Siti Musdah Mulia, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

Siti Musdah Mulia (50 tahun) adalah juru bicara paling keras dari kaum perempuan yang tertindas di Indonesia, saat ini. Namanya terutama mulai ramai dikenal umum pada akhir 2004, ketika ia bersama timnya di Departemen Agama melahirkan Counter Legal Draft (CLD, atau naskah hukum tandingan), terhadap Kompilasi Hukum Islam (KHI). Draft itu menjadi sangat kontroversial karena ia menggugat KHI yang sejak 1991 merupakan referensi para hakim agama di Peradilan Agama, terutama dalam memutuskan perkara yang berhubungan dengan perkawainan. Banyak isi CLD yang tegas-tegas menggugat berbagai ketentuan dalam KHI yang selama ini seolah-olah sudah diterima sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Sejumlah muatan terpenting CLD adalah  pelarangan poligami, penaikan usia layak nikah bagi wanita dari 16 tahun menjadi 19 tahun, serta hak yang sama bagi pria dan wanita untuk menyatakan talak. Di bagian lain, CLD juga secara tegas mengharamkan perkawinan paksa, nikah siri dan nikah kontrak.

icrp-online.org
Musdah percaya bahwa segenap perubahan itu dibutuhkan untuk memerangi kekerasan dalam rumah tangga, melindungi kaum perempuan yang selama ini berada pada posisi lemah dan untuk melindungi anak. Toh, banyak yang tak setuju. MUI segera menuduh apa yang ditawarkan Musdah dan kawan-kawan adalah bid’ah dan bertentangan dengan hukum Islam. Hanya dalam beberapa bulan, Departemen agama sendiri menarik kembali draft tersebut. Musdah sendiri mengaku bahwa publikasi itu tidaklah sia-sia. Baginya, paling tidak itu telah membangkitkan kesadaran bahwa ada begitu banyak persoalan dalam penerapan hukum Islam di Indonesia yang sebenarnya  justru menjauhkan umat dari ajaran-ajaran Islam sesungguhnya. Musdah saja tidak asal bicara. Wanita kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, ini datang dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya seorang ulama, dan selama puluhan tahun perempuan aktivis ini bergelut dengan teks-teks keagamaan Islam, sejak masih di pesantren sampai menempuh pendidikan keislaman di IAIN – mula-mula di Makasar, sebelum kemudian melanjutkan jenjang S2 dan S3 di IAIN (UIN) Jakarta.

Prestasi keilmuannya mengagumkan. Musdah adalah perempuan pertama yang meraih doktor di bidang pemikiran politik Islam di UIN, dan juga perempuan pertama yang dikukuhkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai ahli peneliti utama (APU).  Dalam perjalanan kariernya yang masih relatif singkat, ia sudah menulis setidaknya enam buku, yang hampir semua terfokus pada isu perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam Islam. Di organisasi asalnya, ia adalah Ketua Muslimat NU. Bahkan ia pernah menjabat  Ketua Bidang Penelitian MUI, dan karena keanggotaannya di MUI ini Musdah kemudian  menjadi anggota yang aktif dalam Indoensian Conference of Religious and Peace.

Peran Musdah juga menjangkau wilayah politik. Ia aktif terlibat dalam menyusun berbagai rancangan undang-undang, seperti UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah tangga, UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, revisi UU Kesehatan, serta revisi UU Tenaga Kerja. Salah satu perhatian utamanya adalah menjaga agar segenap peraturan tersebut tidak mengandung pasal-pasal yang semakin menindas perempuan.


Musdah percaya bahwa Islam seringkali disalahartikan sebagai agama yang menyumbang penindasan perempuan karena kesalahan sebagian umat sendiri dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang luhur. Karena itu ia meminta masyarakat untuk tidak membaca kitab suci secara harfiah. Dalam Al-Quran, misalnya, memang ada ayat tentang poligami, namun ayat tersebut tidak bisa dibaca sebagai sebuah ajaran yang membenarkan apalagi menganjurkan poligami, melainkan harus ditafsirkan beradasarkan semangat dan konteks turunnya ayat. Musdah mengingatkan bahwa nabi Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan nalar dalam memahami pesan-pesan luhur Al-Quran.

Ia menganggap ketidakadilan gender itu dapat ditemukan di tiga aspek hukum: isi hukum, budaya hukum dan struktur hukum itu sendiri. “Budaya patriarki di Indonesia masih sangat kuat, yang didukung oleh penafsiran keagamaan yang kaku, sementara di tingkat struktur, kita masih menemukan para penegak hukum dan hakim yang tidak sensitif,” ujarnya. Bagi Musdah, Islam diturunkan untuk memerdekakan manusia dan bukan untuk menindas. Ia mengecam keras beragam peraturan bernuansa syariah yang diterapkan di berbagai daerah yang memang mengatur aspek peribadatan personal. Soal jilbab, misalnya, adalah sesuatu yang harus datang dari hati, dan bukan sesuatu yang harus dipaksa oleh hukum. Meski ia sendiri mengenakan jilbab di ruang publik, Musdah percaya itu bukanlah kewajiban yang harus dipatuhi setiap wanita Muslim. ”Saya mengenakannya karena saya merasa nyaman,” ujarnya, ”dan bukan karena merasa diwajibkan oleh agama, apalagi karena dipaksa oleh hukum.”

Awal tahun ini, kembali nama Musdah ramai dibicarakan setelah dalam sebuah seminar, ia menyatakan bahwa homoseksualitas adalah sesuatu yang alamiah dan diciptakan Allah. Ia berharap masyarakat dapat lebih terbuka menerima kaum homo atau lesbian di lingkungannya, dan tidak memberi mereka sanksi sosial karena homoseksualitas mereka. Musdah mengingatkan bahwa pengharaman seksualitas adalah sesuatu yang lahir dari penafsiran sempit atas ajaran Islam. Komitmen dalam membela kaum tertinas ini dihargai banyak pihak. Tahun lalu, Departemen Luar Negeri AS memberinya penghargaan ”Women of Courage” atas jasa-jasa Musdah memperjuangkan hak wanita. Semula ia ragu datang ke AS, mengingat itu mungkin menambah mesiu bagi para pengeritiknya yang menuduh Musdah adalah “agen zionis” dan semacamnya. Namun akhirnya ia terbang ke sana dengan harapan itu akan membantu upayanya memberdayakan kaum perempuan di Indonesia.

Di AS, Menlu Condoleeza Rice menemuinya. Ketika Rice bertanya apa yang bisa dilakukan AS untuk membantu perjuangannya di Indonesia, Musdah menjawab: “Saya berharap, AS mau mengubah kebijakan luar negerinya yang berbasis-kekerasan.” 

sumber : madinaonline.id
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Siti Musdah Mulia, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina"

Post a Comment