Tekstualis Vs Kontektstualis

Akhir-akhir ini mungkin banyak dari kita yang sering menyaksiakn beberapa orang bahkan ustad yang ketika menjelaskan sebuah ayat atau hadis hanya secara terjemahan saja sehingga tidak sedikit penjelasan tersebut menuai kontroversi di tengah masyarakat, salah satu contohnya ustad Khalid Basalamah. jika kita mengerti pembagian kelompok dalam memahami al-Quran dan Hadis mungkin tidak akan begitu heran melihat orang-orang seperti ustad Khalid Basalamah. penulis berharap tulisan ini bisa sedikit memberi pengetahuan baru tentang kelompok-kelompok tersebut.
Sebgaimana diketahui bahwa bahwa Nabi Muhamad
Saw, hidup 15 abad yang lalu, beliau mengajarkan agama Islam di tengah-tengah
masyarakat  Arab jahiliyah, lalu apakah
pemahaman terhadapt Hadis pada zaman sekarang harus mengikuti pola pemahaman
pada zaman dulu? Dimana
peradaban manusia saat ini jauh berbeda dengan 15 abad yang lalu. Oleh karena
itu untuk memahami al-Qur’an dan Hadis tidak bisa terpaku dengan teks saja,
tetapi harus memperhatikan konteks social dimana masyarakat berada.
Perkembangan masyarakat yang positif dan penemuan-penemuan ilmiah yang telah
mapan, merupakan dasar pertimbangan yang sangat penting dalam memahami al-Qur’an
maupun Hadis asalka sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah
disepakati oleh mufasir.[1]
Abdullah Saeed dalam bukunya Interpreting the Qur’an menyebutkan
setidaknya ada tiga tipologi penafsiran yang berkembang dikalangan muslim :
tekstulais, semi tekstualis dan kontekstualis. menurutnya menurutnya,
klasifikasi ini berdasarkan pada; 1) pemahaman dan penafsiran yang hanya didasarkan
pada kriteria linguistik dalam menentukan makna teks. 2) pemahaman dan penafsiran dengan
mempertimbangkan sosio-historical context
al-Qur’an, sebagaimana konteks pada masa kini.[2]
Penafsiran tekstual
sebelum
melangkah lebih jauh mengenai orientasi tekstual dalam penafsiran, penulis
ingin membatasi sekaligus menegaskan maksud kalimat “tekstual” agar terhindar
dari kesalahn dalm persepsi.
Dalam
teori bahasa apa yang dinamakan teks tidak lebih dari himpunan huruf yang
membentuk kata atau kalimat yang dirangkai dengan system tanda yang telah
disepakati oleh masyarakat, sehingga sebuah teks ketika dibaca bias
mengungkapkan kata yang dikandungnya.[3]
Adapun
maksud kalimat “tekstual” adalah sebuah kecenderungan dari kelompok umat Islam,
yang dalam menafsirkan al-Qur’n dan Hadis bertumpu pada makna lahir teks
(secara literal), tanpa melihat aspek sosio-historis dimana, kapan dan mengapa
teks itu lahir, kelompok ini sering disebut dengan istilah skripturalis dan tekstualis. Kaidah
yang sering diapakai oleh kelompok ini adalah bahwa al-‘ibrah bi ‘Umum al-lafz la bi khusus al-sabab (ungkapan itu
didasarkan pada keumuman teks, bukan pada kehususan sebab).
Dari
keterangan di atas, jelaslah bahwa yang dimaksud “tekstual” adalah kelompok
skripturalis dan tekstualis, yaitu mereka yang menafsirkan teks al-Qur’an dan Hadis
hanya berdasarkan makna harfiah semata dan mengabaikan sisi konteks yang
mengitarinya.
Istilah
skripturalisme atau tekstualisme dimana para penganut paham
tersebut kemudian dikenal dengan istilah skripturalis
atau tekstualis, pada mulanya
lebih dikenal dalam dunia fiqih. Dalam madzhab fiqih kebanyakan kelompok ini
menafikan penggunaan ra’yu dalam pengambilan
hukum. Prinsip
mereka dalam pengambilan hukum tidak memperkenankan pengunaan akal. Kaidah
mereka adalah : La ra’yu fi al-din (rasio
tidak ada tempat dalam agama). Madzahab yang menggunakan kaidah seperti ini
kemudian pada gilirannya disebut madzhab al-Zahiri karena diprakarsai oleh
Dawud al-Zahiri (w. 270 H) yang dilanjutkan oleh Ibn Hazm (w. 456 H), dalam
kitabnya al-Muhalla. Kelompok ini
juga menerapkan tekstualisme yang ketat dan cenderung menampilkan permusuhan
yang ekstrem kepada intelekstualisme, mistisme dan semua perbedaan sektarian
yang ada dalam Islam.[4]
Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa istilah skripturalis atau tekstualis  dalam madzhab
fiqih adalah mereka yang menjadikan nass (teks)
baik al-Qur’an maupun Hadis sebagai satu-satunya sumber otoritas yang sah, mereka
menafsirkan al-Qur’an dan Hadis hanya bertumpu pada makna tekstual-normatif dan
menafikan sisi kontekstual-subtantif dari ayat atau Hadis yang ditafsirkan.
Hemat penulis, penyematan kata skripturalis atau tekstualis ini
berlaku secara umum. Tidak terbatas pada masa atau kelompok tertentu saja dalam
sejarah ilmu tafsir. Tegasnya, siapa saja, sejak masa klasik hinga kontemporer
dewasa ini yang menafsirkan al-Qur’an dan Hadis dengan hanya melihat sisi tekstual
semata tanpa memperhatikan sisi konteks yang melingkupinya, maka itulah yang
disebut kelompok skripturalis atau tekstualis.
Penafsiran Kontekstual
Bahasa al-Qur’an dan Hadis pada mulanya memiliki kaitan dengan ruang dan waktu hingga dikenal ilmu asba al-nuzul , hal ini menimbulkan
persoalan penafsiran ketika umat Islam yang hidup di zaman akhir hanya mengenal
Islam melalui teks-teks keagamaan, khususny al-Qur’an dan Hadis, yang tidak
lagi diketahui konteksnya. Dalam situasi apakah dan bagaimanakah sebuah ayat
diwahyukan, dan dalam konteks apakah Hadis diucapkan oleh Rasulullah. Yang
paling penting dari sejarah adalah nilai i’tibarnya, bukan narasi kronologi
peristiwanya. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan persoalan
i’tibar, terutama ketika al-Qur’an mengisahkan kembali peristiwa-peristiwa yang
pernah terjadi pada umat-umat terdahulu. Karena itu’ dari sisi ini kita
dituntut untuk mencari “what is the behind the story”.
Abudin
Nata menegaskan bahwa yang dimaksud dengan pemahaman kontekstual adalah upaya
memahami ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan konteks dan aspek sejarah ayat itu,
sehingga nampak gagasan atau maksud yang sesungguhnya dari setiap yang
dikemukakan al-Qur’an.[5]
Begitupun ketika memahami Hadis.
Adapun
yang dimaksud penulis dengan kalimat “kontekstual” dalam pembahasan ini adalah
sebuah kecenderungan dari sekelompok umat Islam, yang dalam menfsirkan al-Qur’an
tidak hanya bertumpu pada makna lahir teks (secara literal), tetapi juga
melihat aspek sosio-historis di mana,kapan dan mengapa teks itu lahir. Kelompok
ini sering disebut dengan istilah kontekstualis
dan subtansialis .
Sejauh
pengamatan penulis, meskipun tidak secara tegas disebutkan, kaidah yang sering
mereka pakai adalah al-‘ibrah bi khusus
al-sabab la bi ‘Umum al-lafz
(ungkapan itu didasarkan pada kehususan sebab,
bukan pada keumuman teks). Dalam pandangan kelompok ini pengambilan sebuah hukum
lebih didasarkan pada sebab turunnya ayat (asba
al-nuzul
) atau dalam hadisnya (asbab al-wurud).
Dari keterangan di atas,
jelaslah bahwa pengertian “kontekstual” yang penulis maksud di sini lebih
ditunjukan kepada kelompok kontekstualis dan subtansialis, yaitu mereka yang
menafsirka teks al-Qur’an dan hadis tidak hanya berdasarkan makna harfiah
(tekstual) semata, tetapi juga menekankan sisi konteks yang mengitarinya.
 Penyematan kata kontekstualis dan subtansialis ini berlaku secara umum. Tidak
terbatas pada masa atau kelompok tertentu saja dalm sejarah penafsiran al-Qur’an
maupun hadis. Tegasnya siapa saja, sejak masa klasik hingga kontemporer dewasa
ini yang menafsirkan al-Quran dan Hadis tidak hanya berdasarkan makna harfiah
(tekstual) semata, tetapi juga menekankan sisi konteks yang mengitarinya,
mereka itulah yang disebut kelompok kontekstualis dan subtansialis.[6]
oleh : Ahmad Royani

[1] Kriteria penafsiran yang dapat diterima dan memenuhi kaidah-kaidah
penafsiran ialah penafsiran orang-orang yang : a) menguasai bahasa Arab dengan
segala cabangnya, b)menguasai ushul fiqh
dengan segala seginya, c) mengetahui ulumu
al-Hadis,
d) mengetahui ilmu asbab
al-Nuzul,
e) mengetahui ilmu-ilmu lainnya yang berkaitan dengan penafsiran.
Lihat selengkapnya pada Jalalud Din Abdurrahman as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Musthafa
al-Babil-Halabi Wa Auladuh, Mesir,tth. Juz II, 169-1680
[2] Abdullah seed, Interpreting
the Qur’an;towards a Contemporary Approuch,
(London&New York: Reuledge:
2006), cet I, h. 3
[3] Faris, Salman. “Kontekstualisasi al-Qur’an Muhammad Shahrur.”  Tesis Sekolah Pasca Sarjana,
Universitas Islam Negri Jakarta, 2001.  h.21
[4] Khaled Abu El Fadl, Cita Dan Fakta
Toleransi Dalam Islam ; Puritanisme Versus Pluralisme
(Bandung : Arrasy,
2003) h. 24
[5] Abudin Nata, Al-Qur’an dan Hadis (dirasah Islamiah) (jakarta
: Rajawali press, 1993), h.146
[6]
Faris, Salman. “Kontekstualisasi al-Qur’an Muhammad
Shahrur.”  Tesis
Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Islam Negri Jakarta, 2001.  h.39
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar

Satu tanggapan untuk “Tekstualis Vs Kontektstualis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *