ABDULLOH DIMATA SANG AYAH

ABDULLOH DIMATA SANG AYAH

Almarhum Abdullah bin Umar Toha, merupakan salah satu dari 7 santri Ponpes Langitan, yang tenggelam di sungai Bengawan Solo, dia wafat dalam keadaan yang insya Alloh sangat mulia dengan jaminan surga ( aamiin ). Mulia ketika wafat didalam tholabul ilmi,bertepatan dengan dihari jum’ah,musibah tenggelam dan dia wafat disaat menolong temannya,namun naas dia sendiri yang harus menjadi korbannya.

Sang ayah menuturkan ( KH.Umar Toha ), bahwa saat itu beliau hendak berangkat khutbah keMasjid Sunan Ampel Surabaya, ketika sudah siap semuanya dan tinggal berangkat tiba-tiba beliau mendapat telpeon dari pihak Pon-Pes Langitan “ Yai, antum harus kesini sekarang juga, bahwa anak antum terlibat kecelakaan perahu,dan saat ini anak antum belum ditemukan “.

Seketika itu beliau langsung mempersiapkan diri untuk berangkat ke TKP. Ada kejadian yang luar biasa yang dilakukan oleh KH.Umar Toha beserta keluarga, yang jarang dilakukan oleh shohibul musibah ( hal ini menunjukkan kepasrahan beliau, ketabahan beliau  disaat menghadapi musibah ).

Beliau KH. Umar ketika hendak berangkat ke POn-Pes Langitan, terlebih dahulu  memegang tangan istrinya dengan mengatakan “ Umi! Apakah umi bisa tegar dan tabah jika nanti di TKP ?,abah tidak ingin umi menangis menjerit-jerit  seperti orang yang imannya lemah, jika ummi nanti disana masih menangis dan menjerit-jerit mending ummi tidak usah ikut “. Sang istripun dengan tegasnya mengatakan, “ Ummi dah siap dan tabah abah”.

SOSOK SANG ANAK

KH. Umar Toha juga menuturkan kepribaian sang anak. Abdulloh adalah anak yang berjiwa sosial tinggi,suka menolong, bahkan jika ada temannya yang tidak betah ( kerasan ) dipondok,maka Abdulloh menghiburnya dengan mengajak ziarah kemakam masyayich langitan, menghibur dengan canda tawa,dan dengan hiburan lainnya,sehingga anak tersebut bias betah tinggal dipondok.

Kebiasaan lainnya adalah jika disaat liburan pondok dan berlibur dirumah,dia masih menyempatkan diri untuk berkunjung kerumah guru-gurunya waktu sekolah Madrasah ( karena sang abah selalu mewanti-wantinya “ bahwa guru madrasahmu/guru-gurumu semua, selamanya tetap gurumu ).

Sebenarnya Abdulloh juga sudah digadang-gadang oleh sang ayah untuk bisa menjadi ulama’ yang mampu menuntun umat, sehingga sang anakpun giat didalam belajarnya, hinggat saat wafat, Abdulloh sudah menghafal AL-Quran kurang lebih 4 juz. 500 bait Alfiyah,dll.namun Alloh berkehendak lain.Manusia hanya bisa berencana, akan tetapi Allohlah Satu-satunya yang berkuasa penuh atas taqdir hamba-hambanya.

Disaat Abdulloh disholatkan di Masjid Jami’ Gresik, sang abah ( KH. Umar Toha ) merasa kaget, karena yang hadir untuk ikut mensholatkan jenazah sang anak sangat banyak sehingga masjidpun penuh, baik ditingkat atas maupun bawah,seolah-olah jenazahnya seorang Kiai besar.
Tidak hanya masyarakat sekitar saja yang hadir,baik dari kalangan Habaib dan para Kiai dari lain daerah pun ikut hadir dalam prosesi sholat jenazah tersebut.

Beliau bahkan mengatakan “ nak! Sayapun belum tentu bisa seperti dirimu, meninggal dalam keadaan mulia,dan banyak yang menghadiri sholat jenazah dan dan ikut mendoakannnya “

Semoga Alloh menempatkan para Santri langitan yang meninggal dalam tragedy Jum’ah 07 Oktober 2016 wafat dalam keadaan husnul khotimah, dalam kedudukan yang mulia disurga, berkumpul dengan para Masyayich disurga,berkumpul dengan para Auliya’,berkumpul dengan para Syuhada’ , dan tentunya berkumpul dengan Tuannya, yakni baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam disurganya Alloh Subhanahu Wata’ala . Aamiin Bisirril Fatihah

Kisah Ta'ziyah di kediaman KH. Umar Toha

Ket Gambar : Abdulloh dengan sang Ayah ( anak yang paling tinggi/sisi kiri )

Sumber : Fp satana Buku Aswaja

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ABDULLOH DIMATA SANG AYAH"

Post a Comment