Perseteruan Bashrah - Kufah

Provinsi Baramikah gempar !!!

Kala itu gubernur Yahya bin Kholid menggelar acara debat terbuka antara kubu Kuffah yang di ketuai oleh Al-Kisa'i dan kubu Bashrah yang di ketuai oleh Imam Sibaweh. Menurut catatan Ibnu Hisyam dan As-sayuthi, bahwa pada saat itu di kubu kuffah yang hadir antara lain, Al-Kisa'i, Al-Faro', Kholaf, Abu Qusfsh, Abu Ziyad, dan Abu Jarroh

Acara ini di picu karena perseteruan kedua kubu dalam menggapi peribahasa arab, yang berbunyi ;
قد كنت أظن أن العقرب أشد لسعة من الزنبور فإذا هو هي / فإذا هو إياها
"Saya menyangka bahwa kalajengking itu lebih hebat sengatannya daripada kumbang, ketika itu ternyata kumbang itu kalajengking".

Menurut Imam Syibaweh muthlaq harus dibaca rafa' (فإذا هو هي), sedangkan menurut Imam Kisa'i boleh juga dibaca nashab (فإذا هو إياها).

Acara pun di gelar !!!
Setelah beberapa waktu kubu kuffah menanti kedatangan kubu bashrah di tempat acara, akhirnya kubu bashrah pun datang. Pada saat kedatangan kubu bashrah para hadirin di kejutkan oleh keadaan pimpinan kubu bashrah. Semua yang ada di sana tak menyangka bahwa guru besar di daerah bashrah yang sangat terkenal kealimannya, sekaligus murid kesayangan Imam Cholil tersebut ternyata baru berusia sekitar 30 tahun. Umur yang sangat dapat dibilang muda untuk ukuran seseorang yang mempunyai pandangan istimewa terhadap dirinya. Tak hanya hadirin yang tercengang melihat Imam Syibaweh, Yahya bin Kholid pun sangat tercengang melihat keadaan yang demikian.

Akhirnya tepuk tangan dan suara hentakan pun terdengar di tujukan untuk memuji kehebatan Imam Syibaweh. Setelah itu, acara yang di nanti nanti pun tiba. Yahya bin Kholid yang selaku menjadi ketua penyelenggara acara tersebut pun mempersilahkan untuk kubu kuffah memberi beberapa pertanyaan keoada kubu bashrah. Pada sesi ini, kubu kuffaj mempercayakan pada Imam Kholaf untuk maju. Setelah berkali kali Imam Kholaf melempar pertanyaan dan di jawab oleh Imam Syibaweh, Imam kholaf selalu berkata :
أخطأت، أخطأت، أخطأت !!!
"Kamu salah, kamu salah, kamu salah".

Imam syibaweh pun menimpali dengan ucapan :
"Kalau kau selalu begitu ini namanya sebuah debat yang tak beraturan ! Aku tak ingin berdebat dengan orang yang tak bersopan santun. Aku mohon untuk kau menggantikan kepada temanmu yang lain".

Kemudian Imam Alfaro menggantikan Imam Kholaf untuk melanjutkan melempar pertanyaan kepada Imam Syibaweh. Setelah berpuluh puluh pertanyaan di lemparkan dan oleh Imam Syibaweh selalu di jawab tuntas dengan argument yang valid, sikap Imam Alfaro pun lama kelamaan berubah menjengkelkan. Imam Alfaro selalu meminta Imam Syibaweh untuk mengulang jawabannya berkali kali. Imam Syibaweh pun tak dapat menahan kejengkelannya tersebut. Akhirnya Imam Syibaweh pun menantang Imam Kisa'i agar ia lah yang langsung menghadapinya. Imam Kisa'i pun dengan tegak maju perlahan ke depan.

Imam Kisa'i, "Wahai Imam Syibaweh ! Kau ingin aku yang bertanya atau kau yang bertanya ?" tantang Imam Kisa'i

"Biar engkau saja silahkan yang mengajukan pertanyaan" jawab Imam Syibaweh

"Baiklah jika itu yang kau mau. Tak usah berpanjang lebar, menurutmu pada kalimat,
قد كنت أظن أن العقرب أشد لسعة من الزنبور فإذا هو هي
Boleh kah di baca nashab ? (فإذا هو إياها)" tanya Imam Kisa'i

"TIDAK BOLEH ! karena sebagaimana lafadz,
فإذا عبدالله القائم
Bahwa القائم (qo'imun) tidak boleh dibaca nashab". lantang Imam Syibaweh

"Wahai Imam Syibaweh, apakah kau tak mendengar bahwa orang arab itu membacanya rafa' dan kadang juga nashab ? Tanya Imam Kisa'i

"Tidak ! Aku tidak pernah sama sekali mendengar orang arab juga membaca nashab" Jawab Imam Syibaweh

Setelah saling beradu argument yang sama sama kuat, Kholid bin Yahya pun mengambil alih seraya berkata,
"Perdebatan dua Imam besar ini tak akan ada habisnya jika di teruskan. Saya usulkan bagaimana jika kita langsung bertanya kepada masyarakat arab saja ? Sebab mereka lah yang mengucapkan kalimat tersebut".

Semuanya pun setuju atas usulan Kholid bin Walid. Akhirnya kabilah kabilah yang sangat mahir penguasaan bahasanya pun di datangkan, salah satunya adalah kabilah hijaz bani tamim dan bani hudzail. Kemudian sesudah semua kabilah di ajukan pertanyaan satu satu, akhirnya semua kabilah pun mengamini bahwasannya lafadz terseb
ut boleh dibaca nashab sesuai dengan keyakinan Imam Kisa'i. Dengan demikian, Imam Syibaweh kalah dalam perdebatan ini.

Setelah kejadian itu, Imam Syibaweh sangat merasa terpukul. Ia pun memutuskan untuk menyelidiki kekalahannya, dan benar saja ternyata kabilah kabilah tempo hari sengaja mendukung Imam Kisa'i karena ia memiliki kedudukan yang sangat kuat di hadaoan khalifah Harun Arrasyid. Fakta ini membuat Imam Syibaweh semakin terpukul atas keprihatinan dalam dirinya. "Kenapa kebenaran harus kalah oleh kekuasaan ?"
Setelah kejadian itu, Imam Syibaweh pun memutuskan untuk merantau menuju persia. Dan konon akibat kejadian itu pula, sang Imam terus menerus di dera penyakit yang berdampak pada kewafatan beliau pada usia yang sangay muda, yaitu 32 tahun.

Wallahu 'alam

Di sarikan dalam kitab Mughni Labib, Ibnu Hisyam, hal. 92 - 93, cet. Darul fikri

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perseteruan Bashrah - Kufah"

Post a Comment