Kajian Lafadz كل

كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
“Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”

Lafadz كل dalam kalimat diatas menjadi sangat viral dalam melakukan pengkajian, disebabkan karena golongan radikalisme selalu menafsiri lafadz كل dengan memukul rata tanpa pengecualian, yang dalam hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang tertera dalam konteks turats / kitab klasik. Dalam kajiannya, lafadz كل tersebut sangat memiliki kesensitifan dalam khazanah ilmu mantiq, oleh sebab itu pada kesempatan ini mari kita bongkar lafadz كل dengan pembendaharaan ilmu berdasarkan mantiq dan bukan dengan NAFSU yang sangat menggelitik.

Dalam pandangannya ulama berpendapat kalimat tersebut merupakan kalimat umum namun dikhususkan hanya pada sebagian saja atau istilah kerennya عام مخصوص البعض. Dengan kata lain pembahasan terkait hal ini ialah menyangkut kepada kekolektifan dan kegeneralan lafadz كل.

==========
Mari simak petikan nadzam berikut,

الكل حكمنا على المجموع * ككل ذاك ليس ذا وقوع
وحيثما لكل فرد حكما * فإنه كلية قد علما

"kull" dalam pandangan ilmu manthiq  berarti sebuah kumpulan ( المجموع) dari partikel - partikel, simplenya ialah sebuah hukum akan bisa terjadi hanya ketika partikel - partikel tersebut berkumpul. Sehingga ketika partikel -partikel tersebut terpisah (tak digabungkan) maka hukum tidak akan mengikuti satu persatu.
Contoh :
ويحمل عرش ربك فوقهم يومئذ ثمانية
"Pada hari itu 8 malaikat menyangga 'arsy di atas mereka" (QS. Al-Haqqah : 71)

Lafadz يحمل عرش (menyangga 'arsy) mempunyai hukum yang ditetapkan kepada kumpulan (المجموع) 8 malaikat, dalam arti bahwa penyangga 'arsy adalah kumpulan dari 8 malaikat. Jadi ketika 8 malaikat tersebut tidak terkumpul (terpisah), 'arsy tidak akan mampu di sangga oleh satu di antara 8 malaikat tersebut.

Sedangkan "kulliyyah" dalam ilmu manthiq berarti menghukumi satu persatu partikel secara keseluruhan (tak terkecuali),
Contoh :
كل نفس ذائقة الموت
(Setiap yang berjiwa akan mati)

Lafadz ini memberi makna kulliyyah, sehingga mati akan hinggap kesemua jiwa (tak terkecuali).
==========

Dalam konsensusnya ulama menyatukan langkah untuk menetapkan bahwa كل dalam kalimat diatas dihukumi kolektif atau majmu', hal ini dilakukan bukan hanya keegoisan semata. Para ulama berkonsensus akan hal ini dengan beberapa pertimbangan, salah satunya dengan melihat pada kelaziman istilah bid'ah yang telah digunakan, bahkan sejak zaman para sahabat yang tidak selalu dikonotasikan kepada bid'ah yang buruk seperti halnya perkataan Sayyidina Umar ketika melihat praktek tarawih berjama'ah yang Rasulullah sendiri pun tak pernah melakukan,
نعمت البدعة هذه

Kembali kepada lafadz كل, bahwasannya tak setiap كل bersifat general seperti halnya kalimat,
كل نفس ذائقة الموت
(Setiap yang berjiwa akan mati)

Tapi pada realitasnya lafadz كل kadang bersifat kolektif, seperti dalam pembahasan bid'ah ini. Atau mari kita simak beberapa contoh ayat dan hadits yang menyimpan كل kolektif sebagai bukti akan keeksistensiannya,

1. Al-quran surat Al-Anbiya : 30
وجعلنا من المآء كل شيء حي أفلا يؤمنون
" Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Lafadz كل dalam ayat diatas bukan bersifat general, namun bersifat kolektif. Perhatikan ayat 15 dalam surat Arrahman berikut,
وخلق الجآن من مارج من نار
"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api"

Jika ayat dari surat Al-Anbiya' diatas di sifati dengan كل yang general dengan memukul rata seperti apa yang dilakukan golongan radikalisme dalam menafsiri hadits bid'ah diatas, tentu akan mengalami kontradiksi dengan ayat dari surat Arrahman

2. Al-quran surat Al-Kahfi : 79
وكان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا
"Di belakang mereka ada raja yg akan merampas semua kapal dengan paksa"

Ayat ini juga membuktikan kekolektifan sebuah makna dari lafadz كل, bahwasannya tidak semua perahu yang dirampas oleh raja, melainkan hanya perahu yang bagus saja. Oleh karena itu Nabi Khidir membuat cacat perahunya agar tak dirampas (lihat : Tafsir Jalalain, hal. 218)

3. Hadits riwayat Imam Ahmad
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كل عين زانية
"Setiap mata berzina"

Meski menggunakan lafadz كل, hadits ini tidak berarti mengindikasikan bahwa semua mata berzina. Namun ini kolektif, dalam arti hanya mata yang melihat kepada ajnabiyah

Dan masih banyak lagi ayat-ayat maupun hadits yang menggunakan lafadz كل yang bersifat kolektif / majmu', bukan hanya bersifat general / kulliyyah yang selama ini dipahami oleh golongan radikalisme. Dan dari kajian yang singkat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kalian (golongan radikalisme)  tidak bisa menyalahkan sebagian masyarakat yang menggunakan istilah bid'ah untuk menunjukkan terhadap bid'ah yang baik. Yang pada intinya ulama - ulama terdahulu jauh lebih kredibel ketimbang kalian dalam melakukan pengkajian bid'ah.

Wallahu 'alam

- Rois Faisal .R -

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kajian Lafadz كل "

Post a Comment