Kelebihan Pendidikan Pesantren yang Tidak Dimiliki Lembaga Lain

Santrionline ~ Secara garis besar, pendidikan di Pesantren dapat di kelompokkan menjadi tiga bagian. Yaitu Ta’lim, Tarbiyah, dan Tabarruk.Ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, dan tanggung jawab kepada santri sampai hati seorang santri itu menjadi bersih dan suci dari segala kotoran sehingga siap untuk menerima limpahan hikmah dan mampu mempelajari sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.

Tarbiyah adalah metode pendidikan untuk pengembangan jiwa seorang santri, lebih dikhususkan lagi untuk pengembangan jiwa seorang santri tahap demi tahap sampai sempurna. Seperti perkataan Imam Nawawy “Menjadikan sesuatu sampai pada kesempurnaannya sedikit demi sedikit” (Anwarut tanzil-).

Sedangkan Tabarruk berasal dari kata al-Barakah. Arti al-Barakah adalah tambahan dan perkembangan dalam kebaikan (زيادة الخير).

Barakah dalam harta adalah ketika bertambah banyak dan digunakan dalam ketaatan kepada Allah.  Barakah dalam umur adalah panjang usia dan banyak beramal baik dalam rentang usia yang panjang tersebut. Barakah dalam ilmu adalah ketika ilmu itu semakin bertambah banyak dan diamalkan serta bermanfaat untukorang banyak.

Dengan demikian, barakah itu laksana pundi-pundi kebaikan dan berlimpahnya nikmat yang diperoleh dari Allah. Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa makna Tabarruk adalah meminta tambahan kebaikan dari Allah.

Ta’lim

Sekilas, metode Ta’lim ini hampir mirip dengan kegiatan KBM di sekolah-sekolah pada umumnya. Namun jika kita lihat lebih dalam, ada banyak sekali perbedaannya. Ada nilai-nilai luhur yang tersembunyi di dalamnya. Tak hanya sekedar menyampaikan materi saja.

Berikut adalah macam-macam pendidikan dari metode Ta’lim :

a. Bandongan
Ngaji Bandongan/Wetonan adalah ngaji yang diikuti oleh semua santri dalam satu tempat, bisa juga satu halaqoh atau satu kelas.

Sang kyai membacakan dan menerangkan kitab yang di kaji dan santri memaknainya.

Dalam metode ini diperoleh atau tidaknya ilmu itu bukan semata-mata karena ketajaman akal saja, melainkan juga bergantung pada kebersihan hati, restu dan ridlo dari sang Kyai.

Disini lama belajar santri tidak di tentukan oleh tahun, tapi di tentukan oleh khatamnya kitab tersebut.

b. Sorogan
Sorogan adalah metode belajar secara individual atau perseorangan di mana seorang Santri berhadapan langsung dengan seorang Kyai atau Guru, dan terjadi suatu interaksi di antara keduanya.

Jadi, metode sorogan adalah cara penyampaian materi pelajaran secara langsung oleh seorang Kyai atau Guru kepada Santri satu persatu. Dengan begitu, Seorang Kyai atau Guru lebih mengenal dan memahami karakter diri seorangSantri. Sehingga tau berapa porsi komposisi pelajaran yang pas untuk Santri tersebut.

Kelebihan yang lain adalah seorang Santri bisa memahami suatu pelajaran dengan tertib, jadi pelajaran yang kemaren-kemaren hampir di pastikan sudah di kuasai, sebab kalau belum menguasai pelajarannya belum di tambah.

Dan model seperti ini tidak ada di Sekolah atau Perguruan Tinggi sekalipun.

c. Muchafadzoh/Hafalan
Hafalan adalah salah satu metode wajib yang di gunakan di Pesantren, salah satu manfaat dari metode ini adalah agar para santri terbiasa untuk berfikir atau cengkir (kencenge pikir). Hafalan sendiri sudah sangat lama di gunakan dalam dunia belajar Islam.Imam Bukhori hafal 100.000 Hadits Sohih dan 200.000 Hadits Dho’if, Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1.000.000 hadits, Imam Al Ghozali hafal 300.000 hadits. Banyak sekali Ulama’ yang hafal ratusan ribu hadits di luar kepala, bahkan banyak juga dari mereka dalam menghafal hanya sekali dengar dan baca saja bisa langsung hafal. Tapi kita tidak pernah mendengar berapa nilai IQ mereka.

d. Syawir/Bahtsul Masa’il
Dengan metode ini, para santri di ajarkan untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan dan menjawab persoalan problematika umat, apalagi tanpa adanya dasar yang jelas.

Tarbiyah

Seperti yang telah di sebutkan di atas, Tarbiyah adalah metode pendidikan pengembangan jiwa seorang Santri agar menjadi sempurna.

Bentuk prateknya berbeda-beda, karena prateknya sesuai dengan kehendak sang Kyai, sebab Kyai lah yang mengerti keadaan jiwa seorang santri sehingga tau persis Trabiyah yang bagaimana yang pas untuk Santri tersebut.

Kadang ada yang di suruh menggembala, menguras kolah, membersihkan area pondok, bahkan tak jarang seorang Kyai menyuruh untuk melakukan sesuatu yang di luar nalar Santri itu sendiri. Tapi justru di situlah letak ujiannya.

Berikut adalah macam-macam Tarbiyah menurut Imam Al Ghozali:

a. Tarbiyah Ruhiyah (Pendidikan Ruhani).
Pendidikan ruhani merupakan salah satu usaha untuk memperkuat hubungan antara ruhani manusia dengan sang pencipta, yaitu Allah Subhanahu wata’alaa.

Tarbiyah Ruhiyah dapat di tegakandi atas dua pondasi, yaitu:

Memupuk keimanan kepada allah dan hari akhir.

Melatih dan membiasakan ruh dengan adab-adab Islam seperti memenuhi berbagai kewajiban-kewajibannya dan berpegang teguh terhadap hukum-hukumnya.

b. Tarbiyah Aqliyah ( Pendidikan Akal)
Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berfikir benar, sehingga mampu memperbaiki pemikiran tentang pengaruh yang bermacam-macam dan realita yang banyak yang meliputinya dengan pemikiran yang tepat dan benar, dan sehingga putusannya benar dan tepat atasnya.

c. Tarbiyah Khuluqiyah (Pendidikan Akhlak)
Menurut Al-Ghazali, ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu:

Mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh.

Perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang.

d. Tarbiyah Nafsiyah (Pendidikan Jiwa)
Dalam menjelaskan jiwa, Al-Ghazali mengibaratkan manusia sebagai sebuah kerajaan.

Sebagai kerajaan rajanya adalah jiwa/hati, wilayahnya adalah tubuh, serta alat indera dan anggota badan lainnya sebagai tentaranya. Akal sebagai menteri, serta hawa nafsu dan sifat marah sebagai polisinya.

Raja dan menteri harus selalu berusaha membawa manusia kejalan yang baik dan di ridhai Allah. Sebaliknya, hawa nafsu dan sifat marah selalu mengajak manusia ke jalan yang sesat dan di murkai oleh Allah.

Agar tercipta ketenangan dan kebahagian dalam kerajaan (diri manusia), kekuasaan raja dan menteri haruslah berada di atas kekuasaan hawa nafsu dan sifat marah. Kalau sebaliknya yang terjadi , pertanda kerajaan itu akanruntuh dan binasa.

e. Tarbiyah Jismiyah (Pendidikan Fisik)
Yang dimaksud dengan Pendidikan Fisik (Physical learning) adalah segala kegiatan yang bersifat fisik untuk mengembangkan biologis ke tingkat daya kekuatan tubuh sehingga mampu untuk melaksanakan tugas yang di berikan padanya, baik secara indifidu ataupun sosial.

Dengan keyakinan bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat “al-aqlussalim fil jismissaslim“sehingga banyak diberikan beberapa permainan danolah tubuh dalam jenis pendidikanini.

Tabarruk

Metode Tabarruk juga tidak ada praktek secara khusus, melainkan lebih di tekankan dalam mencapai tujuannya. Yang paling umum dalam bertabarruk adalah dengan berkhidmah atau mengabdikan diri kepada Kyai, atau melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan Kyai.

Bagaimana cara seorang Santrilagi mengambil hati dari sang Kyai sangat menentukan hasil dari keberkahannya. Keberkahan inilah yang sangat menentukan kemanfaatan ilmu seorangSantri. Atau, jika ilmu seorang Santri itu manfaat berarti ilmunya berkah.

Keberkahan ini seakan-akan menjadi pokok atau puncak selama belajar di Pesantren. Sebab sepintar apapun seorang Santri jika ilmunya tidak berkah akan sia-sia, kemanfaatannya tidak ada.

Keberkahan atau kemanfaatan ilmu seorang santri ini sangat di tentukan oleh ridlo dari sang Kyai.

Oleh sebab itu seorang Santri berjuang mati-matian demi mendapatkan ridlo dari Kyainya agar ilmunya mendapat keberkahan.

Banyak sekali cerita-cerita mengenai keberkahan seorang Santri, seperti KH.Hasyim Asy’ary yang rela menguras WC untuk mencari cincin dari Istri Kyainya Syaikhona Kholil Bangkalan, Santri yang bernama Mustajab/Mas’ud ketika nyantri di Ponpes langitan hanya di suruh angon jaran tapi akhirnya menjadi sangat ‘alim.

(Sumber: MusliModerat.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kelebihan Pendidikan Pesantren yang Tidak Dimiliki Lembaga Lain"

Post a Comment