Pengajian Tafsir Hari ke-2 Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Pengajian Tafsir Hari ke-2 Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Pengajian hari kedua dilanjutkan kembali dengan diskusi dengan membahas ayat kursiy ayat 255. Untuk memperdalam Ayat kursiy dibaca berbagai keterangan, dari tafsir Sya'rawi, fakhru Razi Dan untuk menjelaskan sir ayat kursiy Maulana Hanib Luthfi Menyuruh santri untuk membaca kitab Khazinatul Asrar.

Maulana menjelaskan kenapa pembahasan ayat ini diulang kembali Karena banyak sekali paham, aliran yang salah memahami ayat-ayat ini, seolah ayat ini mengamini argumen mereka bahwa Allah membutuhkan tempat, seperti Arsy, Kursiy dll. Padahal ayat-ayat terkait dengan Kursiy Arsy dll adalah untuk menunjukan keagungan Allah SWT. Bahwa Makhluk-Nya saja begitu agung, seperti Kusiy besarnya meliputi langit dan bumi
Bahkan digambarkan dimensi semesta ini jika dibandingkan seperti debu dalam sebuah tameng.

Mengomentari keterangan bahwa jarak antara Kursiy dan Ars perjalanan 500 ribu tahun. Maulana menjelaskan kisah Syeikh Daqiqul Id serta Sulthonil Ulama Izudin bin Abdi Salam yang inkar terhadap Syeikh Ahmad Al-Badawi. Syeikh Ahmad Al-Badawi rumahnya di depan masjid tapi tidak pernah sholat Jumat. Nah Syeikh Daqiqul Id ingkar kepada Syeikh Ahmad al-Badwi. Siapa yang tidak kenal dengan kebesaran Daqiqul Id salam bidang fiqih, tapi beliau dijewer oleh Syeikh Ahmad al-Nawawi dan dilempar oleh beliau ke Dar Baidha. Ada Darul Baidha ada juga Jabal Qaf. Jabal qaf masih di bumi dekat dengan kutub Utara. Keduanya tempat Malaikat dan wali Muqarabin beribadah kepada Allah. Daqiqul id bingung mau pulang, ada yang mengatakan kepadanya tunggu hari Jumat nanti ikut imam. Setelah selesai jumat ternyata imamnya Syeikh Ahmad al-Badawi. Beliau meminta maaf dan minta dipulangkan. Kata Syeikh Ahmad al-Badawi jarak antara tempat ini dan rumahmu 60 tahun. Tapi Syeikh Ahmad Badawi menyuruh Syeikh Daqiq memegang ujung jubahnya, dan sampailah Syeikh Daqiq ke rumahnya.

Kata Maulana, nah jarak 60 tahun ini adalah jarak yang dihitung dengan peredaran bulan dan matahari. Kalau jarak antara Kursiy dan Arasy itu dihitung dengan apa, bukankah matahari dan bulan ibarat debu dibanding keduanya? Nah jarak itu dengan hitungan cahaya. Yaitu Nur atau cahaya Rasulullah saw.

Kemudian peserta ada yang bertanya, dimasyarakat ada yang menganggap ayat kuraiy dari ayat والهكم اله واحد Maulana Habib Luthfi menjelaskan itu adalah susunan Ahli Asrar yang mengetahui rahasia huruf. Seperti Syeikh Muhammad Haqi Naizili, Seikh Ahmad al-Buli, Syeikh Ahmad Daerobi, Syeikh Ahmad Dardiri. Sebagian ulama mengatakan bahwa WA ilahukum adalah asma Adzam. Ada wali Allah yang diberi 5, 6 ada juga yang 9 seperti Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. Dan itulah wilayah kewaliannya. Terkadang ada seorang salik mencari Syeikh futuh oleh gurunya ditunjukan kepada Syeikh yang lain karena wilayah kewaliannya kelak dibawah kewalian wali futuhnya. Dan memiliki kesamaan dalam asma 'adzamnya.

Lalu kenapa ada ayat yang memiliki sir lebih tinggi dari yang lain, hal itu diantaranya disebabkan oleh kandungan makna ayat itu, ayat-ayat yang terkait dengan asma, sifat Allah lebih tinggi dari yang lain. Kemudian Maulana menjelaskan panjang lebar sir dan garaib yang dikandung dalam berbagai ayat.

Kemudian pembahasan dilanjutkan pada ayat 260 yang mengisahkan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim belajar dan yang mengajari Allah subhanahu wa Ta'ala. Nabi Ibrahim belajar agar lebih mantap. Nabi Ibrahim melihat matahari, bulan bintang dll, dari itu Nabi Ibrahim belajar bahwa semua makhluk berubah bahkan surga sekalipun. Surga setiap detik bertambah keindahan dan kenikmatannya. Nah Allah itu baik sifat, dzat, keagungan-Nya tidak bertambah atau berkurang. Misalkan manusia beribadah siang malam, tahajud, semua doa dan dzikir dibaca itu tidak akan menambah keagungan-kesempurnaan-Nya.

(Disarikan oleh IlmuTasawuf.com )

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengajian Tafsir Hari ke-2 Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya."

Post a Comment