Penjelasan Tentang MADZHAB yang hanya PENDAPAT MANUSIA

A. Mazhab Adalah Penjelasan Paling Sah Atas Isi Al-Quran dan As-Sunnah

Yang kita sepakati dari istilah mazhab adalah penjelasan yang asli,
otentik, baku dan ilmiyah tentang kandungan hukum Allah yang tertuang di
dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ternyata Al-Quran dan As-Sunnah yang kita warisi dari Rasulullah SAW itu masih harus dijelaskan dulu sebelum kita laksanakan.

Kenapa harus ada penjelasan? Bukankah Al-Quran dan hadits itu sendiri sudah merupakan penjelasan buat orang yang bertaqwa?

Pertanyaan agak-agak lugu tapi polos ini mungkin sering kita dengar
dari mulut saudara-saudara kita yang sedang belajar ilmu agama. Tidak
apa-apa, namanya saja masih belajar. Wajarlah kalau pertanyaannya agak
polos.

Jawabannya adalah bahwa orang-orang terbaik dari
generasi terbaik saja masih bermazhab dan tidak sok tahu
menafsir-nafsirkan ayat-ayat Allah SWT dengan akal pikiran dan nalar
mereka sendiri. Mereka masih tetap bertanya tentang Al-Quran, As-Sunnah
dan hukum-hukum syariah kepada Rasulullah SAW.

1. Shahabat Masih Harus Minta Penjelasan Al-Quran dari Rasulullah SAW

Pertanyaannya, mereke orang sekelas shahabat itu masih harus bertanya
tentang Al-Quran, padahal mereka mengalami turunnya Al-Quran. Dan bahkan
Al-Quran turun dalam bahasa mereka, yaitu bahasa Arab?

a. Kendala Bahasa dan Istilah

Memang benar ayat-ayat Al-Quran turun dalam bahasa Arab yang khas di
masa Nabi SAW. Namun yang harus diketahui dengan kualitas level bahasa
yang teramat tinggi sastranya. Sehingga terkadang tidak semua shahabat
mampu memahami kata per kata, kalimat per kalimat serta redaksi-redaksi
di ayat Al-Quran itu sendiri.

Seringkali mereka harus
bertanya lagi kepada Rasulullah SAW tentang apa maksud suatu ayat. Jadi
Al-Quran itu tidak otomatis jelas dan mudah dipahami, bahkan oleh
merekea yang selevel para shahabat sekalipun. Tetap saja mereka masih
harus mendapatkan penjelasan dulu dari Rasulullah SAW.

Bayangkan kalau sekelas shahabat saja masih harus bertanya tentang isi
Al-Quran dan kandungan hukumnya, bagaimana mungkin orang di masa kini 15
abad setelah turunnya Al-Quran, tidak paham bahasa Arab, tidak tahu
asal muasal turunnya ayat, tidak tahu jeluntrungannya, tiba-tiba mereka
berhak untuk menafsirkan sendiri? Lalu bikin fatwa aneh-aneh sambil
melarang orang bertanya kepada sumber rujukan aslinya, yaitu para
shahabat?
Sungguh aneh dan tidak masuk akal, bukan?

b. Nasikh Wal Mansukh

Syariat Islam di dalam Al-Quran tidak turun sekaligus, tetapi
berproses. Berproses disini bukan sekedar ayat turun satu persatu,
tetapi lebih dari itu, kadang ada proses perubahan hukum seiring dengan
semakin banyaknya turun ayat.

Hukum yang sudah ditetapkan pada
satu ayat bisa saja diangulir dan diubah menjadi hukum yang lain oleh
ayat yang turun kemudian. Keharaman yang dibawa oleh suatu ayat bisa
diubah menjadi kehalalan oleh turunnya ayat berikutnya. Sebaliknya,
kehalalan yang didasarkan pada satu ayat, kemudian diharamkan oleh ayat
yang turun kemudian.

Banyak sekali orang awam di masa kini
yang sama sekali tidak tahu adanya ayat yang dinasakh atau dibatalkan
hukumnya. Dengan segala keluguannya mereka mengirasa semua ayat itu
berlaku hukumnya sama rata. Mereka tentu harus bertanya dulu kepada
sumber rujukan utama yaitu para shahabat. Tidak boleh asal main
keluarkan fatwa dan hukum seenaknya.

c. Tidak Semua Shahabat Merupakan Ahli Hukum

Satu hal lagi yang harus dicatat juga bahwa tidak semua shahabat itu
ahli dalam hukum agama, meskipun mereka hidup bersama Rasulullah SAW.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in (إعلام
الموقعين) memperkirakan hanya sekitar 130-an orang saja dari para
shahabat yang punya kapasitas dalam mengistimbath hukum.

Padahal kita tahu bahwa jumlah shahabat itu mencapai angka 124 ribu
orang. Dibandingkan yang ahli dalam istimbath hukum, ternyata jauh lebih
banyak mereka yang bukan ahlinya.

Oleh karena itu tidak bisa
kita pungkiri bahwa sesungguhnya para shahabat itu meski bisa bahasa
Arab, mengalami proses turunnya Al-Quran, bahkan menjadi tokoh langsung
di dalam ayat yang diturunkan, namun tetap tetap saja mereka harus
bertanya kepada Rasulullah SAW atau kepada shahabat senior yang sudah
berlevel ahli istimbath hukum. Maksudnya tetap harus bertanya kepada
ahlinya tentang isi kandungan hukum di dalam Al-Quran. Dan proses
bertanya itu yang kita sebut bermazhab.

Mereka yang hidup
bersama Rasulullah SAW saja masih harus bermazhab, bagaimana mungkin
orang di zaman sekarang merasa sudah pintar dan mereka berhak
menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran seenaknya? Apakah mereka merasa lebih
pintar dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat?

2. Para Shahabat Mendapat Legalisasi Dari Rasulullah SAW Untuk Berfatwa

Menarik untuk dicermati, para sebagian shahabat yang memang telah
mendapatkan pendididukan khusus untuk menjadi ahli istimbath hukum ini
kemudian mendapatkan legalitas dari Rasulullah SAW. Tentu tidak semua
mereka mendapatkannya, melainkan hanya yang sudah mencapai derajat
ilmunya. Rasulullah SAW bersabda :
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّينَ الرَاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Wajiblah atas kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah para
penggantiku yang lurus. Pegang erat sunnah itu dan gigitlah dengan
geraham. (HR. Ahmad)

Dengan hadits ini maka para shahabat ahli
istimbath hukum itu telah menjadi juru fatwa resmi yang telah
menandatangani ‘kontrak’ sebagai wakil Allah di muka bumi. Jabatannya
tentu bukan sebagai pembawa wahyu tetapi sebagai juru tafsir resmi dari
Al-Quran dan As-Sunnah.

Siapa saja yang mencoba
menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran ataupun sunnah Rasulullah SAW
semata-mata hanya lewat akalnya sendiri, maka sudah dipastikan sesat,
keliru dan tidak bisa diterima.

Anehnya di zaman sekarang
bisa-bisanya ada orang yang tidak mengerti Al-Quran dan As-Sunnah,
tetapi malah mengaku-ngaku sebagai ahli fatwa, lalu bikin fatwa
seenaknya. Lucunya sampai bilang begini :
“Tinggalkan semua
perkataan manusia dan cukup Al-Quran dan As-Sunnah saja yang kita
pegang. Tidak usah merujuk kepada shahabat, tabi’in atau fuqaha, karena
mereka manusia dan sangat mungkin mengalami kesalahan”.

Ungkapan ini kelihatannya benar, tetapi sekaligus juga banyak pesan
menyesatkan tersirat di dalamnya. Di antarnya kesesatannya adalah
sebagai berikut :

a. Sama Saja Mendustai Kenabian Muhammad SAW
Dengan mencoret peran para shahabat, tabi’in dan para fuqaha, otomatis
kita menutup penjelasan, ilmu dan pesan-pesan penting dari Rasulullah
SAW yang dititipkan kepada mereka. Dan itu berarti sama saja kita
mendustakan kenabian Muhammad SAW.

b. Bikin Agama Baru Mendompleng Agama Islam
Bila kita perpegang pada Al-Quran dan Sunnah, lalu kita tafsiri sendiri
semua isi kandungannya, seenak kita dan sesuai dengan selera kita
sendiri, maka sesungguhnya kita telah menciptakan agama baru.
Agama
itu sama sekali bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tetapi
kita cuma mendompleng saja, sementara isi dan ajarannya 100% buatan akal
kita sendiri.

3. Para Shahabat Boleh Berbeda Pendapat

Dan yang sangat menarik adalah meski sudah sah menjadi juru tafsir
resmi Al-Quran dan As-Sunnah oleh Rasulullah SAW, namun para shahabat
ahli istimbath hukum tetap diberi ‘kebebasan’ untuk saling berbeda
pendapat.
Dan sudah pasti bahwa perbedaan pendapat di tengah para
shahabat tentu tidak datang dari hawa nafsu pribadi, atau kepentingan
kelompok tertentu, atau motivasi uang, jabatan, kekayaan, popularitas
dan hal-hal rendah lainnya. Tentu saja mereka suci dari semua tuduhan
itu.
Sebab Allah SWT menjamin bahwa mereka itu mendapat ridha dari
Allah SWT dan dalam hadits yang shahih mereka 100% dipastikan masuk
surga.

عَشْرَةٌ فيِ الجَنَّة : أَبُو بَكْر فيِ الجَنَّةِ
وَعُمَر فيِ الجَنَّةِ وَعُثْمَان فيِ الجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فيِ الجَنَّةِ
وَطَلْحَة فيِ الجَنَّةِ َوالزُّبَيْر فيِ الجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَن
بنِ عَوْفٍ فيِ الجَنَّةِ وَسَعِيدُ بْنُ مَالِكٍ فيِ الجَنَّةِ وَأَبُو
عُبَيْدَة بْنُ الجَرَّاحِ فيِ الجَنَّةِ – وَسَكَتَ عَنِ العَاشِـرِ ،
قَالُوا : وَمَنْ هُوَ العَاشِر ؟ فَقَالَ : ” سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ ” –
يعني نفسه
Dari Said bin Zaid bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Ada
sepuluh orang di dalam surga : Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam
surga, Utsman di dalam surga, Ali di dalam surga, Thalhah di dalam
surga, Az-Zubair di dalam surga, Abdurrahman bin Auf di dalam surga,
Said bin Malik di dalam surga, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah di dalam surga,
kemudian Said terdiam. Orang-orang bertanya,”Siapa yang kesepuluh?”.
Said menjawab,”Said bin Zaid”- yaitu dirinya sendiri. (HR. Ahmad dan Abu
Daud)

4. Boleh Memilih Mazhab Shahabat Yang Mana Saja

Ketika para shahabat yang sudah menjadi derajat ahli istimbath hukum
ini punya pendapat yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka para
shahabat yang lain boleh memilih pendapat yang mana saja dari mereka.
Rasulullah SAW telah bersabda :
إِنَّ أَصْحَابِي بِمَنْزِلَةِ
النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ فَأَيُّمَا أَخَذْتُمْ بِهِ اهْتَدَيْتُمْ
وَاخْتِلاَفُ أَصْحَابِي لَكُمْ رَحْمَةٌ

Para shahabatku
bagaikan gemintang di langit. Pendapat siapapun yang kamu ambil tetap
dapat petunjuk. Perbedaan pendapat mereka jadi rahmat bagi kamu. (HR.
Al-Baihaqi)

Dalam kenyataannya ada mazhab Abu Bakar, mazhab
Umar, mazhab Ustman, mazhab Ali, mazhab Ibnu Abbas, mazhab Ibnu Umar,
mazhab Ibnu Mas’ud, mazhab Aisyah, mazhab Ummu Salamah dan lainnya.
Mereka bisa saja berbeda pendapatnya, namun semuanya berada di dalam
wilayah kebenaran dan petunjuk dari Rasulullah SAW.

Maka kepada
pendapat, fatwa serta mazhab para shahabat itulah kita wajib
berpegang-teguh. Sebab pada hakikatnya kita sedang kembali kepada
Al-Quran dan As-Sunnah dengan cara yang benar. Bukan dengan penafsiran
hawa nafsu atau selera masing-masing.

Seratusan tahun
sepeninggal para shahabat, Umar bin Abdul Aziz menyatakan sangat bahagia
ketika mengetahui dahulu para shahabat ternyata berbeda pendapat.

Saya kurang suka kalau para shahabat tidak berbeda pendapat. Bila hanya
satu pendapat, pastilah orang merasakan kesempitan. (Umar bin Abdul
Aziz)

B. Mazhab Empat Adalah Titisan Mazhab Para Shahabat

Sampai disini mungkin ada yang menyatakan keheranan, yang ditanya
apakah kita harus bermazhab, maksudnya adalah empat mazhab yaitu
Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Kenapa
penjelasannya malah menerangkan mazhab-mazhab para shahabat?
Lalu apa hubungannya antara mazhab-mazhab para shahabat itu dengan empat mazhab yang kita kenal saat ini?

Bukankah kalau begitu yang harus kita ikuti adalah mazhab-mazhab para
shahabat dan bukan mazhab empat yang bukan dari kalangan shahabat?

Jawabannya sederhana saja, yaitu benar bahwa kita memang harus ikut
kepada mazhab para shahabat. Asalkan kita hidup di masa para shahabat.
Sayangnya kita hidup di 15 abad kemudian, dimana sudah tidak ada lagi
para shahabat hidup di tengah-tengah kita.

Kita butuh sumber
informasi yang valid dan benar-benar bisa dipercaya untuk bisa kontak
dengan fatwa-fatwa para shahabat. Masalahnya, dimana kita bisa menemukan
sumber-sumber fatwa para shahabat yang valid dan terjamin kemurniannya?

Jawabannya ada para murid-murid dari para shahabat itu. Ya, murid-murid
para shahabat adalah generasi yang paling amanah dan berkualitas dalam
menjaga amanah fatwa dan ilmu dari para shahabat.

1. Generasi Fuqaha di masa Tabi’in

Kalau mau tahu fatwa para shahabat, maka rujukannya ada di tangan
murid-murid mereka, yaitu generasi tabi’in. Mereka tersebat di tujuh
penjuru peradaban Islam, karena para shahabat yang menjadi guru mereka
memang tinggal berpencar-pencar, baik di Madinah, Mekkah, Kufah,
Bashrah, Syam, Mesir dan Yaman.

· Madinah : Shahabat Abdullah
bin Umar bin Al-Khattab dan Zaid bin Tsabit melahirkan tujuh ulama ahli
fiqih dari kota Madinah, di antaranya Said bin Al-Musayyib, Urwah bin
Az-Zubair, Qasim bin Muhammad, Kharijah bin Zaid, Abu Bakr bin Abdullah
bin Utbah bin Masud, Sulaiman bin Yasar, Ubaid bin Abdillah, Nafi’ Maula
Abdullah bin Umar.

· Mekkah : Shabat Ibnu Al-Abbas dan
Abdullah bin Az-Zubair di Mekkah melahirkan Mujahid, Atha’ bin Abi
Rabah, Thawus bin Kisan dan lainnya.
· Kufah : Ali bin Abi Thalib
dan Abdullah bin Mas’ud di Kufah melahirkan ’Alqamah, Al-Aswan, Masruq,
Syuraih, Asy-Sya’biy, An-Nakha’i dan Said bin Jubair.

· Bashrah : Anas bin Malik dan Abu Musa Al-Asy’ari melahirkan Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad Ibnu Sirin.

· Syam : Muadz bin Jabal, Ubadah dan Abu Ad-Darda’ di Syam melahirkan
Abu Idris Al-Khaulani, Makhul Ad-Dimasyqi, Umar bin Abdul Aziz, Raja’
bin Haywah dan Abdurrahman Al-Auza’i.

· Mesir : Shahabat Amr
bin Al-Ash dan puteranya Abdullah bin Amr bin Al-Ash melahirkan Yazid
bin Hubaib. Yazid adalah orang yang nantinya menjadi guru bagi Al-Laits
bin Saad, ulama besar Mesir di masanya.

· Yaman : Shabat Musa Al-Asy’ari dan Muadz bin Jabal di Yaman melahirkan Mathraf bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf.

2. Generasi Berikutnya

Di awal abad II hingga pertengahan abad IV hijriyah yang merupakan fase
keemasan bagi itjihad fiqih, muncul 13 mujtahid yang mazhabnya
dibukukan dan diikuti pendapatnya. Mereka adalah :

· Sufyan bin Uyainah di Mekah
· Malik bin Anas di Madinah
· Hasan Al Basri di Basrah
· Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauriy (161 H) di Kufah
· Al Auzai (157 H) di Syam
· Asy-Syafi’i dan Al-Laits bin Sa’d di Mesir
· Ishaq bin Rahawaih di Naisabur
· Abu Tsaur, Ahmad bin Hanbal, Daud Adz-Dzhahiri dan Ibnu Jarir At Thabary, keempatnya di Baghdad

Yang kita sepakati tentang istilah mazhab adalah kumpulan hasil ijtihad
dari para shahabat, tabi’in, atba’uttabi’in, dan generasi
salafus-shalih, dimana kapasitas mereka adalah ahli dalam menghistimbath
ayat-ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

Tidak usah
ditanyakan lagi apakah mereka mengerti hadits atau tidak, justru mereka
adalah peletak dasar ilmu naqdul hadits (kritik hadits), yang hasilnya
adalah metodologi baku dalam menshahihkan atau mendhaifkan suatu hadits.
Di dalam kepala para ahli istimbath hukum itu, minimal ada lebih dari
setengah juga hadits yang dihafal matan dan sanadnya.

Para
hali istimbath hukum ini punya ratusan murid, dimana muridnya itu sudah
menjadi guru dari ribuan murid lagi, dan murid dan murid itu sudah
menjadi guru dari ratusan ribu murid. Dan murid dari murid dari murid
dari murid itu sudah jadi guru dari jutaan murid lagi, yang mana
semuanya juga sudah jadi guru besar dalam ilmu istimbath hukum.

Kapasitas ke-guru-an mereka itu bukan hanya gelar yang diberikan
seenaknya, tetapi dibuktikan dengan jutaan jilid karya ilmiyah fatwa
ilmu fiqih dalam segala aspek kehidupan. Karya-karya itu adalah bukti
otentik ketinggian ilmu mereka, yang masih bisa kita baca hari ini.

Penulis Asli : Ust Ahmad Sarwat LC
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
(MYudhaEka/Santri)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *