CANGKIR SEMBILAN PWNU JATIM GELAR BINCANG HIZBUT TAHRIR UNDERCOVER

Cangkir Sembilan PWNU Jatim Gelar Bincang Hizbut Tahrir Undercover

Santrionline - Surabaya

Ramainya perbincangan di masyarakat tentang dibubarkannya ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Pemerintah, juga mendapat respon masyarakat di Jawa Timur. Aktivis-aktivis muda yang tergabung di badan-badan otonom PWNU Jawa Timur membuat forum diskusi bertajuk Cangkruk Pikir (Cangkir) Sembilan, dengan tema "Hizbut Tahrir Undercover - Membongkar Jaringan dan Strategi HTI Dibalik Jargon Khilafah", di kantor PWNU Jatim, pada Selasa malam (09/05/2017).

Acara ini berisi perbincangan interaktif tentang kiprah HTI di tengah masyarakat selama ini, dengan narasumber antara lain, Pengamat Gerakan Islam dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr.KH.Imam Ghozali Said MA, dan penulis buku "Membongkar Proyek Khilafah Ala HTI", Dr.Ainur Rofiq Al-Amin M.Ag.

Pembicara pertama, Kiai Imam Ghozali Said secara umum menuturkan bagaimana sejarah awal Hizbut Tahrir (HT) berdasarkan bacaan beliau terhadap beberapa kitab mutabanat (rujukan) HT yang diperbandingkan dengan kitab-kitab mu'tabaroh dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. "HT didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, karena kekecewaan terhadap gejolak politik Timur Tengah waktu itu. Sebenarnya motivasinya murni politik", papar Kiai Ghozali Said.

Mengenai posisi NU yang pernah diklaim mengikuti Konferensi Khilafah tahun 1926 di Mesir, Kiai Ghozali Said menjelaskan bahwa ulama pesantren di Jawa pada waktu itu tidak ada yang mengikutinya. "Komite Hijaz (cikal bakal NU) yang dipandegani KH.Abdul Wahab Chasbullah tidak berangkat ke Mesir. Apalagi di Konferensi Khilafah tersebut gagal akhirnya menentukan siapa yang akan menjadi kholifah setelah runtuhnya Turki Utsmani, karena ego masing-masing golongan dari berbagai negeri Islam. "Tidak benar kalau ulama pesantren tradisionalis dahulu hadir di acara itu. Apalagi konsep khilafah dan imamah adalah ijtihadi dan ikhtilafi. Jadi, konsep khilafah sendiri, sampai detik ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama. Apalagi menurut pendapat jumhur ulama Indonesia di jaman kemerdekaan, NKRI sudah final", tambah Kiai Ghozali Said.

Sementara, Gus Ainur Rofiq Al-Amin sebagai pembicara kedua di forum ini mempresentasi, bahwa HTI punya strategi yang terukur untuk intensif mengkampanyekan ideologinya. "Anggota HTI itu pandai menyerap, mengadaptasi diri, mencatut, dan menunggangi jama'ah lain, termasuk kepada NU misalnya. Lalu kerapkali mengklaim bahwa orang-orang yang menjadi sasaran dakwahnya berhasil tercerahkan oleh mereka. Ini trik halus ala HTI", ujar Gus Ainur Rofiq yang juga pernah menjadi syabab (anggota) HTI selama lima tahun.

Gus Ainur Rofiq menimpali, tiap-tiap anggota dibekali doktrin yang kuat dari banyaknya buku-buku terbitan (mutabanat) HTI sendiri. "Tujuannya agar anggota HTI merasa punya pegangan yang kuat sebagai bekal untuk berdebat, walaupun seringkali mereka gagal dalam debat", ungkap Gus Ainur Rofiq.

Di akhir diskusi, KH.Imam Ghozali Said juga menambahkan, agar pemerintah tetap memproses HTI sesuai hukum yang berlaku, dan berharap agar anggota HTI kembali mendapatkan pemahaman yang benar menurut ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dalam bingkai NKRI.

Sementara tentang pasca pembubaran HTI, Gus Rofiq mengharap agar warga NU terus berdiskusi dengan anggota HTI. "Namun tidak untuk debat kusir, tapi mengajak mereka berkontemplasi dan berkomparasi. Beberapa mantan HTI juga termotivasi untuk keluar dari HTI karena proses kontemplasi ini", pungkas Gus Rofiq.

Perlu diketahui, bahwa acara diskusi Cangkir Sembilan yang digagas para aktivis muda NU ini baru pertama kali diselenggarakan dan rencananya akan rutin dilakukan. Diskusinya bersifat terbuka, santai, dan kontekstual dengan tema mengenai ke-NU-an, ke-Islam-an, dan ke-Indonesia-an.

(Reporter : Zamroni Fauzan)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CANGKIR SEMBILAN PWNU JATIM GELAR BINCANG HIZBUT TAHRIR UNDERCOVER"

Post a Comment