Risalah Kang Santri

Assalamualaikum Mbak Santriat.

Mbak.....
Masih ingat kah kau di kala awal pertemuan kita yang bagaikan ISNAD mempersatukan MUSNAD dan MUSNAD ILAIH ? Kau adalah MAUDLU dari segala inspirasiku mbak. Kehadiranmu menjadikan hidupku di penuhi dengan BADI' bak seperti LAFADZ MURAKKAB hadirmu memberikan faidah dalam keseharianku.

Memori itu masih terekam jelas mbak, di saat aku hanyalah sebuah ISIM MUFROD, tunggal sendirian saja yang kadang dalam perenunganku bagai FI'IL LAAZIM, mencintai tak ada yang dicinta. Sering juga ku coba untuk berTAGHYIR agar dapat menjadi FI'IL MUTA'ADI, namun selalu saja diriku menjadi FI’IL MUDHOORI’ ALLADZII LAM YATTASHIL BIAAKHIRIHII SYAIUN, mencari dimana tulang rusukku, tapi tak pernah bertemu sesuatupun. Dan pada akhirnya MUBTADA’ MUAKKHOR itu datang, kau perintis yang selama ini ku tunggu mbak. Dari sini semua bermula, hadirmu kala itu tak lebih seperti KHOBAR MUQODDAM, sebuah kabar yang tak ku duga. Aku pun berenkarnasi menjadi sebuah FA'IL yang terlahir karena FI'IL, kau !

Dalam studi ku di pondok, sering aku mengalami kesulitan dalam muthola'ahku. Khususnya dalam setiap menentukan MARJI'UDDHOMIR. Tapi entah kenapa, lalu  kemudahan menghinggapi dalam proses studi setelah mengenal dirimu. Seketika itu juga aku ingat dawuhan Mbah Abdul Karim, Lirboyo berkenaan tentang MARJI'UDDHOMIR bahwa,
الضمير في الضمير ومن لم يعرف مرجع الضمير فليس له ضمير
"dhomir itu ada di dalam hati dan barang siapa yang tidak mengetahui tempat kembalinya dhomir maka orang itu tidak mempunyai hati"

Yaa, kau datang dengan membawa DHOMIR (hati) yang awalnya hanya MUSTATIR entah dimana, sembari membuat monotonnya hidupku ini menjadi taksir serupa JAMA' TAKSIR yang awalnya satu menjadi banyak.

Walaupun kadang ku merasakan TANAFUR dan GHOROBAH yang semua itu menimbulkan KAROHAH FISSAM'I, tapi bagiku itu semua merupakan KALAMUL BALAGOH, karena ku percaya di dirimu telah hadir sebuah DZAUQ SALIM yang pada detik ini keyakinanku menjadi FASHOHAH untuk memilihmu.

Sekarang hati kita berdua telah terkombinasi seperti NATIJAH mbak. Tapi kita harus masih sering belajar agar dapat menerapkan TASHAWUR dan TASHDIQ untuk menjadikan cinta kita KULLI. Mungkin saat ini kita hanya seorang MUBTADI' yang kadang merasa bak seorang JAHL MURAKKAB, namun seiring berjalannya waktu ku yakin cinta kita akan mencapai derajat MUNTAHI juga pada akhirnya. Sampai kapan pun jadilah kau MU'ARIF dan aku MU'ARAF.

Mbak....
Didepan abahmu nanti aku berjanji akan berkomitmen untuk saling KHOLIDZ DZIHNI bersama dirimu dan saling mengisi bagai IJAZITHNAB, dan MUSAWAH.

Pojok serambi,
24 Sya'ban 1437 / 31 Mei 2016

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Risalah Kang Santri"

Post a Comment