Say No To "MENIKAH MUDA"

Dewasa ini "Menikah Muda" menjadi sebuah euforia yang terjadi di tengah-tengah ruang lingkup pemuda-pemudi. Hal ini terjadi karena didorong oleh maraknya sepasang kekasih yang tak sedikit lebih memilih dan mantap untuk melakukan nikah muda, sehingga animo-animo untuk ikut melakukannya pun menjadi turut terpacu. Kemudian, konsensus-konsesus negara yang membahas persoalan ini juga lambat laun mengalami ketumpulan, seperti UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa batas minimal usia perkawinan untuk perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. Lalu juga ada pasal lain yang menyebutkan bahwa pernikahan di bawah usia 21 hanya bisa dilangsungkan dengan persyaratan tambahan. Aturan mengenai usia nikah itu juga ditegaskan kembali dalam PP No 9 tahun 75 dan Instruksi Presiden No 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Dalam rekam jejaknya sebuah plot "Menikah Muda Untuk Menjauhi Maksiat" pun menjadi sebuah ajimat bagi pelaku-pelaku nikah muda untuk mencabut taring sang undang-undang.

Dalam perspektif Islam sendiri pun memang tak ada batasan usia dalam mengabsahkan setiap individu untuk melakukan pernikahan. Tapi perlu diingat bahwa dalam Islam juga telah merancangkan point-point penting apa-apa saja yang harus dilakukan oleh pria dan wanita (حقوق الزوجين) ketika sudah memasuki sebuah pernikahan. Maka sebelum melakukan pernikahan, kita dituntut untuk dapat mengetahui apa-apa saja point-point penting tersebut.

Plot sekaligus sebuah ajimat bagi kalangan tertentu diatas pun seolah-olah mengindikasi bahwa cara yang paling efektif dalam menghindari maksiat adalah nikah muda. Dalam ketidaksiapan dan kelabilan seorang pemuda-pemudi, hal ini akan bisa berdampak sangat fatal. Alih-alih dengan bersandar pada plot "menikah muda untuk menjauhi maksiat" pun bisa saja akan mempengaruhi mental giroh seseorang yang sedang tekun dalam proses studi. Akibatnya ia lebih memilih tak melanjutkan studinya lalu membanting setir untuk menikah muda. Padahal hemat penulis, studi atau belajar ialah merupakan wujud nyata dari semua cara yang paling efektif untuk menghindari maksiat ketimbang dari menikah muda. Kenapa ?
Hal ini di timbang atas beberapa faktor, Maksiat teraplikasi dari sebuah keawaman dalam keintelektualan seseorang, simplenya ketika seseorang minim akan pengetahuan agama, besar kemungkinan maksiat tak akan bisa dihindari. Sebaliknya, ketika seseorang mempunyai kemumpunian dalam literatur pemahaman agama, kecil kemungkinan maksiat bisa terjadi. Mari simak warning yang diutarakan oleh Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man yang tertuang dalam kitab al-Asybah wa an-Nadzoir li Ibni Najm :

ولا تتوزوج الا بعد أن تعلم أنك تقدر على القيام بجميع حوائجها واطلب العلم أولا ثم اجمع المال من الحلال ثم تزوج, فانك ان طلبت المال في وقت التعلم عجزت عن طلب العلم ودعاك المال الى شراء الجواري والغلمان وتشتغل بالدنيا والنساء قبل تحصيل العلم, فيضيع وقتك ويجتمع عليك الولد ويكثر عيالك فتحتاج الى القيام بمصالحهم وتترك العلم.
واشتغل بالعلم في عنفوان شبابك ووقت فراغ قلبك وخاطرك ثم اشتغل بالمال ليجتمع عندك, فان كثرة الولد والعيال يشوش البال, فاذا جمعت المال فتزوج.
"Janganlah engkau (terburu2) menikah kecuali setelah engkau tau bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan2 istrimu. Carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah punya ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah. Jika engkau mencari harta benda di tengah2 waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang2 sekitarmu, dan engkau akan tersibukkan dengan urusan dunia juga wanita sebelum engkau benar2 mendapatkan ilmu. (jika itu yang terjadi) maka waktumu akan tersia-siakan, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga. Oleh karena itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi kebutuhan2 mereka dan engkau lalu meninggalkan ilmu.
Sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu (setelah ilmu berhasil diraih), sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda, karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiran. Dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah."

Cermati ! Bagaimana Imam Abu Hanifah An-Nu’man memposisikan sebuah pernikahan dalam urutan terakhir. Maka tak heran ulama' sekaliber Imam Nawawi lebih memilih berburu ilmu ketimbang berburu gadis (menikah) hingga akhir hayatnya. Dengan konsisten memegang prinsip, toh tidak lantas membuat beliau terjebak dalam kemaksiatan ?!

Jadi pada akhirnya, Ilmu merupakan puncak dari segala puncak,
وشرف العلم لايخفى على أحد إذ هو المختص بالإنسانية لأن جميع الخصال سوى العلم، يشترك فيها الإنسان وسائر الحيوانات: كالشجاعة والجراءة والقوة والجود والشفقة وغيرها سوى العلم.
Tidak seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa dimiliki binatang.

Kesimpulannya, wahai saudara-saudariku yang sedang menuntut ilmu, khususnya ilmu agama. Tetap rapatkan barisan untuk terus semangat dalam mencari Ilmu, jangan terpengaruh dengan plot-plot murahan yang dapat mengganggu konsentrasi dalam aktivitas belajar kalian menjadi down. Karena,
Menikah tanpa ilmu, it's imposible !
Mencari ilmu tanpa menikah, it's posible !
Sudah menikah tanpa ilmu lalu bermaksiat, it's posible !
Tidak menikah mempunyai ilmu lalu bermaksiat, it's imposble !

Wallahu a'lam

- Rois Faisal .R -

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Say No To "MENIKAH MUDA""

Post a Comment