Diskusi Gusdurian; Mendedah Indonesia Dari Krisis Nilai Hingga Menguatnya Primordialisme


Menguatnya intoleransi salah satunya disebabkan miskinnya nilai keberagaman yang dibangun sejak dini. Nahdlatul Ulama s...
 Pesantren Pesantren NU Dijamin Tidak Mengajarkan Terorisme
 Jelang Munas dan Konbes NU, 3 Kitab Wirid diluncurkan Warga Nahdliyyin NTB
Islamsantri.com - Menguatnya intoleransi salah satunya disebabkan miskinnya nilai keberagaman yang dibangun sejak dini. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, beruntung sekali karena menyadari hal ini lebih awal. Hal tersebut disampaikan, Allisa Wahid dalam diskusi Gusdurian Lombok dengan tema "Narasi Kebangsaan Dalam Secangkir Kopi" di Warung Kopi Revublik Sryuuuuput Kamis (23/11) Malam. 

Dikatakan Allissa, di NU perbedaan itu dianggap biasa saja, karena para kiai sejak dini mengajarkan santrinya tidak satu pendapat dalam memahami Islam. 
"Soal Aurat dan Jilbab saja misalnya, para ulama dan kiai menyuguhkan beragam madzhab yang bisa dirujuk para santri, dan itu biasa saja" Ujar Allisa Putri Tertua KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) ini. 

Bahkan imbuhnya, perbedaan-perbedaan pendapat dikalangan Nahdliyin difasilitasi secara khusus melalui forum yang dinamakan Bahtsul Matsa'il.
"Sebaliknya, kelompok-kelompok intoleran jika diperhatikan adalah kelompok masyarakat yang dalam kehidupan dan pendidikannya tidak pernah mendapatkan nilai-nilai seperti ini" Tegas Allisa yang sejak 2012 menggagas komunitas Gusdurian sebagai wadah anak muda mendiskusikan pemikiran-pemikiran Guru Bangsa Gusdur.

Pemimpin redaksi nu.or.id Savic Ali yang juga didapuk mendampingi Allisa sebagai pembicara juga menyampaikan kegetirannya pada kondisi dimana manusia semakin tidak peduli pada identitas kebangsaan mereka. Hal ini dialami Irak, Syuria, Inggris, Amerika, Perancis termasuk juga Indonesia. 

Ditegaskan Savic, krisis kepedulian pada identitas kebangsaan ini akhirnya membawa kita pada semakin tingginya primordialisme. Memunculkan sikap saling curiga dan saling membenci antar manusia, antar agama dan faham. Hate speech atau ujaran kebencian seakan menjadi biasa terutama di internet dan sosial media.

Maka kekhawatiran kita selanjutnya adalah rontoknya sistem Negara Bangsa (Nation State) yang telah diputuskan para pendiri bangsa ini dan masih menjadi projek demokrasi terbaik untuk saat ini. 

Bahkan, khusus Indonesia, Nation State kita ini menurutnya sangat mengkhawatirkan. Sebab jika kita belajar dari sejarah, butuh waktu 200 tahun sistem ini berjalan baik baru kita bisa sedikit lega. 

"Nation state kita belum genap 100 tahun, ini artinya Indonesia masih seumur orang, masih lebih Tua Tuan Guru Turmudzi dari Usia Bangsa ini" ujar Getir Savic.

Ia menutup diskusi dengan mengatakan: 

"Maka awan gelap kebencian diatas kepala kita ini, apakah akan mengurai dan memancarkan matahari, ataukah akan mencair menjadi hujan darah dan peperangan, tergantung kita" pungkasnya. [Jhelliemaestro]
sumber
Islamsantri.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Diskusi Gusdurian; Mendedah Indonesia Dari Krisis Nilai Hingga Menguatnya Primordialisme"

Post a Comment