Seperti ini lah Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja

  

Oleh: M. ImaduddinKelahiran
Aswaja, atau lebih tepatnya terminologi Aswaja, merupakan respon atas
munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam memahami dalil-dalil agama
pada abad ketiga Hijriah. Pertikaian politik antara Khalifah Ali bin Abi
Thalib dengan Gubernur Damaskus, Muawiyah bin Abi Sufyan, yang berakhir
dengan tahkim (arbitrase), mengakibatkan pendukung Ali terpecah menjadi
dua kubu.

Kubu pertama menolak tahkim dan menyatakan Ali,
Muawiyah, Amr bin ‘Ash, dan semua yang terlibat dalam tahkim telah kafir
karena telah meninggalkan hukum Allah. Mereka memahami secara sempit
QS. Al-Maidah:44: “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah
maka mereka telah kafir”. Semboyan mereka adalah laa hukma illallah,
tiada hukum selain hukum Allah. Kubu pertama ini kemudian menjadi
Khawarij.

Sedangkan kubu kedua mendukung penuh keputusan Ali,
sebab Ali adalah representasi dari Rasulullah saw, Ali adalah sahabat
terdekat sekaligus menantu Rasulullah saw. Keputusan Ali adalah
keputusan Rasulullah saw. Kubu kedua ini kemudian menjadi Syiah.
Belakangan, golongan ektstrem (rafidhah) dari kelompok ini menyatakan
bahwa tiga khalifah sebelum Ali tidak sah. Bahkan golongan Syiah paling
ekstrem yang disebut Ghulat mengkafirkan seluruh sahabat Nabi Saw
kecuali beberapa orang saja yang mendukung Ali. Di sinilah awal mula
pertikaian antara Syiah dengan Khawarij yang terus berlangsung hingga
kini.

Khalifah Ali kemudian dibunuh oleh Khawarij. Pembunuhnya
adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang penganut fanatik Khawarij.
Menyedihkan, Ibnu Muljam ini sosok yang dikenal sebagai penghafal
Al-Quran, sering berpuasa, suka bangun malam, dan ahli ibadah. Fanatisme
dan minimnya ilmu telah menyeretnya menjadi manusia picik dan sadis.

Berdasarkan
musyawarah ahlul halli wal áqdi yang beranggotakan sahabat-sahabat
besar yang masih tersisa waktu itu, menyepakati kedudukan Ali sebagai
khalifah digantikan oleh puteranya Al-Hasan. Namun Al-Hasan hanya dua
tahun menjabat sebagai khalifah. Ia mengundurkan diri dan menyerahkan
jabatan khalifah kepada Muawiyah karena menurut ijtihadnya mengundurkan
diri adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan umat. Dalam
sejarah, tahun pengunduran diri Al-Hasan dinamakan“am al-jamaáh” atau
tahun persatuan.

Naiknya Muawiyah menjadi khalifah menimbulkan
reaksi keras dari kelompok Syiáh dan Khawarij. Mereka menolak
kepemimpinan Muawiyah dan menyatakan perang terhadap Bani Umayah.
Perselisihan makin memuncakmanakala Muáwiyah mengganti sistem khilafah
menjadi monarki absolut, dengan menunjuk anaknya Yazid sebagai khalifah
selanjutnya.

Di sisi lain, tragedi Karbala yang menyebabkan
terbunuhnya cucu Rasulullah saw Al-Husein dan sebagian besar ahlul bait
Rasulullah saw pada masa Khlalifah Yazid bin Muawiyah, telah mengobarkan
semangat kaum Syiah untuk memberontak terhadap Bani Umayah. Pertikaian
selanjutnya melebar jadi pertikaian segitiga antara Bani Umayah, Syiah,
dan Khawarij. Pertikaian terus berlanjut hingga masa Bani Abbasiah. Dua
kelompok ini senantiasa merongrong pemerintahan yang sah.

Chaos
politik yang melanda umat Islam awal pada akhirnya juga melahirkan
kelompok lain di luar Syiah dan Khawarij. Pada awal abad ketiga Hijriah
muncul kelompok Murjiáh, yang berpendapat bahwa dalam persoalan tahkim
tidak ada pihak yang berdosa. Dosa dan tidaknyaserta kafir dan tidaknya
seseorang bukanlah diputuskan di dunia, melainkan di akhiratoleh Allah
SWT.

Dari persoalan politik kemudian merembet menjadi persoalan
akidah.Perdebatan siapa yang bersalah dalam konflik antara Ali dan
Muawiyah melebar jadi perdebatan tentang perbuatan manusia. Setelah
Murjiáh, muncullah aliran Jabbariah (fatalisme) dan Qodariah(fre act and
fre will). Jabbariah berpendapat, perbuatan manusia diciptakan oleh
Tuhan, artinya manusia tak lebih laksana wayang yang digerakkan oleh
dalang. Qodariah berpendapat sebaliknya, bahwa manusia sendirilah yang
menciptakan perbuatannya tanpa ada “campur tangan” Tuhan terhadapnya.

Setelah
Qodariah dan Jabbariah, berikutnya muncul aliran Mu’tazilah yang
berpendapat sama dengan Qodariah dalam hal perbuatan manusia, namun
mereka menolak penetapan sifat (atribut) pada Allah. Menurut Mu’tazilah,
bila Allah memiliki sifat berarti ada dua materi pada Allah, yakni Dzat
dan Sifat, hal ini berarti telah syirik atau menduakan Allah.

Lahirnya
aliran-aliran ekstrem setelah Syiah dan Khawarij bukan hanya
disebabkanoleh persoalan politik yang melanda umat Islam awal, akan
tetapi juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dari luar Islam. Hal
ini merupakan imbas dari semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam yang
meliputi wilayah-wilayah bekas kekaisaran Persia dan Romawi yang sudah
lebih dahulu memiliki peradaban yang mapan dan telah bersentuhan dengan
rasionalisme Yunani dan filsafat ketimuran.

Seperti yang saya
kemukakan di awal tulisan ini, kemunculan istilah Aswaja merupakan
respon atas kelompok-kelompok ekstrem pada waktu itu. Aswaja dipelopori
oleh para tabiín (generasi setelah sahabat atau murid-murid sahabat)
seperti Imam Hasan Al-Bashri, tabi’tabiín (generasi setelah tabiín atau
murid-murid tabiín) seperti Imam-imam mazhab empat, Imam Sufyan Tsauri,
Imam Sufyan bin Uyainah. Ditambah generasi sahabat, inilah yang disebut
dengan periode salaf, sebagaimana disebut oleh Rasulullah saw sebagai
tiga generasi terbaik agama ini.

Selepas tabi’ tabiínajaran
Aswaja diteruskan dan dikembangkan oleh murid-murid mereka dan
dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya.Mulai dari Imam Abul Hasan
Al-Asyári, Imam Abu Manshur Al-Maturidi, Imam Al-Haromain, Imam
Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali dan seterusnya sampai
Hadratussyekh Hasyim Asyári.

Dalam memahami dalil Al-Qur’an dan
Sunnah Aswaja mengikuti metodologi para sahabat, yakni metodologi jalan
tengah (moderat), keseimbangan antara pengunaan teks suci dan akal.
Menyikapi pendapataliran-aliran ekstrem tersebut Aswaja mengambil jalan
tengah di antara pendapat-pendapat mereka. Beberapa ajaran pokok Aswaja,
antara lain:

1. Pertikaian
politik yang terjadi di antara para sahabat Nabi saw merupakan ijtihad
para sahabat, bila benar mendapat dua pahala dan bila salah mendapat
satu pahala. Aswaja mengambil sikap tawaquf (diam) atas perselisihan
yang terjadi di antara para sahabat dan menyatakan keadilan para sahabat
(hadisnya bisa diterima).

2. Dalam masalah takfir Aswaja amat
berhati-hati, karena bila sembrono efeknya akan kembali kepada si
penuduh. Aswaja tidak akan mudah mengkafirkan ahlul qiblah atau selama
masih mengakui tidak ada ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah
utusan allah; mengakui hal-hal prinsip dan sudah pasti dalam
agama(al-ma’lum mina diini biddhoruroh) seperti rukun Islam, rukun iman,
dan perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, hisab, shirath,
malaikat, jin, peristiwa isra’ dan mi’raj dll. yang informasi mengenai
hal-hal tersebut hanya diketahui dari Kitabullah dan Sunnah Nabi saw
yang mutawatir.

3. Aswaja juga tidak mudah memvonis sesat sebuah
pemikiran atau pendapat seseorang yang berangkat dari dalil yang tidak
tegas (ijtihadi) atau masih terbuka ruang perbedaan pendapat di
dalamnya. Aswaja amat menghargai perbedaan pendapat karena perbedaan
pendapat di kalangan umat adalah rahmat.

4. Mengenai perbuatan
manusia, Aswaja berpendapat bahwa perbuatan manusia pada dasarnya
diciptakan oleh Tuhan, namun manusia memiliki kuasa (kasb) atas
perbuatannya yang bersamaan dengan kehendak Tuhan.

5. Dalam
memahami teks Al-Quran dan sunnah, Aswaja berpendapat bahwa ada ruang
bagi akal untuk memahami teks. Artinya ada teks yang mengandung makna
haqiqi dan ada teks yang mengandung makna majazi(metaforis) yang membuka
ruang akal (tafsir) untuk memahaminya.

6. Mengenai perbuatan
dosa atau masuk surga dan neraka manusia, Aswaja berpendapat manusia
divonis telah berdosa di dunia apabila telah melanggar hukum-hukum
syariat sedangkan di akhirat mutlak adalah keputusan Allah.

7.
Mengenai sifat Allah, Aswaja berpendapat bahwa Allah memiliki sifat.
Dzat (esensi) dan Sifat (atribut) adalah dua hal yang berbeda namun tak
dapat dipisahkan, seperti halnya sifat manis yang melekat pada gula.
Antara atribut manis dan esensi pada gula keduanya menyatu, namun tak
bisa dilepaskan satu sama lain. Sifat senantiasa menyatu dengan Dzat
(esensi).

8. Terkait dengan politik dan kekuasaan, Aswaja
menyatakan haram hukumnya bughot (memberontak) meskipun pemerintahan itu
zhalim,karena hanya akan menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah
yang tak berkesudahan di kalangan umat. Namun pemerintahan hasil kudeta
adalah pemerintahan yang sah karena terkait dengan kesejahteraan umat
dan legalnya beberapa hukum syariat.

9. Aswaja tidak menolak
tradisi dan kebudayaan yang sudah lama berkembang dan mendarah daging di
tengah masyarakat, asal tidak bertentangan dengan syariat. Namun bila
bertentangan dengan syariat, Aswaja menolak perubahan dilakuan secara
radikal dan revolusioner. Perubahan harusdilakukan secara bertahap.Atau
tidak harus merubahnya, tetapi mewarnai tradisi dan kebudayaan tersebut
sehingga cocok dengan ajaran Islam.
Fleksibilitas Ajaran AswajaSepanjang
sejarah perjalanannya, prinsip jalan tengah yang ditempuh Aswaja, yang
mewujud dalam karakter tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan
tawazun (seimbang) membuat Aswaja mampu hidup dan berkembang di wilayah
mana saja dan mampu melebur dengan kebudayaan setempat, serta senantiasa
mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (dinamis).

Dalam
sejarah penyebaran Islam di Nusantara,dai-dai Aswaja awal di Nusantara
seperti Walisongo tak mengalami benturan dengan kebudayaan masyarakat
Nusantara. Pasalnya, kata Clifford Gertz, dalam menyebarkan agama Islam
mereka tidak hanya berperan sebagai pendakwah yang menyiarkan agama
Islam,akan tetapisebagai cultural broker, makelar budaya.

Oleh
karena itu, saya berani katakan corak Islam di Nusantara 90 persen
terbentuk dari budaya. Hal ini terlihat dari arsitektur rumah ibadah,
istana kesultanan, tradisi dan ritual keagamaan, kuliner, fashion,
hingga sistem pengajaran dan pendidikan.Islam di Nusantara itu unik dan
berbeda dengan Islam di tanah asalnya, Arab.

Orientasi Aswaja Bukan KekuasaanAjaran
Aswaja yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia
orientasinya tidak lain adalah mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan
umat baik bidang agama, sosial, politik, maupun ekonomi. Aswaja
bukanlah golongan yang menjadikan kekuasaan politik sebagai tujuan.
Artinya, bagi Aswaja kekuasaan bukanlah indikator keberhasilan dakwah
islamiah, tetapi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Hal ini berbeda
dengan kaum Syiah dan Khawarij yang orientasi utamanya adalah kekuasaan
politik.

Dengan prinsip jalan tengahnya, dalam bidang
politikAswaja menghendaki tatanan politik yang stabil. Aswaja
mengharamkan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan mengharamkan
sebuah tindakan dan pernyataan yang dapat memicu huru-hara politik dan
chaos. Mengapa? Karena instabilitas politik dapat memicu kekacauan
sosial yang pada ujungnyahanya akan menyengsarakan rakyat.

Aswaja
menyatakan bahwa Islam tidak meninggalkan sistem politik apapun.
Mengenai pengaturan negara diserahkan kepada masyarakat yang membentuk
negara itu. Islam tidak mempersoalkan sistem demokrasi atau monarki.
Islam hanya memerintahkan seorang pemimpin harus adil dan berakhlakul
karimah, senantiasa musyawarah, serta berkomitmen untuk menyejahterakan
rakyatnya, sebagaimana kaidah fiqh “tashorruful imam ála roíyah manuthun
bil mashlahah” kebijakan seorang pemimpin berdasarkan kesejahteraan
rakyatnya.

Dalam bidang sosial, Aswaja menginginkan sebuah
tatanan masyarakat yang beradab(tamaddun), dalam arti masyarakat yang
membangun, saling menghormati, dan toleran, meski berbeda agama, suku
bangsa, dan budaya. Inilah tatanan masyarakat ideal sebagaimana telah
diwujudkan oleh Nabi Muhammad saw 14 abad yang lalu ketika membangun
masyarakat madani (civil society) di Madinah.

Dalam bidang
ekonomi, Aswaja menekankan pemerataan ekonomi. Aswaja mengambil jalan
tengah antara kapitalisme-liberalisme dan sosialisme-komunisme. Aswaja
mengharamkan monopoli atas kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Aswaja
juga mengharamkan sumber daya alam dan mineral sebuah negara dikuasai
oleh pribadi atau segelintir orang. Aswaja menekankan keseimbangan
antara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat sehingga tercipta
keadilan sosial dan ekonomi.

Aswaja dan NasionalismeBagi
Aswaja, agama dan nasionalisme tak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi
mata uang. Agama dan nasionalisme saling mendukung. Nasionalisme tanpa
agama akan kering nilai-nilai, sementara agama tanpa nasionalisme tak
mampu menyatukan elemen-elemen bangsa. Hadratussyekh Hasyim Asyári jauh
sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan menyatakan,cinta tanah air
sebagian dari iman. Siapa yang tidak mencintai tanah airnya maka belum
sempurna imannya. Inilah prinsip jalan tengah Aswaja dalam menyikapi
persoalan kebangsaan. Al-Quran secara jelas mengatakan: “sesungguhnya
Kami (Allah) menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan dan
menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling
mengenal (berinteraksi)”.

***

Alhasil, Aswaja bukan hanya
sebuah pandangan keagamaan, akan tetapi lebih jauh merupakan pandangan
hidup (way of life) seorang muslim dalam menyikapi lingkungannya yang
majemuk dan dinamis. Aswaja adalah manhajul fikrah wal harakah (landasan
pemikirandan gerakan) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik
berhubungan dengan agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Seorang muslim penganut Aswaja mampu hidup dan menyesuaikan diri serta
dituntut untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman
masyarakat di manapun mereka hidup. Wallahua’lam

Timur Jakarta, 882016
Penulis adalah Sekretaris PC GP Ansor Jakarta Timur dan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *