Kisah seorang Santri tatkala menghadiri undangan seseorang yang memberikan gelar "Santri Sesat, Tolol, Jumud, dll" kepadanya

Hal ini bermula ketika salah seorang pengguna FB mengomentari sebuah postingan yang diunggah oleh salah seorang santri. Pada komentarnya dia memberikan berbagai gelar kepada santri tersebut (tidak enak jika harus disebut semuanya).
Pada gambar di atas terlihat pengguna FB tersebut menulis "Agama tidak mengajarkan kebencian dan agama juga tidak mengajarkan berpeluk mesra dengan kaafiir, karena kaafiir tidak akan ridha sampai ummat muslim mengikuti mereka....wahai santri sesat". Sontak saja komentarnya itu menimbulkan berbagai reaksi dari teman-teman sang santri, sebagaimana yang terlihat pada gambar tersebut juga.
Akhirnya, pada akhir komentar pengguna FB itu mengundang sang santri untuk duduk diskusi di sebuah masjid daerah cibinong. Berikut bunyi undangannya, "Besok saya ketemu di masjid daerah cibinong bogor, nanti saya upload rekaman perbincangannya dengan tema TS ini, dan tentunya di dampingi MUI setempat."
Singkat cerita, sang santri dan pengguna FB sepakat untuk ketemuan.
Keesokan Harinya....
Sang santri melaju menuju tempat janjian. "Meski rodo jauh tetep aku terima undangan dari sahabat FB yang mangasih saya penghargaan dengan label Santi sesat, tolol, jumud, dll." Ujar Sang santri.
"Dari Depok saya sendirian hingga Masjid al Musyadad CSC LIPPI, Jalan Raya jakarta-bogor KM 46 Cibinong. Tapi sesampainya di lokasi, saya tidak menemukan siapa-siapa, (masjidnya sepi) sampai-sampai saya tiduran di masjid. Sayangnya sahabat FB yang dari kemaren menggebu-gebu ingin ketemuan gak muncul-muncul. Sudah aku inbox dari sejam sebelumnya padahal, namun tidak ada balasan." Cerita sang santri.
"Kedatangan saya bukan mau debat atau apapun, aku datang hanya ingin silaturrahim, dan ingin "ngangsu kaweruh" sehingga saya tau di mana letak kesesatan dan ketololan saya. Karena banyak kebencian dan permusuhan disebabkan hanya karena salah faham." Sang santri melanjutkan ceritanya.
Hasilnya, sang santri tidak jadi ngopi, ngobrol, dan bersilaturrahim dengan seseorang yang disebutnya sebagai Sahabat FB.
Kisah ini mengajarkan kepada kita semua untuk senantiasa melakukan tabayyun terlebih dahulu, mengedepankan akhlaq, menjaga silaturrahim sesama muslim, dan memenuhi undangan seorang sahabat.

Subscribe to receive free email updates: