Muhammad Ali si Pejuang Kemanusiaan


Cerita dan Alasan Muhammad Ali Masuk Islam  

Santrionline - Kenangan. Kenangan saja yang bisa diingat setelah Muhammad Ali tak lagi bernapas sejak Jumat (3/6). Ia wafat di Phoeniz, Arizona, Amerika Serikat setelah berjuang melawan penyakitnya sejak Kamis lalu. 
Sepanjang hidupnya, Ali dikenal sebagai petinju bermulut besar. Para lawan Ali di atas ring bukan hanya harus menahan pukulan tangannya, tapi juga serangan pernyataan dari mulut besarnya.
Di luar dunia tinju, Ali pun dikenal sebagai seorang pejuang kemanusiaan. Ia menantang segala hal yang di mata kemanusiaan tak benar. 

Terakhir, Ali yang wafat pada usia 74 itu pun berkomentar ketika salah satu bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik yang melontarkan gagasan untuk melarang semua umat Islam memasuki AS karena ketakutan akan teroris.

Menanggapi pernyataan kontroversial Trump dalam kampanye itu, Ali berkata, "Para pemimpin politik kami seharusnya menggunakan posisi mereka untuk memberi pengertian tentang Islam dan mengklarifikasi bahwa para pembunuh sesat itu memiliki pandangan yang sesat tentang Islam yang sebenarnya."

Pemilik nama lahir Cassius Marcellus Clay ini sendiri merupakan bagian dari komunitas Muslim di Amerika Serikat setelah pindah agama pada 1975 silam.

"Saya seorang Muslim dan Islam tidak mengajarkan untuk membunuh orang tidak bersalah di Paris, San Bernardino, atau tempat lainnya di dunia," kata juara tinju kelas-berat dunia tiga kali tersebut seperti dikutip dari The Guardian.

Menegaskan kembali maksudnya, Ali berimbuh, "Muslim yang sebenarnya tahu bahwa kekerasan kejam yang disebut jihad Islam sangat bertentangan dengan ajaran agama kami."

Ali pun menyerukan kepada umat Islam untuk menentang mereka yang menggunakan agama untuk kepentingan pribadi.

"Mereka telah mengasingkan banyak ajaran baik dari Islam. Muslim yang benar tahu, atau seharusnya tahu bahwa mencoba dan menekan ajaran Islam kepada seseorang adalah bertentangan dengan ajaran kami," katanya.

Itu hanyalah salah satu aksi sang legenda dalam memperjuangkan kemanusiaan. Tindakannya yang paling populer adalah menolak wajib militer ke perang Vietnam. Akibat hal itu, karier tinjunya pun tenggelam sebelum kembali lagi empat tahun kemudian.
Bukan hanya ia diasingkan dari tinju, gelar juara dunia yang ia miliki pun dicabut paksa.

"I ain't got no quarrel with the Vietcong," ujar Ali dalam satu frasa paling terkenal yang pernah ia ucapkan. Bagi Ali, orang-orang Vietnam tidak menindasnya dan tidak berlaku adil padanya, sehingga ia tak ingin pergi memerangi mereka.

Atas penolakannya tersebut, Ali ditahan dan didenda sebesa US$ 10 ribu. Gelar juara miliknya juga dilepas dan petinju legendaris ini tidak lagi memiliki izin untuk bertanding hingga tahun 1970.

Menjelang pensiun, Ali menjadi anggota Komite Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk masalah Apartheid. Ia menghimpun orang-orang dari segala bangsa untuk bersatu melawan diskriminasi ras.

Setelah pensiun pada 1979, Ali pun mendedikasikan dirinya untuk membantu mempromosikan perdamaian dunia, kemanusiaan, dan hubungan antar-umat beragama.

Tak hanya di AS, ia bahkan terbang hingga ke Afghanistan dan Korea Utara. Ali juga pernah mengirimkan bantuan dana medis lebih dari US$1 juta ke Kuba.

Ali kembali menjadi sorotan dunia pada 1990, saat mempertaruhkan nyawanya untuk terbang ke Irak guna menegosiasikan pembebasan 15 warga AS yang menjadi sandera pasukan Irak dibawah pimpinan Saddam Hussein.

Saat itu Hussein memang menggunakan sandera tersebut sebagai 'perisai manusia' untuk menahan gempuran barat, setelah negaranya menginvasi Kuwait.

Hussein sempat menunda pembicaraan dengan Ali hingga lebih dari seminggu, sebelum akhirnya mereka berdialog dengan positif.

Ali pun berhasil 'meluluhkan hati' Hussein yang sebelumnya secara terbuka mengabaikan permintaan PBB dan pihak AS untuk melepaskan para sandera. Ke-15 sandera tersebut akhirnya diperbolehkan kembali ke AS dengan selamat.

Hingga akhirnya pada 1998, Ali dinobatkan menjadi Pembawa Pesan Damai Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1998. Sejak saat itu, ia terus melayani orang-orang membutuhkan, termasuk dengan mengirimkan lebih dari 232 juta paket makanan ke negara-negara kelaparan.

Pada November 2005, Ali dan istrinya, Yolanda 'Lonnie' Williams, mendirikan Muhammad Ali Center sebagai pusat edukasi dan museum di Louisville, Kentucky.

Ketika Ali akhirnya mengakhiri perjuangannya melawan penyakit, PBB pun melansir pernyataan resmi yang penggalanny berbunyi, "Selama bertahun-tahun, Ali sudah menjadi advokat bagi orang yang membutuhkan dan merupakan aktor kemanusiaan di dunia yang berkembang."

Kini, Ali bukan hanya dikenang sebagai jawara tinju, tapi juga pahlawan kemanusiaan, sesuai dengan pernyataannya sendiri.

"Saya selalu ingin menjadi lebih dari sekadar petinju. Lebih dari hanya juara tiga kali tinju kelas berat. Saya ingin menggunakan ketenaran dan wajah yang sangat dikenal semua orang ini, untuk membantu mengangkat dan menginspirasi orang di seluruh pelosok dunia," katanya.


(cnnindonesia/Arifan)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Muhammad Ali si Pejuang Kemanusiaan"

Post a Comment