7 Kunci Kesuksesan Santri Dapat Ilmu Bermanfaat

Pengasuh
Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, KH Asep Saifuddin Abdul
Chalim mengemukakan tips kunci agar santri-santri sukses dalam menyerap
ilmu pengetahuan dan memanfaatkan ilmu yang telah didapatkan.

“Ada
sistem pengkondisian agar santri bisa memahami ilmu kemudian ilmuanya
bermanfaat. Itu ada teorinya. Manfaat itu artnya memiliki keberdayaan
dalam menghadapi masa depan. Teorinya itu satu, ajeg dalam
berkesungguhan, jangan berkesungguahan dalam satu bulan saja, tapi
terus-menerus,” katanya ketika ditemui NU Online di akhir Ramadhan lalu.

Kedua, tambah putra salah seorang pendiri NU asal Jawa Barat,
KH Abdul Chalim, tidak boleh kenyang karena kalau sampai kenyang tidak
bisa cerdas.

“Kenyang itu menghilangkan kecerdasan. Kenyang itu
terjadi sepuluh menit, setelah berhenti makan. Bayangkan kalau orang
pada saat makannya saja sudah kenyang apa yang akan terjadi 10 menit
kemudian? Makanya Nabi melarang orang makan kenyang. Harus berhenti
sebelum kenyang,” jelasnya.

Ketiga, tidak boleh maksiat karena
maksiat itu beban. Ketika orang belajar dan mambaswa beban, apalagi
beban psikologis, santri tidak akan bisa mengerti akan pelajarannya.

Keempat,
santri harus punya wudlu karena wudlu itu cahaya. Sementara ilmu yang
disampaikan oleh guru itu datangnya kepada pemikiran muridnya dalam
bentuk abstrak, berupa sinar, cahaya. Ketika cahaya datang diterima oleh
yang memiliki cahaya akan mudah terserap.

Kelima, sering
membaca Al-Qur’an karena ketika orang membaca Al-Qur’an dengan dilihat
teksnya, maka dia akan terlibat berpikir bagaimana menerapkan tajwidnya
dalam bacaan yang dijabarkan. Apalagi lebih jauh dengan memahami
ayat-ayatnya. Nah, ketika orang hanyut dalam berpikir, itu orang akan
cerdas.
“Berikutnya, santri harus rajin shalat malam,” tambah
Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu)
tersebut.

Yang terakhir, ketujuh, menjauhi makanan yang
mendekati kotor, apalagi najis karena tidak barokah. “Makanan di luar
yang dilihat oleh banyak orang termasuk oleh orang yang tidak punya
uang, tidak barokah. Ketika orang yang tidak punya uang itu melihat, dia
kepingin, tapi tidak bisa membeli makanan, yang terkondisikan demikian
akan hilang barokahnya. Hal itu dibuktikan berpuluh-puluh kali bahwa
anak yang ngantuk itu karena jajan di luar. Hal Sangat berpengaruh
kepada kecerdasan anak,” jelasnya.

Jika seorang santri memegang yang tujuh tersebut, itu sudah perwujudan tawakal yang dijamin keberhasilannya. Pasti berhasil.

nu online

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *