyataan bahwa wahabi dipandang demikian di mata orang lain, ya, yang jelas yang bukan wahabi, tentu saja. Kalau mau menjadikan ciri-ciri tadi menjadi satu kalimat saja mungkin yang lebih tepat adalah wahabi memonopoli kebenaran. Setuju atau tidak itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Nah, sekarang apa kaitannya dengan sufi? Sufi kan moderat, tidak suka mengkafirkan, merangkul bahkan mereka yang berbeda agama, cinta damai dan berhati bersih karena sangat concern dengan penyucian hati dan pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa. Sufi murah senyum, santun, tidak suka ikut campur urusan orang pula, jadi tentunya jauh sekali dengan wahabi.

Ada benarnya juga kalau kita katakan sufi tidak sama dengan wahabi. Judul tulisan ini pun juga tidak menyamakan sufi dengan wahabi. Susu rasa stroberi juga bukan stroberti, kan? Maka sufi rasa wahabi juga tentu saja bukan wahabi. Jadi mereka tidak benar-benar sama pada semua sisinya, tapi mulai banyak kemiripan antara keduanya, setidaknya menurut tulisan ini.

Sebagai orang Islam yang baik, dan ini penting dalam memahami tulisan ini, kita harus selalu memegang prinsip bahwa apa yang dilakukan umat Islam saat ini, seperti perang saudara dan lain-lain, sama sekali bukan ajaran Islam. Islam tidak mengajarkan kejahatan yang saat ini marak dikerjakan pengikutnya. Singkat kata, kelakuan umat Islam saat ini tidak mewakili ajaran Islam sama sekali. Ini penting karena apa yang dilakukan sufi-wahabi ini tentu juga tidak mewakili tasawuf sebagai ajaran secara umum. Karena tasawuf juga tidak mengajarkan apa yang akan disebutkan setelah ini.

Oke, jadi kenapa sampai ada istilah 'sufi rasa wahabi'? Mereka yang mengaku penganut ajaran tasawuf, pengikut ulama dan wali-wali, sudah mulai menjadikan kebenaran terbatas pada apa yang mereka lakukan. Ukuran kesalehan menurut mereka adalah saat seseorang hadir maulid, berzikir berjam-jam, ziarah kubur auliya dan yang sejenisnya. Orang yang tidak maulid misalnya, otomatis akan langsung dicap sebagai wahabi, dan sama-sama kita ketahui wahabi dalam pandangan pengikut tasawuf adalah kelompok yang serba keliru.

Tidak ikut ziarah kubur? Stempel salafi juga akan langsung nempel di jidat orang itu. Dari sini mulai terjadi klaim kebenaran dari para pengamal praktek tasawuf. Persis yang dilakukan wahabi. Kalau wahabi merasa hadits-hadits yang dikomentari oleh Syaikh al-Albani -rahimahullah- sebagai hadits yang sudah final hukum kesahihan dan kedhaifannya, maka sama halnya dengan sebagian sufi ini. Apa yang dikatakan, dilakukan oleh gurunya sudah benar-benar menjadi hal yang final dan tidak bisa diganggu gugat, dan mereka yang tidak percaya atau memiliki pendapat lain dari sang guru bisa mendapat cap sebagai 'orang yang tidak percaya pada wali', 'musuhnya para kekasih Allah' dan sederet gelar lainnya.

Kalam syeikh tidak mungkin didebat, karena harus seperti mayat dihadapan orang yang memandikan, alias pasrah. Prinsip ini tidak masalah kalau menjadi keyakinan pribadi dan tidak digunakan sebagai bahan menilai orang lain. Masalah keyakinan pada seseorang biarlah menjadi masalah hati masing-masing. Beda guru tidak harus merusak persaudaraan apalagi sampai menjadi sumber perpecahan, karena keyakinan tidak mungkin bisa tumbuh dari paksaan, laa ikraha fid-diin.

Terakhir, kedua belah pihak sama-sama memandang bahwa dirinya adalah solusi untuk semua permasalahan umat. Kaum sufi, atau setidaknya sebagian dari mereka, mengklaim bahwa tasawuf dan penyucian batin adalah cara satu-satunya bagi umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan. Sama halnya dengan wahabi yang juga memandang permunian akidah, versi mereka, adalah jalan satu-satunya kebangkitan dan kejayaan Islam. Menutup mata dari sisi positif semua pihak juga agaknya masih tertanam dalam hati masing dari kedua pengikut golongan Islam ini.

Sebuah keniscayaan bahwa semua golongan mempunya sisi positif dan negatif. Sebagai insan yang berakal sungguh tidak pantas jika kebencian menguasi diri dan membuang jauh-jauh kebaikan milik pihak lain, karena pada akhirnya kita semua adalah satu dalam Islam, diikat oleh kalimat tauhid, dipersaudarakan oleh Islam. Kejayaan Islam tidak akan terwujud sebelum kita semua bahu membahu membenahi diri dan saling melengkapi menuju musuh bersama, musuh yang sebenarnya, bukannya malah saling bermusuhan sendiri.

Tulisan ini bukan sebuah justifikasi atas golongan manapun. Tulisan ini adalah sebuah refleksi, berkaca diri masing-masing untuk kemudian membuahkan rasa rendah hati, tidak mudah mengklaim kebenaran apalagi mencoret seseorang dari daftar keimanan. Kesalehan terlihat pada aplikasi semangat syariat itu sendiri. Seberapa besar manfaat yang diberikan pada masyarakat, sebesar itu pula tingkat kesalehan seseorang.

Islam bukan sekedar ajaran ritual namun juga praktek dan sosial. Islam bukan sekedar pakaian, juga bukan tasbih yang selalu digenggam tangan. Islam adalah penghambaan dengan semua maknanya. Wallahu 'alam

*Penulis adalah A'wan PCI NU Yaman yang sedang menyelesaikan kuliah s1-nya, semester IX pada Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SUFI RASA WAHABI"

Post a Comment