Inilah Kisah Heroik di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal

Inilah Kisah Heroik di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal 


 Mataram, NU Online Sebelum dibuka, Kamis (23/11), Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2017 di Nusa Tenggara Barat, akan diawali dengan Pawai Ta’aruf yang dihadiri belasan ribu Nahdliyin, Selasa (22/11). Rute pawai itu dari Islamic Center kota Mataram ke lapangan Sangkareang sejauh 1 km.

Pada pawai itu pula bendera NU raksasa akan dihadirkan. Disebut raksasa, karena ukuran bendera itu sekitar 60 m x 40 m atau seluas 240 m persegi. Sementara beratnya sekitar 600 kg atau 6 kuintal.

Menurut salah seorang panitia, Muhammad Hirjan, bendera NU raksasa diusulkan Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini dalam beberapa kali pada Rapat Koordinasi Panitia Daerah.

“Karena dulu ada Munas NU di NTB tahun 1997. Nah, pada Munas dan Konbes ini harus ada yang berbeda, tidak hanya tempat, jika dulu di Bagu, sekarang harus ada tempat baru. Selain itu, harus ada yang baru juga,” jelas Hirjan.

Usul pembuatan bendera raksasa itu, lanjutnya, diterima Panitia Daerah dengan pelaksananya pada anggota Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (AMNU) NTB.

“Bendera raksasa itu pembeda Munas dan Konbes NU hari ini dengan 20 tahun lalu,” katanya.

Juga sebagai simbol kebesaran NU, sebagai ormas terbesar di Indonesia dan dunia dengan jamaah 92 juta orang.

“Kita merespon gagasan bendera raksasa itu sebagai suatu bentuk gambaran kebesaran NU,” tambahnya.

Kedua, kata kandidat doktor bidang Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram itu, bendera raksasa sebagai simbol suka cita warga NU NTB yang akan dibanjiri tamu kiai. (Abdullah Alawi)
Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (1)
Mataram, Santrionline -Sebelum dibuka, Kamis (23/11), Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2017 di Nusa Tenggara Barat, akan diawali dengan Pawai Ta’aruf yang dihadiri belasan ribu Nahdliyin, Selasa (22/11). Rute pawai itu dari Islamic Center kota Mataram ke lapangan Sangkareang sejauh 1 km.

Pada pawai itu pula bendera NU raksasa akan dihadirkan. Disebut raksasa, karena ukuran bendera itu sekitar 60 m x 40 m atau seluas 240 m persegi. Sementara beratnya sekitar 600 kg atau 6 kuintal.

Menurut salah seorang panitia, Muhammad Hirjan, bendera NU raksasa diusulkan Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini dalam beberapa kali pada Rapat Koordinasi Panitia Daerah.

“Karena dulu ada Munas NU di NTB tahun 1997. Nah, pada Munas dan Konbes ini harus ada yang berbeda, tidak hanya tempat, jika dulu di Bagu, sekarang harus ada tempat baru. Selain itu, harus ada yang baru juga,” jelas Hirjan.

Usul pembuatan bendera raksasa itu, lanjutnya, diterima Panitia Daerah dengan pelaksananya pada anggota Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (AMNU) NTB.

“Bendera raksasa itu pembeda Munas dan Konbes NU hari ini dengan 20 tahun lalu,” katanya.

Juga sebagai simbol kebesaran NU, sebagai ormas terbesar di Indonesia dan dunia dengan jamaah 92 juta orang.

“Kita merespon gagasan bendera raksasa itu sebagai suatu bentuk gambaran kebesaran NU,” tambahnya.

Kedua, kata kandidat doktor bidang Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram itu, bendera raksasa sebagai simbol suka cita warga NU NTB yang akan dibanjiri tamu kiai. 

Proses pembuatan bendera raksasa NU, hingga kemarin, Senin (20/11) memakan waktu 40 hari. Beberapa faktor, terutama masalah cuaca, menyebabkan proses pembuatannya molor 10 hari dari waktu yang ditargetkan. Pasalnya, beberapa tahap perampungan bendera itu dilakukan di ruangan terbuka, bahkan di lapangan sepak bola. 

“Kini tahap finishing, tapi saya yakin akan selesai,” kata koordinator pembuatan bendera itu, Muhammad Hirjan, di kompleks Pendidik NU, kota Mataram, Senin malam (20/11).

Ia menjelaskan, bendera raksasa berukuran 60 m x 40 m atau seluas 240 m persegi. Bobotnya sekitar 600 kg atau 6 kuintal. Sementara yang menjahit kain-kain berwarna hijau itu menjadi satu, hanya satu orang, Ahmad Ritaudin, yang dibantu oleh beberapa asistennya.

“Hingga malam ini, ia masih mengerjakannya, memperluas kain itu,” kata dia.

Logo NU di bendera di kain itu, lanjutnya, dilakukan secara manual oleh sembilan orang. Mereka tidak membuat pola atau seketsa terlebih dahulu, melainkan langsung menggunakan rol. Sembilan orang itu memang ahli kaligrafi Lombok sehingga bisa menyerasikan ukuran besar huruf dengan luas kain.

Semua yang terlibat pada pembuatan itu, kata dia, adalah para santri dari pesantren-pesantren bumi seribu mesjid. Ahmad Ritaudin misalnya, adalah alumnus pondok pesantren Qomarul Huda, Bagu, yang diasuh Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badaruddin.

Bendera NU raksasa itu akan dihadirkan pada Pawai Ta’aruf Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2017 di Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/11).

Pawai itu akan diawali dengan yang dihadiri belasan ribu Nahdliyin, Selasa (22/11). Rute pawai itu dari Islamic Center kota Mataram ke lapangan Sangkareang sejauh 1 km

Sumber (Nuonline)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Inilah Kisah Heroik di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal "

Post a Comment