Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan



Yogyakarta, Santrionline - Toleransi tidak cukup hanya dipahami dan dilakukan tetapi juga dibutuhkan. Karena kita beragam, maka sesuatu yang beragam ini membutuhkan sesuatu untuk disikapi dengan toleransi. Toleransi ini adalah kebutuhan, di dalamnya ada kesediaan diri dan kemampuan untuk memahami perbedaan sekaligus menghargai perbedaan tersebut. 

Sehingga masing-masing kita tetap harmonis dan ada dalam keselamatan.Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menjadi Keynote Speaker Seminar Nasional yang mengetengahkan tema Memelihara Toleransi dalam Masyarakat Majemuk yang diselenggarakan Pusat Studi Agama-Agama Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Rabu (10/8). 

Menag mengapresasi tema yang diangkat, karena sangat sesuai dengan konteks Indonesia yang plural."Ini yang saya maknai dengan toleransi," jelas Menag.Dalam pandangannya, dalam iklim kita, toleransi ini sangat dinamis karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yang membentuknya. Belakangan ini, persoalan toleransi ini sangat komplekskarena kita hidup di dunia yang tanpa batas, kita hidup didunia yang mendunia (menglobal). 

Daratan menjadimenyusut tetapi manusia bertambah banyak, sehingga banyak persaingan yang muncul dan menjadi semakin ketat."Dengan era digital yang menjadi kebutuhan manusia, menjadikan persaingan semakin erat. Kehidupan sekarang menjadikan banyak orang semakin stres (bahkan dimulai ketika bangun tidur). Saya ingin menggambarkan bahwa tekanan kita sebagai manusia semakin berat. Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan? Karena saat ini banyak orang yang mudah tersulut emosi dengan hal-hal yang kecil bukan urusan prinsipil," ujar Menag.Tantagan yang dihadapi dalam masyarakat majemuk ini, ujar Menag, adalah tentang pemahanan kita tentangtoleransi itu. 

Ada pengertian di dalam beberapa agama yang memiliki pemikiran bahwa semua orang harus menjadi sama (homogen), tetapi menurut Menag bukan itu yang menjadikeinginan Tuhan."Dalam agama saya mengajarkan bahwa Tuhan itu menghendaki keberagaman. 

Perlu dibedakan sisi dalam dan luar. Sisi dalam adalah hal yang berdasarkan tentang esensial dari agama, sisi luar adalah yang lahiriah (cara peribadatan)," ucap Menag.Berbicara dari sisi luar, terang Menag, banyak cara beribadah (dalam satu agama saja, banyak cara kita beribadah). 

Tetapi jika berbicara sisi dalam, dalam setiap agama sama, misalnya berbicara tentang keadilan, HAM, persamaan di depan hukum, jangan mencuri, dan lainnya."Setiap agama memiliki esensi yang sama, sehingga tantangan yang harus diwujudkan setiap agama adalah berbicara tentang sisi dalam yaitu tentang esensi. Sehingga toleransi dapat terwujud di tengah-tengah masyarakat. 

Konflik yang sering munculadalah karena sisi luar dari setiap agama banyak dimunculkan," ucap Menag.Tantangan yang lain, lanjut Menag, adalah terlalu berlebihan memaknai toleransi. Karena terlalu semangat bertoleransi menyebabkan agama menjadi sama dan tidak dapat dibedakan. 

Perilaku membangun toleransi dapat mendapatkan ancaman ketika toleransi dipahami secara berlebihan sehingga keyakinan itu menjadi terganggu."Prinsipnya adalah toleransi tetap terjadi, namun aqidah setiap agama tetap terjaga. Inilah yang harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana agar kehidupan yang beragam tetap terjaga," tutur Menag.
(NU Online/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates: