Damaskus punya cerita 75 (Pedagang damaskus zaman kekhalifahan, toilet dan tasawuf)

Damaskus punya cerita 75 (Pedagang damaskus zaman kekhalifahan, toilet dan tasawuf)

Fauzan, tutup kitab kamu, hari ini kita tidak belajar dari kitab, tapi belajar dari orang yang telah mempraktekkan isi kitab, mari keluar dengan saya, begitu perintah syeikh rusydi qalam. Kami keluar dari mesjid, beliau kemudian memperkenalkan setiap harah(lorong) wilayah midan dan sejarah apa yang ada didalamnya, salah satu yang menarik perhatian adalah setiap mesjid yang dibangun pada zaman kekhalifahan maka ada pemandian umum dan wc umum waqaf di depannya.

Lalu beliau menceritakan dulunya tidak ada petugas yang membersihkan wc umum, yang membersihkan semuanya adalah kolongmerat kaya. Mereka melakukan itu semua atas perintah murabbi(syaikh tariqat tasawuf) mereka, karena kolongmerat damaskus zaman itu semuanya pengikut tariqah tasawuf, para murabbi memerintahkan mereka untuk membersihkan tempat paling kotor ini untuk mendidik mereka agar menghancurkan rasa sombong dalam diri mereka.

Melalui proses tarbiyah tasawuf ini, maka dari itu sejarah mencatat pedagang damaskus terkenal dengan kejujuran, amanah, dan kedekatan mereka dengan ulama, bahkan setelah khilafah runtuh tradisi ini masih terjaga, walaupun sedikit demi sedikit mulai luntur, karena mulai ada jarak antara ulama dan pedagang, lebih tepatnya ada pihak yang ingin mereka dijauhkan.

Karena kedekatan antara ulama dan pedagang ini, maka masyarakat jadi sangat percaya pada pedagang, sudah menjadi tradisi penduduk damaskus zaman itu, jika ingin berhaji maka menitipkan harta dan barang berharga mereka pada para pedagang, tanpa perlu bukti apapun, cukup modal kepercayaan. Bahkan kadang mereka tak saling megenal sebelumnya. Mengapa harus menitipkan harta? Karena zaman itu perjalanan haji jauh dan membutuhkan waktu lama, jadi agar harta ada yang menjaga maka dititipkanlah pada orang yang bisa dipercaya, dan pedagang selalu menjadi tempat paling bisa dipercaya.

Suatu hari ada seorang yang pergi ke haji, seperti kebiasaan penduduk damaskus pada umumnya mereka menitipkan emasnya pada para pedagang, pilihan haji itu pada seorang pedagang "souq hariqah" yang belum pernah dikenal sebelumnya. Sepulangnya dari ibadah haji, haji itu menjumpai pedagang tadi untuk mengambil titipanya.

Pedagang tadi mengatakan "kamu tidak menitipkannya kepadaku", pak haji membantah "tidak, aku sudah menitipkannya kepadamu sebelum berangkat haji", pedagang tadi menjawab "benarkah? aku benar-benar lupa, tapi kalau memang iya berapa titipannya?", lalu pak haji menyebutkan jumlah emas titipannya, dan pedagang itu memberinya.

Dalam perjalanan pulang, ada seorang pedagang memanggil pak haji tadi "ahleeen hajjeee, kapan anda pulang dari makah", ketika pak haji menoleh dia baru inga kalau yang memanggilnya adalah pedagang yang dititipkan emas kepadanya sebelum dia berangkat. Lalu pedagang itu mengambalikan emas titipan pada pak haji.

Pak haji yang baru sadar kalau dia salah orang, kembali kepedagang pertama untuk mengembalikan emas yang salah alamat. Lalu dia bertanya kepada pedagang itu "kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku yang sebenarnya?", "aku sudah mengatakan kepadamu, tapi kamu membantahku" jawab pedang, pak haji berkata "tapi kamu bisa menjelaskannya padaku secara detail". Pedagang itu menjawab "aku tau, tapi saat itu aku kedatangan tamu, aku tidak mau menjadi orang pertama di pasar hariqah ini yang berbantah-bantahan gara-gara uang, dan aku tidak mau orang-orang bergosip kalau pasar ini ada orang yang tidak bisa dipercaya, gara-gara aku, walaupun itu hanya gosip"

Pelajaran yang bisa diambil:
1. Belajar bukan hanya dari buku, semua yang ada didunia ini adalah ayat allah, untuk mempelajari islam, seharusnya kita belajar dari sejarah bagaimana orang terdahulu sukses mempraktekan islam, dan bermanfaat untuk kebahagian mereka di dunia dan di akhirat
2. Tasawuf yang selama ini hanya dianggap ibadah dan cuma bermanfaat untuk diri sendiri ternyata bisa merubah kehidupan ekonomi masyarakat, soalnya sebuah kebodohan kalau ingin merubah tatanan masyarakat tapi tidak merubah pribadi mereka, ini juga berlaku pada perubahan tatanan sosial dan politik, tasawuf(tarbiyah ruhaniyah) memegang ajaran penting, tentu jalan ini tidak.mudah dan butuh proses panjang, tapi bisa mengobati akar masalah
3. Kalau memang dunia harus hancur, maka jangan sampai kita jadi orang pertama yang membuat rusak, bahkan jika kita tau kalau besok dunia akan kiamat dan hancur maka jika kita masih bisa berbuat kebaikan walaupun hanya menancapkan ranting kering ketanah berharap dia akan tumbuh, maka lakukanlah, bukankah begitu ajaran nabi??
4. Saat para pedagang dan orang kaya bisa jujur seperti tadi, apa kehidupan pasar dan ekonomi seperti apa yang bisa kamu bayangkan? Bagaimana kira-kira perlakuan masyarakat kaya kepada orang miskin? Bukankah sangat pantas saat nabi bersabda kalau pedagang jujur, dan pemimpin yang adil akan dikumpulkan dengan para nabi di hari akhir??

Oleh : Ust Fauzan Inzhagi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Damaskus punya cerita 75 (Pedagang damaskus zaman kekhalifahan, toilet dan tasawuf) "

Post a Comment