Rokok Naik, Pemerintah Buta Aspek

Pasca wacana "Fullday school" yang sempat membuat geger berbagai pihak, kali ini masyarakat di gegerkan kembali dengan munculnya wacana "Kenaikkan Harga Rokok" yang oleh Ade Komarudin, Ketua DPR RI sekaligus politisi Partai Golkar ikut menyetujui dengan adanya kenaikan harga rokok hingga menembus Rp 50.000 per bungkus tersebut. Dalihnya, naiknya harga rokok bakal mengurangi kebiasaan masyarakat merokok dan rokok merupakan musuh bangsa.

Hemat penulis, hal demikian dapat mengindikasikan kepada kebutaan aspek yang dilakukan pemerintah. Harusnya dalam hal ini pemerintah dapat lebih fair dengan melihat dari berbagai aspek dan tidak hanya melihat dari satu segi aspek saja. Contoh kongkritnya yaitu melalui pendekatan aspek dari segi ekonomi dan kemanfaatan, seperti apa yang dikatakan oleh Ketua Umum PMII DIY Faizi Zain, “Jika harga rokok naik, otomatis konsumen akan berkurang dan yang dirugikan adalah petani tembakau,” ujarnya ketika ditemui di Sekretariat Cabang PMII DIY, Jumat (19/8).

Kemudian, dari segi manfaat sendiri nampaknya pemerintah juga harus melakukan observasi, khususnya ke lingkungan pondok-pondok salaf di nusantara agar pemerintah dapat menyaksikan dengan real bagaimana posisi rokok sangat bermanfaat bagi sebagian santri yang notabenenya melakukan aktifitas belajar hingga larut malam. Dampaknya adalah, ketika wacana tersebut benar-benar terealisasi akan menghantam ekonomi santri-santri itu sendiri. Coba bayangkan, kesederhanaan yang selalu dijalani oleh mereka sehari-hari akan berubah memprihatinkan dengan penyempitan ekonomi karena kenaikkan harga rokok tersebut.

Disini pemerintah di tuntut agar sedikit bijak dalam melangkah. Harusnya pemerintah juga berkaca kepada ulama' ulama' dahulu yang tak sembarangan mengeluarkan fatwa haram rokok, karena beliau-beliau sangat balance dalam memporsikan sudut pandang. Dari sifat fair ini pula lah terlahir sebuah kitab monumental karya putra bangsa, Syeikh Ihsan yang membahas rokok dari berbagai aspek. Syeikh Hazim Abu Ghazalah, selaku ulama Yordania pun memberikan contoh dalam bersikap bijaksana melalui fatwanya,

ان حكم الاسلام في التدخين ، لم يرد فيه نص قطعي ، في كتاب الله تعالى او سنة رسوله ، محمد صلى الله عليه وسلم ، وانما ورد قوله تبارك وتعالى «يحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ، وكلمة الخبائث هنا كلمة عامة لا تشير الى الدخان بعينه ، وانما تشير الى ما ورد في النص من المحرمات ، كشرب الخمر والميسر ، والزنا ، والربا ، وغير ذلك.

لذلك لا نستطيع ان نحكم حكما قطعيا في تحريم الدخان ، او كراهيته التحريمية ، وانما ننصح اخواننا واخواتنا المدخنين ان يتركوا ، ويبتعدوا عن هذه النبتة الخبيثة
Hukum Islam dalam soal merokok adalah tidak ada dalil eksplisit (qath'i) dalam Quran atau Sunnah (hadits) Nabi. Yang ada adalah firman Allah dalam QS Al-A'raf 7:157. Ayat ini sangat umum dan sama sekali tidak mengarah pada rokok. Ayat ini merujuk pada apa yang terdapat pada perkara-perkara yang diharamkan seperti minum khamr (minuman keras), judi, zina, riba, dan lain-lain. Oleh karena itu, saya tidak bisa menetapkan hukum yang pasti untuk mengharamkan rokok, untuk menghukumi makruh tahrim. Saya hanya bisa menganjurkan saudara-saudara kita yang perokok agar meninggalkan kebiasaan buruk ini.

Jadi saran penulis alangkah baiknya pemerintah jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Edukasi dan sosialisasi sepertinya lebih efektif untuk pemerintah lakukan, ketimbang MENAIKKAN HARGA ROKOK.

Wallahu 'alam

Rois Faisal Ridho

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rokok Naik, Pemerintah Buta Aspek"

Post a Comment