Bagaimanakah Cikal Bakal Munculnya MTQ?

Ilustrasi (Republika)


Mataram, SANTRIONLINE
Saat upacara pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Nasional (MTQN) ke-26 di Islamic Centre, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (30/7) malam, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkap cikal bakal perhelatan MTQ yang kini menjadi kegiatan rutin sekaligus budaya bangsa Indonesia.

“Pada mulanya, kegiatan ini diinisiasi para qari di Masjid Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1950-an. Majelis pembacaan Qur’an dengan seni suara itu dimaksudkan sebagai upaya penjiwaan terhadap Qur’an di sanubari umat Islam agar mereka menjadi manusia yang lebih berbudaya,” kata Menteri Lukman.

Hal tersebut, lanjutnya, merupakan tradisi yang dilakukan Wali Songo dalam berdakwah. Karena melihat animo masyarakat yang tinggi, salah satu qori penggagas majelis itu, yakni Kiai Bashori Alwi, menyampaikan kepada pemerintah tentang lomba baca Al-Qur’an tersebut.

“Presiden Soekarno lalu menyambut usulan tersebut dengan menggelar musabaqah internasional pada saat Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Itulah MTQ pertama kali dan langsung bertaraf internasional. Setelah itu, Bung Karno menugaskan 11 orang qori Indonesia bermuhibah ke beberapa negara sahabat,” ungkapnya.

Menteri Lukman menambahkan, setelah merasakan manfaat yang begitu besar dari syiar melalui Al-Qur’an, pemerintah lantas melembagakan MTQN sebagai kegiatan resmi yang digelar secara bergiliran di berbagai daerah. Pada 1968, MTQN pertama digelar di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Saat itu selain tilawah sudah ada beberapa cabang yang diperlombakan semisal kaligrafi, tafsir, tahfidh, dan syarhil Qur’an. Keragaman lomba ini menandakan bahwa MTQN bukan hanya kegiatan yang menampilkan seni suara saja. Namun menjadi forum ilmiah bagaimana menafsir, menalar, dan menarasikan Al-Qur’an,” paparnya.

MTQ kali ini, kata Menteri Lukman, mengambil tema “MTQN, Upaya Mewujudkan Revolusi Mental dalam Pemantapan Ilmu dan Nilai-nilai Islam Rahmatan Lil Alamin.” Terminologi rahmat dalam Qur’an disebut sebanyak 338 kali. “Menurut para ahli tafsir, kata rahmat merujuk kepada hal-hal baik semisal kedamaian, kemakmuran, dan keterbukaan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pada MTQN kali ini untuk pertama kalinya menggunakan sistem aplikasi online. Pemanfaatan teknologi informasi dimaksudkan untuk mengikis potensi kekurangan, meringkas keruwetan, dan menghindari konflik dalam lomba. “Ini adalah upaya konkrit Kemenag dalam rangka menumbuhkan sportivitas serta melahirkan tata kelola yang baik agar MTQN penuh integritas,” pungkas Lukman.

(Musthofa Asrori/Mahbib)

Subscribe to receive free email updates: