Santri Pesantren Gugel: Ga Betah Tidur, Paling Benci Libu

Jauh sebelum wacana sekolah seharian penuh digulirkan, atau bahkan jauh sebelum intitusi bernama sekolahan didirikan, masyarakat kita sudah akrab dengan sistem pembelajaranyang tidak hanya berlangsung seharian, tapi malah ga pulang sekalian! Sistem pendidikan itu umum ditemukan di pesantren. Lembaga pendidikan ini mengajak para siswa (santri) bukan hanya untuk belajar (study), tetapi juga mengerti (learn) banyak hal penting dalam hidup ini. Santri tidak hanya dididik untuk menjadi orang yang cerdik, tetapi juga –dan ini yang lebih penting—dilatih keras untuk bisa menjadi orang yang baikdan asyik.Meski kebanyakan santri adalah pengangguran, namun rutinitas harian mereka penuh sesak dengan seabrek kesibukan. Tentu saja aktifitas mereka, tak lain tak bukan, adalah belajar mulai pagi buta sampai malam gelap gulita. Pesantren ‘Inggris’ Assalam di Bogor misalnya, merupakan satu dari sekian banyak pesantren lain di negeri ini yang juga melakukan hal itu. Mengajarkan santri untuk bukan saja pandai di pelajaran, tetapi juga kuat dalam karakter kemandirian.Santri di pesantren yang jugadijuluki sebagai pesantren Gugel ini (gugel adalah singkatan dari Gunung Geulis, lokasi pesantren Assalam di Bogor) paling tidak betah tidur dan sangat benci libur. Rata-rata santri dipesantren ini tidur pukul 11 atau 12 malam, pukul 4 subuh mereka sudah bangununtuk kemudian beraktifitas lagi hingga pukul 11 atau 12 malam nanti. Capek? Tentu iya, tapi, mau berhenti? Nggak! Begitu kira-kira gambaran kondisi para santri. Mereka tentu kelelahan dengan padatnya aktifitas harian, tapi mereka menemukan semacam keasyikan dalam kelelahan itu. Keasyikan yang membuat mereka tak mau berhenti barang sebentar.Selain kitab kuning dan kajian keagamaan, pelajaran utama di pesantren ini adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Meski termasuk pelajaran sulit, Matematika tetap dijadikan pelajaran utama sebab ia adalah dasar dari segala ilmuhitung-hitungan. Begitu pula dengan bahasa Inggris, pelajaran ini bukan hanya diberikan di jam-jam kelas saja, tetapi digunakan langsung sebagai ‘bahasa resmi’ sehari-hari. Ya, santri di pesantren ini setiap harinya berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Khusus untuk bahasa Inggris, para santri kerap diajar langsung olehNative Speakersyang berasal dari berbagai negara.Namun, jika diminta untuk menunjuk satu saja hal yang paling berkesan dari pesantren ini, tentu itu adalah semangat belajar para santrinya. Pesantren ini tidak memiliki timubudiyahyang bertugas membangunkan santri, ataungoprak-ngopraksantri untuk segera masuk kelas dan belajar; para santri bangun sendiri dan bahkan balapan untuk segera masukkelas. Jika guru yang ditunggu belum datang, meski hanya lambat beberapa menit saja, mereka tak akan segan untuk segera menyebar dari mencari di mana guru itu berada.Semangat belajar yang sangat tinggi dari para santri inilah yang membuat segalanya menjadi lebih mudah. Kitab kuning, komputer, disain visual, drama, matematika, bahasa Inggris, hingga pelajaran memasak dan berenang, semuanya dilahap dengan cepat dan mantab. Para santri yang masih berusia belasan tahun ini sepertinya telah lupa bagaimana rasanya malas-malasan dan menghabiskan hari tanpa ada satu pun kesibukan. Mereka terus bergerak karena mereka tahu, cita-cita mereka jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan.Dari sini saya semakin tahu mengapa para santri banyak yang menjadi orang hebat di kemudian hari, yakni; karena mereka ga betah tidur dan paling benci libur!

(Suara Pesantren/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Santri Pesantren Gugel: Ga Betah Tidur, Paling Benci Libu"

Post a Comment