Tradisi Bermaafan Saat Lebaran: Why Not? (Menjawab Cemoohan Basalamah)

Tradisi Bermaafan Saat Lebaran: Why Not? (Menjawab Cemoohan Basalamah)

Mendekati Hari Raya Idul Fitri yang akan dirayakan oleh umat Islam setelah selama sebulan penuh melakukan ibadah puasa Ramadan berbagai kesibukan sudah tampak diberbagai lini. Kicauan dan status-status medsos juga sudah mulai banyak diwarnai tema-tema sekitar lebaran, mudik, kemacetan, temu keluarga, reuni sekolah dan sebagainya, yang semua merujuk pada suasana helatan tahunan yang menjadi momentum yang sering kali dinanti. Dan diantara berbagai pemberitaan di dunia maya dengan tema-tema tersebut tak sedikit pula tulisan-tulisan yang sudah menjadi viral di media sosial, baik itu berupa kisah-kisah religius-inspiratif, motivasi, himbauan track mudik, kutipan ayat-hadist, doa, anekdot atau juga ulasan provokatif yang jahil dan anti budaya/tradisi lokal. Salah satu diantaranya adalah viral berisi tuduhan dari saudara Syafiq Riza Basalamah berikut ini:

                                     ***

Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?

Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan:

“MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”.

Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan.

Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri...

Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,, mengajarkan kita

Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” disaat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, saat Idul Fitri, yakni mengucapan : "MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN".

Arti dari ucapan tersebut adalah :
“Kita kembali dan meraih kemenangan”

KITA MAU KEMBALI KEMANA?
Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?

Meraih kemenangan?
Kemenangan apa?

Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?

Satu hal lagi yang mestik dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan
“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”

Lantas diikuti dengan kalimat,
“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa...

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia..atau negara-negara lain..apalagi Jerman.,🙈

PASTI PADA BINGUNG....

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yaitu :

"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM" (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM / WA kita :

" Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqobbalallahu minna wa minkum "
Barakallahu Fiikum.

Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Krn kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya Allah lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba NYA yg IA kehendaki.

                                   ***

Atas tulisan sang ustadz tersebut diatas berikut kami sampaikan pandangan demi menjawab berbagai tuduhan "anti budaya" yang terdapat dalam tulisan tersebut agar kita dapat melihat persoalan ini secara lebih jernih dan terhindar dari salah faham atau terkaburkan oleh pandangan kelompok-kelompok "berkacamata kuda" yang suka main gebuk tradisi, mengingat "Lebaran" sudah menjadi bagian dari budaya umat Islam di Indonesia. Namun demikian sambil juga kita tetap mengharap petunjuk, ma'unah dan  keridhaan Allah SWT. Berikut adalah jawaban kita sebagaimana disampaikan Gus Eko Ahmadi (salah satu pengurus Lesbumi) dalam beberapa kesempatan:

"Minta Maaf Kok Dianggap Salah Besar?"

Tulisan Ust. Syafiq Riza Basalamah sedang berusaha 'mempermasalahkan' beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia, dan mengarahkan bahwa hanya boleh mengucapkan : taqabbalallahu minna wa minkum saja dalam ucapan-ucapan lebaran ..

Apakah Ucapan Lain Tidak Boleh?

Ucapan selamat atau Tahniah atas datangnya momen tertentu telah menjadi suatu tradisi atau adat yang selalu berbeda-beda di tiap masyarakat. Sementara hukum asal atas suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhabnya Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya adalah ibahah/boleh (lihat: al-Adab al-Syar'iyah, jilid 3, hal. 219).

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta'ziyah (lihat al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang biasa diucapkan diantara sebagian sahabat memang 'taqabbalallahu minna wa minkum'. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan. Apalagi itupun bukan ucapan atau perbuatan Nabi SAW melainkan kebiasaan diantara beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma..

Meluruskan Makna Minal 'Aidin Wal Faizin

Minal 'Aidin wal Faizin dalam bahasa Indonesia berarti 'Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan'.

Kita yakin, orang yang mengucapkannya tidak akan memaknainya 'kembali pada kemaksiatan pascaramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan'. Anak kecil yang bodoh pun tidak akan mau mengucapkan nya kalau maknanya seperti itu.

Pun, jangan memaknai Minal 'Aidin Wal Faizin' dengan 'Mohon Maaf Lahir Batin', hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan 'membahasa-Inggriskan' keset di depan pintu rumah makan dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di atas keset.

Makna popular kalimat tersebut adalah 'Ja'alanallahu wa iyyakum MINAL 'AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah' (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).

Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Tanda orang yang diterima ibadahnya, ia makin meningkatkan ketaatan dan makin meninggalkan kemaksiatan (min 'alamati qabulit-tha'ah fa innah tajurru ila tha'atin ukhra).

Apa makna fitrah? Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian*

Makna pertama diisyaratkan oleh hadits (artinya): "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia (sebagai/seperti) Yahudi, Nasrani, atau Majusi."

Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam.

Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

Makna fitrah yang kedua adalah kesucian. Makna ini berdasarkan hadits Nabi (artinya), "Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kuku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima macam fitrah ini semuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci.

Minal 'Aidin ilal fithrah, berarti kita mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci. Dengan keyakinan pada hadits Nabi, orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih-suci dari salah dan dosa. Amin.

Sementara panjatan doa "Semoga kita menuai kemenangan dengan meraih surga - Wal Faizin bil jannah", sangat terkait dengan tujuan puasa Ramadhan dan happy ending bagi orang yang berhasil membuktikan tujuan itu.

Dalam al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa Ramadhan adalah 'agar kalian bertakwa (la'allakum tattaqun)'. Sedangkan Surat al-Hijr ayat 45 dan Ali Imran ayat 133 menjelaskan, bagi orang bertakwa itu adalah surga sebagai balasannya. Jadi ringkasnya, puasa berdampak ketakwaan, dan takwa dapat membawa orang menuju jannatun na'im yang dijanjikan oleh Allah.

Hal ini pulalah yang tentu diharapkan oleh orang yang menjalankan puasa Ramadhan. Ia ingin dijadikan sebagai orang bertakwa dengan sebenar-benarnya, dan mengharap menjadi salah satu dari para penghuni surga.

Itulah makna kemenangan yang terucap dalam 'Wal faizin' itu. Bukan kemenangan atas Ramadhan, sehingga bebas melakukan keburukan karena merasa sudah 'menang'! Ekstrem sekali menuduh dan memvonis orang lain persis gaya kaum Khawarij.

Minta Maaf di Idul Fitri, Keliru?

Orang yang minta maaf di hari Raya, Insya-Allah tidak meyakini minta maaf itu hanya khusus di hari Raya saja, alangkah bodohnya tuduhan seperti ini. Ini adalah ikhtiar untuk kesempurnaan dalam beribadah.

Islam agama paripurna. Tidak sempurna iman seseorang sampai dua sisi tali yaitu "hablun minallah" dan "hablun minannas" sama-sama dikuatkan. Dalam sekian hadits dijelaskan misalnya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, 'hendaknya dia menghormati tamunya', 'hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam', dan seterusnya.

Surat al-Ma'un juga menjelaskan, pendusta hari pembalasan itu orang yang menolak anak yatim dan tidak memperdulikan orang miskin. Dan shalat itupun manfaatnya adalah tanha 'anil fahsyaa-i wal munkar. Zakat atau sedekah itu tujuannya tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha. Hajji itu dilakukan dengan fala rofatsa wala fusuqo wala jidal. Artinya semua ibadah dalam Islam itu harus berkelindan antara hablun minallaah dengan hablun minan nas, lalu kenapa malah divonis bid'ah?

Demikian penjelasan baik dari al-Qur'an maupun Sunnah. Umat Islam, terutama para Nahdliyin tentu sangat memahami bahwa terdapat misi kebaikan secara vertikal dan horizontal dalam laku ibadah yang dijalankannya. Siapa yang mengaku bertauhid, harus baik pula dalam ranah-ranah sosial. Jika puasa Ramadhan adalah membangun hubungan baik secara vertikal, mengapa pula untuk minta maaf pasca ramadhan sebagao bagian dari laku sosial dipersoalkan? Bukankah kita beragama di bumi, dan manusia adalah kholifatu fil ardh? Mengapa menolak hal-hal baik yang bersifat mem-bumi dan menjunjung satu sama lain dengan dan untuk kebaikan?.

Hemat kami sungguh tidak elok menuduh dengan disertai berbagai klaim, vonis, su'uzhon serta caci-maki kepada saudaranya sesama muslim di bulan semulya Ramadhan ini. Bagi saudara-saudara umat Islam, mari bersikap bijak dan lebih berhati-hati dalam menyebarkan tulisan-tulisan yang terdapat di media sosial. Mari membiasakan tidak mere-post tulisan-tulisan yang belum sepenuhnya kita pahami, apalagi yang belum sempat kita baca. Semoga Allah senantiasa menjaga keutuhan dan kebersamaan kita, dan teruslah berbangga dengan tradisi baik yang kita miliki. Allahu ma'ana.

Sumber FP :LESBUMI NU

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tradisi Bermaafan Saat Lebaran: Why Not? (Menjawab Cemoohan Basalamah)"

Post a Comment