Gus Nur Dalam Sorotan

Dewasa ini, media sosial, khusunya youtube telah memberikan sumbangsih atas munculnya ustadz-ustadz 'anyar' yang tidak pernah masyarakat ketahui sebelumnya menjadi di ketahui. Salah satunya Sugi Nur Raharja atau lebih di kenal dengan nama Gus Nur. Pria yang lahir pada tanggal 11 Februari 1974 di Banten ini menjadi perhatian publik atas video-videonya yang banyak tersebar di media online. Beragam isu dari mulai politik sampai agama sempat di bahas oleh pria yang mencetuskan dakwah kubur ini. Pro dan kontra pun merebak dalam menilai sosok Gus Nur dalam dakwahnya sendiri. Video yang di publikasikan pada tanggal 27 Juli 2017 dengan judul "GUS ABAL ABAL GAK FAHAM KITAB KUNING GAK FAHAM KITAB GUNDUL" menjadi puncak pro kontra yang di bincangan di tengah-tengah masyarakat, terlebih warga Nahdliyyin. Video tersebut ia buat untuk menjawab respon netizen dalam menanggapi video yang sebelumnya telah terpublikasi dengan judul "PELACUR OFFLINE | PELACUR ONLINE | PELACUR AGAMA" yang netizen (termasuk penulis) nilai telah menyinggung ketua umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj. Walau dalam videonya ia tidak secara langsung mengakui tuduhan tersebut, namun tuduhan netizen nampaknya tidak bisa kita elakan dengan melihat indikasi serta hubungan isu yang sedang bergulir.

Dalam video dengan durasi 51.41 menit yang berlink di https://youtu.be/_pLc53FNvM8 ini, ada beberapa hal yang perlu kiranya kami tanggapi,

1. Menit 24.15

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَة...
Tendensius, sikap yang kerap di tunjukan oleh Gus Nur dalam setiap videonya menjadi sebuah kekontradiksian dengan penggalan firman Allah di atas. Secara membabi buta, Gus Nur menuduh bahwa rata-rata 'penjilat' di partai politik ialah mereka yang bergelar Profesor, Doktor, dan Kyai, tanpa sedikitpun menampilkan bukti-bukti valid yang mendukung atas argumennya ini.

Seseorang yang paham akan etika dalam menyampaikan argumen, tentu akan menyiapkan dasar-dasar yang menunjang agar argumennya layak untuk di sampaikan. Berbeda dengan mereka yang tak paham akan etika berargumen, tanpa memikirkan uji kelayakan, mereka langsung berbicara tanpa isi.

Apa yang di tuduhkan oleh Gus Nur ini dapat menggiring opini liar yang akan tertuju kepada para 'Ulama. Padahal, seharusnya kita preventif dalam menjaga marwah para 'Ulama, bukan malah menjadi pemantik dari min akbar al-kabair, yaitu memfitnah 'ulama. Terlebih sosok Gus Nur yang di kenal sebagai pendakwah. Seyogyanya ia perlu melakukan pengecekan terlebih dahulu terkait validitas informasi yang didapatkannya sebelum ia mengambil sikap dan melakukan reaksi seperti di atas.

Habib Ali Al-Jufri pernah menasihati bahwa seorang pendakwah tidak diperkenankan menerima begitu saja informasi yang beredar di masyarakat dari berbagai media massa. Akan tetapi dia harus melakukan cek dan ricek terlebih dahulu kepada sumber yang betul-betul dapat dipercaya. Baru kemudian menentukan sikap yang tepat.

َ2. Menit 25:16

"...dalam dunia dakwah tidak butuh kitab kuning, cuk !", begitulah kesimpulan yang terlontar dari lisan Gus Nur. Di menit ini juga sekaligus menjadi pokok pembahasan dalam videonya. Pertanyaannya sekarang, pentingkah seorang pendakwah memahami kitab kuning?

Pendakwah sendiri memiliki arti penyeru, atau pengajak. Di dalam ayat 125 surat An-Nahl menjadi acuan para 'Ulama dalam mensyaratkan seseorang ketika terjun dalam dakwah,
ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن
“Ajaklah/serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, mauidloh yang baik dan debatlah dengan debat yang terbaik”

Hikmah, mauidlotilhasanah,  serta ahsanul mujadalah menjadi syarat yang di sodorkan oleh para 'Ulama untuk para pendakwah. Di dalam tafsirnya, Imam Atthobari membedah kata hikmah dengan,
المعرفة بالقرآن ناسخه ومنسوخه، ومحكمه ومتشابهه، ومقدمه ومؤخره، وحلاله وحرامه، وأمثاله
"Mengetahui Al Quran nasih mansuhnya, muhkam mutasyabihatnya, muqoddam dan muakkhornya, halal dan haramnya, dan perumpamaan perumpamaannya".
Lebih dari itu, seorang 'Ulama terkemuka al-Azhar Syeikh Muhammad al Ghazali menjelaskan syarat-syarat pendakwah dalam Islam, sebagaimana dikutip oleh Yahya Ibrahim dari kitab Syekh al-Ghazali kama 'Araftuhu, karangan Syekh Yusuf al Qaradhawi, sebagai berikut :
"Dakwah ke jalan Allah tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Pendakwah Islam di zaman kita sekarang ini haruslah memiliki seperangkat pengetahuan yang luas dan mencukupi tentang Islam dan kemanusiaan. Artinya dia hendaklah orang yang paham dengan Alquran, Sunnah, Fiqh Islami, dan Peradaban Islam. Di saat yang sama dia juga haruslah orang mengusai sejarah umum kemanusiaan, ilmu alam dan kehidupan, pengetahuan umum modern yang berkaitan dengan berbagai aliran pemikiran dan filsafat". (Baca: http://www.islamoderat.com/2015/06/apa-syarat-syarat-dai-dalam-islam.html?m=1)

Oleh karena itu, argumen Gus Nur yang mengatakan bahwa dakwah tidak membutuhkan kefahaman atas kitab kuning sangatlah fatal. Sebab, dengan perangkat apa seorang pendakwah menyeru kepada jalan Allah jika tanpa ilmu-ilmu klasik, seperti nahwu sharaf,  balaghah, manthiq, dan lain sebagainya yang notabenenya tertulis di kitab-kitab kuning?

Yang kami maksud disini, bukan berarti seorang pendakwah atau dalam hal ini, Gus Nur selalu membawa kitab kuning seperti apa yang ia sangka. Namun, penguasaan terhadap kitab kuning lah yang wajib pendakwah seperti Gus Nur harus miliki, dan ini yang netizen maksud dalam merespon video Gus Nur. Jika di dalam dakwah kosong akan keahlian dalam mengkaji teks-teks turats dan hanya bergantung pada terjemah, atau yang lebih parah pada internet, ini akan melahirkan haziimah alfikriyyah (kehancuran pemikiran) kepada umat. Di sini kita perlu sadar bahwa, likulli syai'in ahlun idza wusidal amru lighoiri ahluhi fantadziris sa'ah (setiap segala sesuatu ada ahlinya. Jika suatu perkara diemban pada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah saat kehancurannya).

3. Menit 34:56

Pada bagian ini sebenarnya tidak begitu penting untuk kami tanggapi, namun kami hanya ingin mengingatkan Gus Nur, ketika betapa sentimentilnya ia dalam menanggapi masalah penistaan agama tempo hari, yang di sebabkan oleh statment pejabat negara yang menyebut bahwa Al-quran di jadikan alat berbohong. Tetapi entah kenapa, di sini kita bisa saksikan ketika Gus Nur dengan lantang menyebut kalimat "PELACUR AL-QURAN", dengan kata lain, Al-quran di jadikan alat untuk melacur. Sekarang kalian bisa nilai sendiri antara kata 'lacur' dan 'bohong' mana yang lebih nista?

Maka dari itu, dengan kema'rufannya sebagai pendakwah, Gus Nur perlu mengedepankan upaya untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada (tafa'ul ma'al isykal), bukan selalu mengedepankan emosional dan kemurkaan dengan segala cara (infi'al bil musykilah) yang ke depannya akan membuat Gus Nur sendiri yang malu.

4. Menit 38:51

Di titik inilah awal dari kesakitan warga Nahdliyyin dan penulis dalam menulis tulisan ini.

Takabbur dan su'ul adab, dua kalimat yang kami rasa pantas untuk di sematkan dalam stament Gus Nur di menit ini. Secara gamblang, dengan emosi yang tidak bisa di sembunyikan ia menyebut bahwa NU lah yang sering merepotkan dirinya, dan merasa dirinya tak sama sekali pernah merepotkan NU. Sampai pada hal privasi yang 'katanya' ia sempat di undang ceramah oleh Muslimat dan Fatayat tanpa di beri bisyarah (upah) pun ia ucapkan dengan sombongnya di menit ini.

Tipe pendakwah macam apa yang permasalahan bisyarah pun ia ungkit ke publik.  Kami sama sekali tak mengerti jalan pikiran Gus Nur yang satu ini.

KH. Hasan Genggong pernah menyatakan bahwa berjuang ikhlas di NU akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat,
"من اعان نهضةالعلماء، فقد سعد فى الدنيا والأخرة"
"Barang siapa yang menolong NU, maka hidup beruntung di dunia dan di akhirat".

Semoga kita menjadi orang yang ikhlas dalam mengabdi kepada NU dan terhindar dari golongan yang di maksud oleh Maulana Abah Habib Luthfi bin Yahya,
"Banyak yang kualat dengan NU". (rois faisal ridho)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gus Nur Dalam Sorotan"

Post a Comment