Jawaban yang Mengharukan dari Seorang Ustad sekaligus Seorang Suami.

Ga nemu judul ^^
Afwan jiddan agak panjang,
Tidak biasanya ana begitu terharu dengan jawaban seorang ustad yang bahkan namanya tidak terkenal sama sekali, ana pun tidak tahu siapa nama ustad tersebut. Ketika ana singgah di salah satu masjid di Jawa Tengah.

“Ustad, saya sedih dan kesal. Kami sudah enam bulan menikah dan belum juga dikaruniani anak. Setiap kali saya berkunjung ke rumah orangtua saya selalu saja ditanya sudah isi belum? Apa lagi tetangga saya yang baru menikah dua bulan lalu, sekarang sudah hamil 4 minggu. Ketika saya berkunjung ke rumah mertua pun sama, Beliau mengatakan kapan punya anak? Kadang ditanya juga, kok belum hamil-hamil sih? Kami sudah memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya baik, tapi kenapa belum juga hamil ustad?” tanya seorang wanita muda.
“Itu semua kehendak Allah, takdir….” jawab ustad.
“Kok jawabannya takdir sih? Serius ustad, saya merasa amat tertekan. Hampir setiap hari ada saja yang menanyakan hal semacam itu…” celetuknya.

“Ustad, kalau saya lain lagi. Kaki suami saya patah 2 bulan lalu karena kecelakaan sehingga Beliau tidak bisa bekerja. Saya terpaksa mencari pekerjaan yang bisa dibawa ke rumah, yaitu jasa cuci dan setrika. Tapi saya merasa sangat lelah ustad karena selain bekerja, saya harus mengurus anak-anak dan mengurus suami saya semantara mertua saya tidak juga membantu, rasanya saya sangat putus asa sekali…” celetuk seorang ibu.

“Bukan hanya ibu-ibu yang punya masalah, saya juga punya keresahan…” ujar seorang laki-laki.
“Saya sudah lima tahun menikah dan sudah berusaha mendidik istri saya untuk menjadi ahli ibadah, tapi ketika saya mengatakan niat saya untuk poligami, ia langsung gusar dan bahkan memasang wajah cemberut lebih dari dua minggu ini. Padahal saya hanya ingin membangun lagi imannya dan mendekatkan dia dengan Tuhan,” lanjut laki-laki tersebut.
“Ustad, saya sedih karena anak saya sangat nakal. Dia sering mabuk-mabukkan dan tidak mau sholat. Terkadang saya menyesal karena telah melahirkannya…” celetuk seorang ibu yang sudah sangat tua.
“Pertanyaannya cukup dulu ya, silahkan ustad untuk dijawab…” ujar seorang pemuda yang mungkin adalah moderator dan notulen dalam majlis tersebut karena nampak sibuk menulis pertanyaan dari para jamaah.

Ana memperhatikan ustad tersebut yang diam beberapa saat sembari menunduk. Nampak seperti sedang berpikir tapi dari rautnya kepiluan pula mulai nampak.
“Sebelum saya menjawab pertanyaan yang sudah ditampung, boleh kah saya sedikit bercerita?” ujar ustad tersebut.
“Boleh ustad…” jawab jamaah serempak termasuk ana meskipun memerhatikan dari kejauhan.

Sebelum berbicara nampak Beliau menghela nafas, “ Saya menikah di tahun 1984 dan di tahun 2013 ini saya belum memiliki momongan. Istri saya pun belum pernah sekali pun merasakan bagaimana rasanya mengandung. Beliau mengalami kecelakan dua minggu setelah kami menikah, saat itu kami mengendarai sepeda motor dan nampak dari kaca spion melaju kencang sebuah bus, saya tidak bisa menghindar karena jarak sudah sangat dekat. Bus tersebut menabrak dan melindas kami, Alhamdulillah saya hanya retak tulang paha yang tidak sampai enam bulan sudah bisa berjalan dengan normal dan sudah bisa beraktivitas seperti sediakala, sedangkan istri saya sampai saat ini tidak bisa berjalan bahkan kami tidak bisa melakukan hubungan suami istri (afwan jiddan) sejak dua minggu pernikahan kami karena apa yang menimpa Beliau, maaf saya tidak bisa menceritakan apa yang Beliau derita. Mertua saya meminta saya untuk mengembalikan anaknya karena waktu itu usia saya masih sangat muda, dengan tujuan agar saya bisa menikah lagi dengan orang lain, tapi saya menolak dan bertekad merawat istri saya hingga saat ini. Satu sampai dua tahun petama, saya mulai goyah dan berniat untuk menuruti permintaaan mertua saya yaitu mengembalikan putri mereka, sungguh… itu penyesalan yang amat dalam bagi saya karena sempat goyah….”

“Saya menginginkan kehidupan rumah tangga yang normal, saya menginginkan seorang istri yang normal sehingga bisa melayani saya dan saya menginginkan anak dari hasil pernikahan kami. Lewat istikharoh lebih dari dua bulan lamanya, alhamdulillah saya tersadar. Pernikahan itu bukan hanya untuk menghasilkan anak dan bersenang-senang dangan wanita. Dalam pernikahan itu ada kesedihan yang bila diikhlaskaan akan menghasilkan senyum, ada kesengsaraan yang apabila kita melapangkan dada justru kita mengucap syukur, dan ada bahagia yang terkadang kita salah menduganya. Istri saya meminta pulang ke orangtuanya karena merasa tidak enak hati, selain saya berkerja, saya pun mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga dan mengurus istri saya. Sarapan di meja sebelum berangkat kerja, itu hanya ilusi jika saya tidak mengerjakannya, pakaian bersih dan rapi…tinggal pakai, itu hanya fatamorgana jika sepulang kerja saya tidak mencuci dan menyetrika, rumah bersih dan lantai harum pun hanya angan jika saya tidak bangun pagi-pagi untuk bebenah. Istri saya merasa malu dan sungkan karena merasa meropotkan saya….” ujarnya sembari mengusap matanya yang mulai lembab.

“Semoga Allah meridhoi mereka…” ucap ana dalam hati.

“Banyak yang bertanya kenapa saya tidak menikah lagi? Sulit untuk dijawab dengan kata-kata setiap kali saya mendapai pertanyaan macam ini. Saya menikah bukan karena diawali suka sama suka tapi karena perjodohan orangtua. Jujur saja, saya pun tidak tahu apakah saya benar-benar mencintai istri saya atau tidak, yang saya tahu hanyalah saya harus mengemban amanah Allah. Bahkan yang disebut-sebut menikahi wanita lebih dari dua sebagai sunnah, tidak terfikir oleh saya. Ada banyak cara untuk membeli Jannah bagi istri saya selain jalan tersebut. Saya memiliki cara lain untuk mendekatkan istri saya kepada Allah, tapi bukan jalan yang satu itu. Saya tidak menentang poligami hanya saja, saya menyadari bahwa saya dan istri saya belum cukup ilmu untuk melakukan hal tersbut. Saya takut tidak bisa mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat….ilmu saya masih lah sangat minim, bahkan belum mencapai mata kaki,” Beliau kembali mengusap kedua matanya.

“Pernah suatu sore, istri saya meminta maaf karenanya lah rumahtangga kami tidak sempurna sebagaimana rumah tangga orang-orang. Saat itu saya berkata kepadanya bahwa Aisyah pun hingga wafatnya belum menimang buah hati. Sering sekali ia meminta pulang denga alasan ingin berkumpul dengan orangtuanya saja, saya mengatakan padanya bahwa kami hanya tinggal berjarak dua rumah dari rumah orangtuanya dan setiap hari orangtuanya pun menjenguk dan mengajaknya bicara sehingga saya mengatakan kepadanya nanti kalau rindu saya akan antarkan dia berkunjung. Saya mencoba memahami bahwa bukan itu yang ia mau, saya memahami bahwa ia hanya merasa tidak enak hati kepada saya. Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya ia mengerti bahwa apa yang saya lakukan adalah bentuk dari kewajiban saya kepada Allah, yaitu menjaga amanah. Kadang ada yang berkata bahwa menikah lagi itu diperbolehkan jika istri dalam keadaan sakit semacam itu, saya mengerti betul hal tersebut…tapi saya tidak mampu, saya tidak bisa….saya tidak bisa karena ketakutan saya yang amat besar dengan pertanggungjawaban akhirat…”

“Setiap kali saya rebah, saya selalu berdoa ‘Ya Allah ya Rabb…karuniakanlah rasa takut dalam diri hamba kepada-Mu agar hamba senantiasa taat dan patuh kepada-Mu...agar hamba senantiasa takut dengan azab akhirat….”  Ia kembali mengusap kedua matanya.

“Istri, suami, dan anak itu amanah yang amat besar pak…bu… Surga atau Neraka kalian pun satu rangkaian dengan keduanya. Mereka bisa membawamu ke Surga, bisa juga membawamu ke Jahannam, Na’udzubillah… menikah lagi itu perkara yang mudah, yang sulit itu mengingkari ketakutan kepada Allah yang ada dalam diri saya. Bersabarlah…dunia ini hanya sementara, kita hidup hanya sangat sebentar sekali.  Jangan sampai kita mengorbanakan kehidupan yang kekal hanya demi kebahagiaan di dunia yang singkat ini….bersabarlah…” ujarnya.

“Membaca Al Qur’an jangan hanya dengan pemahaman diri sendiri, ketahuilah bahwa Al Qur’an memiliki tingkat bahasa yang tidak bisa kita pahami tanpa bantuan tafsir. Kita harus mengerti riwayat turunnya, kenapa ayat itu turun, dalam keadaan seperti apa ayat tersebut  turun, untuk siapa ketika itu ayat tersbut diturunkan dan lain sebagiamaa sehingga kita tidak asal menjalankan sesuatu menurut penafsiran kita pribadi. Jangan menuntut kebahagiaan di dunia sebagaimana yang kita angankan, tapi bersyukurlah atas seluruh kejadian setiap detiknya….”

“Masihkah butuh jawaban dari pertanyaan bapak dan ibu yang tadi?” tanya Beliau.
“Tidak ustad…” jawab sebagian jamaah.

Copas..agak panjang #DiCopas_dari_FB_Ummi_Aisha

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jawaban yang Mengharukan dari Seorang Ustad sekaligus Seorang Suami. "

Post a Comment