KISAH ULAMA DAN PEMIMPIN

KISAH ULAMA DAN PEMIMPIN


Kutipan ceramah Habib Umar bin Hafidz di Ponpes Al-Fachriyah Ciledug Tangerang, 14-10-2017 M.

Dikisahkan ada seorang ulama bernama al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri, murid dari al-Imam asy-Syaikh Abu Bakar bin Salim. Beberapa pemimpin (sultan/raja) di jaman itu menginginkan fatwa dari ulama, dimana fatwa tersebut tidak ada dalam syariat yang mu'tamad (kuat) tetapi ada di dalam fatwa yang minoritas (sedikit). Para ulama yang bersifat wara' menolak untuk memfatwakan bagi pemimpin tersebut.

Kemudian para ulama tersebut menyarankan untuk memintakan fatwa kepada pemimpin para ulama di jaman itu yaitu al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri, "Kalau beliau ijinkan, kami para ulama ikut beliau."

Dan datanglah 'pemimpin' itu kepada al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri yang kebetulan juga masih ada hubungan kekerabatan keluarga dengan pemimpin itu (putri pemimpin itu istri beliau). Ketika itu al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri sedang berada di majelisnya. Di situ ada kaum wanita di balik satir (penghalang) dan di barisan depan banyak kaum laki-laki yang hadir di majelis beliau.

Lalu pemimpin itu mengadukan sebuah permasalahan dan permohonan fatwa. Maka al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri menjawab dengan tegas bahwa beliau tidak akan mengeluarkan fatwa kecuali dengan pendapat fatwa yang terkuat (mu'tamad) di dalam madzhab ini, tidak bisa beliau memberikan fatwa yang lain.

Kemudian pemimpin itu mengancam, "Seandainya kamu tidak memfatwakan hal ini untuk saya, maka putriku yang merupakan istrimu akan saya ambil."

Maka al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri berkata, "Silakan kamu lakukan apa saja terserah kamu, karena agama tidak bisa dikorbankan untuk hal-hal semacam ini."

Pemimpin itu melanjutkan, "Kalau begitu aku ambil anakku dari engkau."

Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri berkata lagi, "Kalau kamu mau ambil anakmu silakan, tapi ketahuilah bahwa anakmu (istri beliau) itu sedang hamil, namun saya juga punya istri yang lain. Dengan ijin Allah hamilnya anakmu itu akan berpindah ke istriku yang lain."

Istri pertama beliau itu pun mendengar perkataan itu, lalu merasakan ada janin yang tumbuh di perutnya. Dan hamilnya putri dari pemimpin itu seketika hilang dan berpindah ke istri pertama al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri.

Bersama ketegasan al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri dalam menegakkan agama ini, tidak seharipun beliau berdiri mencaci-maki pemimpin itu, ataupun mengumpulkan massa untuk menentang kepada pemimpin itu. Mengapa bisa seperti itu?

Sebab mereka para ulama merupakan pengampu amanat, yang membawa agama yang agung, mereka tidak mengikuti hawa nafsu, dan mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan umat, dan mereka tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan kerusakan di atas kerusakan. Karena mereka adalah kaum yang telah mendapat hidayah dari Allah, mendapatkan anugerah dari Allah menjadi orang yang beruntung, mereka tidak punya tujuan lain selain dari Allah Swt., dan mereka senantiasa berjalan seiring dengan al-Quran.

Ditulis oleh: Imron Rosyadi,

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KISAH ULAMA DAN PEMIMPIN"

Post a Comment