Pondok Mansajul Ulum, Kiai Liwa’uddin Tawadhu, Santri Dingkluk


Pondokku Istanaku Gemuruh suara santri serempak menyairkan syiir bait-bait Alfiyah di sore hari menjelang jammah solat ashar di pondok pesantren Mansajul Ulum. Pondok pesantren salaf ini terletak disebuah perkampungan, tepatnya di desa Cebolek kecamatan margoyoso kabupaten Pati. 

Pondok pesantren ini dihuni oleh kurang lebih dua ratus santri putra dan santri putri dan juga keluarga besar Kyai Liwa’uddin Najib pengasuh pondok pesantren tersebut. Santri yang mukim mayoritasadalah siswa dan siswi yang belajar di sekolah formal tingkat SLTP dan SLTA. Oleh sebab itu kegiatan di pagi hari setelah jamaah solat subuh dan mengaji Alqur’an adalah santri belajar di luar pondok (Sekolah) sampai siang hari.Sepulang sekolah, semua santri bergegas mengambil air wudlu dan melaksanakan jamaah solat zuhur, sambil menunggu kyai Liwa’ datang untuk mengimami jamaah solat zuhur. 

Saya bersama santri-santri yang lain mengumandangkan gema solawat seperti yang diajarkan oleh para kyai- kyai sepuh zaman dulu. Jamaah solat zuhur selesai, waktunya santri untuk istirahat sebelum melanjutkan kegiatan pondok di sore hari nanti.Setiap sudut di aula penuh dengan santri-santri yang tidur terlelap ataupun yang sekadar merebahkan tubuhnya sambil bercanda dengan sesama santri lain. Ada juga beberapa santri yang menikmati makan siangnya dengan lahap. 

Tiba-tiba saya dipanggil kang Isyro (santri ndalem)“Kang….monggo dipun aturi dhahar kalian Pak Yai,”Kang Isyro mengajakku untuk makan siang di ndalem“Nggeh kang… monggo sareng”ujarku seraya mengajak Kang Isyro untuk makan siang bersama untuk memenuhi dhawuhnya Pak Kyai.Setelah itu saya kembali lagi ke kamar bersama Kang Isyro dan pengurus-pengurus lain. Saya beristirahat sejenak sambil berbincang-bincang dengan mereka, saling bertukar pengalaman. Kang Karyono (ketua pondok) bercerita tentang sejarah pondok pesantren Mansajul Ulum mulai dari awal berdirinya hingga sekarang di asuh oleh kyai Liwa. Asyik ngobrol dengan kang-kang pengurus tak terasa tiba saatnya jamaah solat ashar dan dilanjutkan ngaji kitab.

“Kang… ngapuntene.. ajeng nderek wudhu”saya pun meminta izin untuk mengambil air wudhu.“Nggeh nggeh ..monggo monggo”jawab Kang Karyono sambil menunjukkan tempat wudhu.Setelah jamaah solat ashar di teruskan ngaji kitab Jauharotut Tauhid yang diampu oleh beliau Kyai Liwa’. Saya pun ikut ndereake ngaji dengan serius dan khusyuk. Saya bersama santri lain mendengarkan Pak Yai membacakan kitab disertai keterangan-keterangannya.Memang yang namanya santri di pondok hidupnya penuh dengan keberkahan. Tak ada waktu yang terbuangsia-sia. Semua waktu dihabiskan untuk belajar dan mendalami ilmu-ilmu duniawi(umum) ataupun ilmu ukhrowi (ilmu agama). 

Bakdajamaah solat maghrib kegiatan mengajipun dimulailagi dan diakhiri setelah pukul 9 malam. Jadwal ngaji bakda maghrib adalah ngaji kitab Tafsir Jalalain dan bakda isya dilanjutkan belajar wajib sampai selesai.Setelah kegiatan ngaji dan belajar wajib selesai, santri diberi waktu untuk istirahat dan makan malam. saya kembali berkumpul dengan kang-kang santri untuk bersantai ngobrol-ngobrol sambil ngopi.

“Kang….monggo ngopi,”Kang Joyo santri lawas (santri yang sudah lama di pondok) datang membawa dua gelas kopi dan mennyuguhkan kopi kepadaku dan kang-kang santri yang ikut dalam majlis rasan-rasan (perkumpulan santri yang suka ngobrol),“Monggo kangdisruput kopine,”Kang Karyono mempersilakanku untuk meminum kopi dan mengawali perbincangan pada malam itu.Kyai Tawadhu’Seperti biasa suasana di pondok pesantren di pagi hari sepi sunyi. Hanya Kang Isyro dan beberapa santri ndalem yang sibuk melaksanakan tugasnya masing-masing. 

Semua santri melakukan kegiatan rutinnya yaitu belajar di sekolah, hingga siang hari. Sepulang sekolah kegiatan santri pun dilanjutkan di komplek pondok pesantren.Setelah melakukan jamaah solat ashar dan dilanjutkan mengaji kitab, saya mengajak Kang Yono untuk pergi sowan ke ndalemnya pak Kyai Liwa’. Suasana bulan Syawal masih terasa. Banyak tamu berdatangan untuk sowan ke ndalem pak Yai Liwa’ untuk bersilaturrohim dan halal bihalal. 

Saya dan Kang Yono pun ikut serta duduk bersama tamu-tamu yang lain dan mendengarkan wejangan-wejangan yg diberikan oleh kyai Liwa’. Selama berada di ruang tamusaya mendengarkan kalimat yang dihaturkan oleh beliau dengan penuh hikmah.Seperti pepatah “padi semakin berisi, maka semakin menunduk,” semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh beliau maka semakin besar sifat ketawadhukan beliau. Setiap kalimat yangg beliau lontarkan mengandung mauidhotul hasanah. Satu persatu tamu beliau mulai berpamitan,tinggal satu tamu yang bernama Pak Ali, saya, dan Kang  Yono yang tersisa,“Monggo… kalih dipun sambi.. diunjuk monggo” Kyai Liwa’ dengan penuh nada yang lembut mempersilakan kami untuk menyantap jamuannya.“Yai..ngalap cekap. Dalem nyuwun pamit. 

Nyuwun dungo pangestunipun”pinta Pak Ali tamu terakhir selain saya dan Kang Yono untuk undur diri serta minta didoakan oleh kyai Liwa’….“Monggo njenegan seng ndungo, kulo seng ngamini”jawab Kyai Liwa’ dengan rautwajah tersenyum. Akhirnya kyai Liwa’ pun berdoa dan semua yang ada di majlis ikut berdoa seraya menadahkan tangan memohon agar barokah doa kyai Liwak diijabahi oleh Allah.Tiba saat yang saya tunggu-tunggu. 

Hanya saya bersamaKang Yono dan Kyai Liwa’. Kami berharap bisa matur banyak dan mendapatkan wejangan dari Kyai Liwa’ secara intim. Dan Alhamdulillah banyak sekali yang saya dapatkan dari beliau setelah beliau banyak bercerita tentang sejarah perjuangan para muassis (pendiri pondok pesantren) dan perjalanan beliau di pondok pesantren Mansajul Ulum dan di masyarakat.Azan magrib pun berkumandang, pertanda saya dan Kang Yono harus undur diri. Dengan perasaan yang penuh penasaran karena belum puas mendengarkan wejangan-wejangan dari Kyai Liwa’, kamipun memohon diri untukkembali lagi ke pondok untukpersiapan kegiatan jamaah solat magrib dan mengaji.Sifat ketawadhu’an Kyai Liwa’ bukan hanya terlihat ketika beliau bersama santri-santri pondok saja. 

Akan tetapi dalam bermasyarakat beliau juga mencerminkan dan mengajarkan sifat ketawadhu’an yang beliau miliki. Terbukti ketika beliau mengaji dengan jamaah majlis ta’lim (jamaah ngaji bersama orang kampung seminggu sekali) beliau menerapka model ngaji bandongan dan musyawaroh. Jadi setelah beliau membacakan naskah kitab pada bab tertentu, beliau mengajak diskusi dan bermusyawaroh bersama semua jamaah untuk mendapatkan hasil yang mufakat. 

Meskipun secara ilmu beliau sudah mampu memutuskan sendiri tanpa ada musyawaroh, akan tetapipengajian dengan model musyawaroh akan lebih baik sehingga semua pendapat yang dikemukakan dapat ditampung dan dimusyawarohkan bersama. Sehingga sifat tawadhu’ akan selalu melekat pada semua jamaah yang mengikuti pengajian Kyai Liwa’uddin Najib.Santri DingklukSalah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang santri adalah sifat patuh dan ta’dzim kepada kyainya. 

Di pondok pesantren yang diasuh oleh beliau Kyai Liwa’ tersebut semua santri dilatih dan dibiasakan untuk mempunyai sifat patuh dan ta’dzim kepada guru dan kyai. Budaya tersebut saya temukan ketika salah seorang santri yang berjalan melewati ndalem Kyai Liwa’ selalu dingkluk, bahkan ketika beliau sedang tidak ada di depan ndalem. Ada juga ketika seorang santri yang sedang mengendarai sepeda motor, pasti santri tersebut turun dari sepeda motornya mulai dari gerbang masuk pondok dan menuntunnya menuju ke halaman pondok.Malam itu seperti biasanya setelah kegiatan usai saya kembali menemui Kang Isyromengajaknya untuk ngobrol ngobrol sambil ngopi-ngopi. 

Dalam perbincangan di malam itu, Kang Isyro memulai obrolan kita denganbercerita kenapa Kang Isyro masih betah di pondok selama delapan tahun dan masih pingin melanjutkan belajarnya di pondok untuk mengabdi di ndalem. Satu alasan yang membuatnya masih meneruskan masa khidmahnya di pondok adalah selain mengaji, kang Isyro ingin mencurahkan segala tenaganya untu mengabdikan dirinya kepada pondok dan pak Kyai Liwa’ (keluarga ndalem). 

Kang Isyro berharap, dengan beliau mengabdikan diri ta’dzim kepada sang kyai, beliau mendapatkan doa daripak kyai dan ilmu yang bermanfaat. Di situ saya menyimpulkan, kenapa semua santri yang nyantri ke Kyai Liwak semuanya patuh dan Ta’dzim (dingkluk) kepada Kyai Liwa’, karena beliau Kyai Liwa’ bukan hanya mengajari tapi juga mencontohkan sifat tawadhu’ dari diri beliau.Banyak kisah dan pengalaman yang saya dapatkan ketika saya belajar di pondok pesantren Mansajul Ulum. Saya bisa belajar dari santri-santrinya yang selalu ta’dzim dan manut apa yang diperintahkan kyainya. Terlebih saya sangat bersyukur sekali bisa belajar langsung mengaji dengan beliau KH. 

Liwa’uddin Najib. Belajar ilmu agama dengan mengikuti majlis pengajiannya, dan belajar mencontoh akhlak yang dicontohkan kepada semua santri santrinya. Semoga Allah memberikan umur yangpanjang bagi beliau dan memberikan rahmatnya bagi beliau sehingga beliau tetap bisa berjuang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya dalam bertafaqquh fiddin, dan semua santri-santrinya diberikan kesabaran dalam menuntut ilmu dan mendapatkan ilmu yang manfaat dan berkah dunia akhirat.. Amin. []*`Tulisan ini adalah bagian darilaporan program Santri Exchange, program pertukaran santri yang digagas oleh Pusat Studi Pesantren untuk menghubungkan santri satu pesantren dengan pesantrenlain.
(Suara Pesantren/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates: