Kebijaksanaan Sahabat dalam Amar Ma’ruf


Sahabat Nabi Saw adalah orang yang pernah bertemu Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman dan mati dengan tetap membawa iman. (Al-Asalib al-Badi’ah, hal. 457). Dalam keyakinan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW, sekaligus memberikan penghormatan khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan.Pertama, mereka adalah generasi terbaik Islam. Menjadi saksi mata dan pelaku perjuangan Islam. Bersama Rasulullah SAW menegakkan agama Allah SWT di muka bumi. Mengorbankan harta bahkan nyawa untuk kejayaan Islam.

Sahabat Nabi Saw sesuai dengan kedudukannya terbagi ke dalam dua kelompok, tapi tidak mengurangi statusnya sebagai sahabat.Sama-sama sahabat, tapi status keauliaannya berbeda-beda. Contoh, Khulafaur Rasyidin dan 'Asyarah al Kiram. Lalu, sahabat-sahabat yang hanya bergaul secara lahir dengan Rasul Saw saja dan mendapat pengetahuan dari Rasul Saw. Tapi yang perlu diketahui, mengapa maqamat sahabat kedudukannya sangat tinggi sekali, karena kadar imannya tidak bisa ditakar dengan takar iman kita semua. Kalau kita sekarang mengetahui Nabi, setelah kita membaca hadits Nabi Saw, atau kisah para sahabat, sedangkan kalau sahabat tidak, sahabat langsung bertemu dengan Rasulullah Saw. Di mana dari keimanan yang kuat itu melahirkan sikap yang konsisten atau pakem.

Sahabat itu pakem tapi pakem-nya tidak mudah menempeleng orang. Tidak ada jalur yang berbuat demikian. Sebab mereka mempunyai landasan. Landasan apa? Barangkali kalau kita merujuk pada kata ma’ruf  dapat sedikit memudahkan kita untuk memahami bagaimana para sahabat itu amar ma’ruf.

Ma’ruf berasal dari kata ‘arafa, mengenal (kata kerja: fi’il) meskipun tidak sama tapi ada kemiripan dengan kata ‘alima, tahu. Keduanya memiliki kata sifat ‘arif atau ‘alim. Lalu kita lihat dari urutan morfologi atau asal mula kata itu; ‘arafa (telah mengetahui), ya’rifu (sedang/akan mengetahui), ‘irfan (tahu), ‘arif (yang maha mengetahui), ma’ruf (yang diketahui), baru kata perintah (fiil amar) i’rif (ketahuilah). Kita tahu upaya untuk memberi tahu itu ada pada tahapan ke lima yaitu i’rif (ketahuilah). Jadi menyuruh orang untuk berbuat baik (ma’ruf), akan berhasil setelah orang yang menyuruh mengetahui apa itu kebaikan (‘arafa), setelah berupaya menghiasi dirinya menjadi baik, kini maupun yang akan datang (ya’rifu), lalu setelah memahami betul apa itu kebaikan dan bagaimana cara menyampaikannya dengan baik ‘irfan-arif-ma’ruf, barulah mengajak kebaikan kepada orang lain. 

Tapi yang sering terjadi, tahu kebaikan pun tidak, kalaupun tahu kebaikan, tidak tahu cara yang bijak menyampaikannya. Maka yang menjadi ahirnya kebaikan yang diharapkan malah menjadi keburukan yang besar. Lebih jauh lagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar ( mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada keburukan) dituntut untuk alim billah, arif billah; tahu dan mengenal allah SWT. Buahnya alim billah arif billah itu adalah ma’ruf (dikenal).

Analoginya seperti orang yang mempersilahkan tamunya makan kue,”Silahkan makan makanan ini, ada lemper, bubur haritsah, roti maryam.” Yang mempersilahkan belum pernah makan, belum pernah mencicipi. Si tuan rumah yang menyuruh tamunya makan tadi berkata, “Silahkan makan yang banyak, ini vitaminnya tinggi dan lain sebagainya.” Padahal belum pernah merasakan seperti apa rasa makanan itu. Kira-kira demikian perumpamaan orang amar ma’ruf yang tidak mengindahkan tahapan-tahapan tersebut diatas. Berbeda dengan ulama kita dahulu, ulama-ulama kita tidak seperti itu. Kalau ulama-ulama kita dahulu mencontohkan  pada kita semua, mereka adalah ‘arif-‘alim, ma’ruf baru mengajak orang (i’rif).

Buahnya ma’ruf adalah nahi ‘an al-munkar, jika buahnya ma’ruf adalah nahi ‘an al-munkar (mampu mencegah perbuatan keji) selanjutnya adalah fajaddilhum bi allati hiya ahsan; berdialog dengan bijak dengan orang yang tidak sepaham. Buah ma’ruf yang lain apa? Akhlak yang mulia.

Jadi dengan demikian nahi munkar tetap dalam konteks;

   ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-Nahl;125).

Berdialog dengan santun dalam menghadapi orang yang tidak sejalan, itu yang pertama. Kedua memberi pengertian dengan cara yang bijak. Dan terakhir; akhlaqul al-karimah; pekerti yang mulia.
Inilah cara dan sikap yang ditempuh dan dicontohkan para sahabat Nabi Saw. Wallah A’lam.
        
Diambil dari buku
"Secercah Tinta "Jalinan Cinta Seorang Hamba Dengan Sang Pencipta

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kebijaksanaan Sahabat dalam Amar Ma’ruf"

Post a Comment