MEREKA MENDUSTAKAN UMMAT

Disusun oleh : Abdurrohim Ats‐Tsauriy

PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد نحمده ونستعينه، ونستغفره ونستھديه، ونعوذ من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يھده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا ھادي له، وأشھد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشھد أن نبينا محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه، وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا.
أما بعد:

Mengusik amalan seseorang Muslim dengan menukil pernyataan Ulama dari kitab Muktabar secara serampangan (mengguting‐gunting kalimat) merupakan perbuatan keji dan sangat tidak berakhlak. Selain termasuk telah menyembunyikan kebenaran, juga termasuk telah memfitnah Ulama yang perkataannya telah mereka nukil, merendahkan kitab Ulama dan juga telah menipu kaum Muslimin. Dakwah mereka benar‐benar penuh kepalsuan dan kebohongan. Mengatas namakan Madzhab Syafi’I untuk menjatuhkan amalan Tahlil, sungguh mereka keji juga dengki. Kitab I’anatuth Thalibin (الطالبين إعانة (adalah kitab Fiqh karangan Al‐‘Allamah Asy‐Syekh Al‐Imam
Abi Bakr Ibnu As‐Sayyid Muhammad Syatha Ad‐Dimyathiy Asy‐Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab Fathul mu'in). فتح المعين لشرح قرة العين بمهمات الدين لزين الدين بن عبد العزيز المليباري الفنانى)

Kitab ini sangat masyhur dikalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh diseluruh dunia. Namun, sayang, ada
sebagain kecil kalangan yang tidak bermadzhab Syafi’i (anti Madzhab), mengaku pengikut salaf, mencomot‐comot isi kitab ini untuk mengharamkan Tahlilan yang merupakan amalan yang
sudah masyhur dikalangan pengikut madzhab Syafi’i. 

Bukannya berdakwah secara benar namun yang mereka lakukan, malah menunjukkan kedengkian hati mereka dan ketidak jujuran mereka

dalam menukil perkataan ulama. Ini hanya salah satu kitab yang kami coba luruskan dari nukilan tidak jujur yang telah mereka lakukan, masih banyak lagi kitab Ulama yang dicomot serampangan oleh mereka, seperti kitab Al‐Umm (Imam Syafi’i), Al‐Majmu’ Syarah Muhadzab Imam An‐Nawawi, Mughni al‐Muhtaaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj, dan kitab‐kitab ulama lainnya.


PEMBAHASAN

Setidak‐tidaknya ada 5 pernyataan yang kami temukan, yang “mereka” comot dari kitab I’anah at‐Thalibin secara tidak jujur dan memelintir (mensalah‐pahami) maksud dari pernyataan tersebut untuk mengharamkan Tahlilan. Ini banyak dicantumkan disitus‐situs mereka dan
dikutip oleh sesama mereka secara serampangan pula.

Berikut ini yang mereka nukil secara tidak jujur :

1. “Ya, apa yang dilakukan manusia, yakni berkumpul di rumah keluarga si mayit, dan dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkarah, yang akan diberi pahala bagi orang yang mencegahnya, dengannya Allah akan kukuhlah kaidah‐kaidah agama, dan dengannya dapat mendukung Islam dan muslimin" (I’anatuth Thalibin, 2/165)
Teks arabnya ;
(نعم، ما يفعله الناس من االجتماع عند أھل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر)

2. “Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama,
sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu : Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.”
Teks arabnya ;
وما اعتيد من جعل أھل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروھة ‐ كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أھل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

3. “Dalam Kitab Al Bazaz : Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.”
Teks arabnya ;
وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم

4. “Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in,
Juz 2 hal. 145‐146)

5. “Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas‐luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat‐rapatnya pintu‐pintu keburukan, karena orang‐orang memaksa‐maksa diri mereka berbuat hal‐hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145‐146)

Itulah yang ‘mereka’ comot secara serampangan dan menterjemahkannya dengan memelintir maknanya. Kami akan mulai membahas point‐point diatas, sebagai berikut :

Point Pertama :

Nukilan diatas merupakan bentuk ketidakjujuran, dimana orang yang membacanya akan mengira bahwa berkumpul di tempat keluarga mayyit dan memakan makanan yang disediakan adalah termasuk bid’ah Munkarah, padahal bukan seperti itu yang dimaksud oleh kalimat tersebut. ‘Mereka’ telah menggunting (menukil secara tidak jujur) kalimat tersebut sehingga makna (maksud) yang dkehendaki dari kalimat tersebut menjadi kabur.  Padahal, yang
benar, bahwa kalimat tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya. Itu sebabnya, kalimat yang ‘mereka’ nukil dimulai dengan kata “na’am (iya)”. Berikut teks lengkapnya ;

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أھل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. 
(وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة
لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أھل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام - بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي - بمنع ھذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على ھذا المنع المذكور ؟

“Dan sungguh telah aku perhatikan mengenai pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah tentang apa yang dilakukan oleh keluarga mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitu mengenai bagaimana pendapat para Mufti yang mulya di negeri “al‐Haram”, tentang kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal kemudian para pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi keluarga mayyit maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna dan kemudian keluarga mayyit menyediakan makanan yang banyak untuk pentakziyah dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit melarang dan mencegah permasalahan tersebut secara keseluruhan agar manusia kembali berpegang kepada As‐Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang baik dan kembali kepada jalan beliau (Nabi saw.) , saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?
  
أفيدوا بالجواب بما ھو منقول ومسطور. (الحمد وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجم بعده. اللهم أسألك الھداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أھل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
“Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, Ya Allah aku memohon kepada‐Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran.
“Iya, apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah‐kaidah agama dan mendorong Islam serta umat Islam”

Betapa apa yang dikehendaki dari kalimat diatas telah keluar konteks saat pertanyaannya dipotong sebagaimana nukilan mereka dan ini yang mereka gunakan untuk melarang Tahlilan. Ketidak jujuran ini yang mereka dakwahkan untuk menipu umat Islam atas nama Kitab I’anatuth Thalibin dan Al‐‘Allamah Asy‐Syekh Al‐Imam Abi Bakr Ibnu As‐Sayyid Muhammad Syatha Ad‐Dimyathiy Asy‐Syafi’i. Dalam pertanyaan dan jawaban diatas, yang sebenarnya termasuk bagian dari bid’ah Munkarah adalah kebiasaan pentakziyah menunggu makanan di tempat ahlu (keluarga) yang terkena musibah kematian, akal sehat pun akan menganggap bahwa kebiasaan itu tidak wajar dan memang patut untuk di hentikan. Maka, sangat wajar juga bahwa Mufti diatas menyatakan kebiasaan tersebut sebagai bid’ah Munkarah, dan penguasa yang menghentikan kebiasaan tersebut akan mendapat pahala. Namun, karena keluasan ilmu dari Mufti tersebut tidak berani untuk menetapkan hukum “Haram” kecuali jika memang ada dalil yang jelas dan sebab‐sebabnya pun luas.

Tentu saja, Mufti tersebut kemungkinan akan berkata lain jika membahasnya pada sisi yang lebih umum (bukan tentang kasus yang ditanyakan), dimana pentakziyah datang untuk menghibur, menyabarkan ahlu (keluarga) mayyit bahkan membawa (memberi) bantuan berupa materi untuk pengurusan mayyit dan untuk menghormati pentakziyah yang datang. Pada kegiatan Tahlilan orang tidak akan datang ke rumah ahlul musibah dengan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak tuan rumah. Jika tuan rumah merasa berat tentu saja tidak perlu mengadakan tahlilan dan tidak perlu mengundang. Namun, siapa yang lebih mengerti dan paham tentang “memberatkan” atau “beban” terhadap keluarga mayyit sehingga menjadi alasan untuk melarang kegiatan tersebut, apakah orang lain atau ahlu (keluarga) mayyit itu sendiri ? tentu saja yang lebih tahu adalah ahlu (keluarga) mayyit. Keinginan ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan dan mengundang tetangga atau orang lain untuk datang ke kediamannya merupakan pertanda ahlu (keluarga) mayyit memang menginginkannya dan tidak merasa keberatan, sementara para tetangga (hadirin) yang diundang sama sekali tidak memaksa ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan. Ahlu (keluarga) mayyit mengetahui akan dirinya sendiri bahwa mereka mampu dan dengan senang hati beramal untuk kepentingan saudaranya yang meninggal dunia, sedangkan hadirin hanya tahu bahwa mereka di undang dan memenuhi undangan ahlu (keluarga) mayyit. 

Sungguh betapa sangat menyakitkan hati ahlu (keluarga) mayyit jika undangannya tidak dipenuhi dan bahkan makanan yang dihidangkan tidak dimakan atau tidak disentuh. Manakah yang lebih utama, melakukan amalan yang “dianggap makruh” dengan menghibur keluarga mayyit, membuat hati keluarga mayyit senang ataukah menghindari “yang dianggap makruh” namun menyakiti hati keluarga mayyit ?  Tentu saja akal yang sehat pun akan menilai bahwa menyenangkan hati orang dengan hal‐hal yang tidak diharamkan adalah sebuah kebaikan yang berpahala, dan menyakiti perasaannya adalah sebuah kejelekan yang dapat berakibat dosa. Disisi yang lain antara keluarga mayyit dan yang diundang, sama‐sama mendapatkan kebaikan. Dimana keluarga mayyit telah melakukan amal shaleh dengan mengajak orang banyak mendo’akan anggota keluarga yang meninggal dunia, bersedekah atas nama mayyit, dan menghormati tamu dengan cara memberikan makanan dan minuman. Pada sisi yang diundang pun sama‐sama melakukan amal shaleh dengan memenuhi undangan, mendo’akan mayyit, berdzikir bersama, menemani dan menghibur keluarga mayyit. Manakah dari hal‐hal baik tersebut yang diharamkan ? Sungguh ulama yang mumpuni benar‐benar bijaksana dalam menetapkan hukum “makruh” karena melihat dengan seksama adanya potensi “menambah kesedihan atau beban merepotkan”, meskipun jika seandainya hal itu tidak benar‐benar ada. Adanya sebagian kegiatan Tahlilan yang dilakukan oleh orang awam, yang sangat membebani dan menyusahkan, karena ketidak mengertiannya pada dalam masalah agama, secara umum tidak bisa dijadikan alasan untuk menetapkan hukum haram atau terlarang. Bagi mereka, lebih pantas diberi tahu atau diajari bukan di hukumi.

Point Kedua :

Juga bentuk ketidak jujuran dan mensalah pahami maksud dari kalimat tersebut. Kata yang seharusnya merupakan status hukum namun diterjemahkan sehingga maksud yang terkandung dari pernyataan tersebut menjadi berbeda. Ungkapan‐ungkapan ulama seperti "akrahu" (saya membenci), "makruh" (dibenci), "yukrahu" (dibenci), "bid'ah munkarah" (bid'ah munkar), "bid'ah ghairu mustahabbah" (bid'ah yang tidak dianjurkan), dan "bid'ah mustaqbahah" (bid'ah yang dianggap jelek), semua itu mereka pahami sebagai larangan yang berindikasi hukum
haram mutlak. Padahal didalam kitab tersebut, berkali‐kali dinyatakan hukum “makruh” untuk kegiatan berkumpul dirumah keluarga mayyit dan dihidangkan makanan, terlepas dari hukum‐hukum perkara lain seperti takziyah, hukum mendo’akan, bersedekah untuk mayyit, dimana semua itu dihukumi sunnah. Terjemahan “mereka” :
“Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu : Kami menganggap bahwa berkumpul dirumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.”
Berikut teksnya (yang benar), 

وما اعتيد من جعل أھل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروھة - كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد االجتماع إلى أھل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
“Dan kebiasaaan dari keluarga mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) manusia kepadanya, ini bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh), sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir ra, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke keluarga mayyit dan menyediakan makanan untuk mereka setelah dikuburnya mayyit adalah bagian dari meratap (an‐Niyahah)”.

Mereka secara tidak jujur menterjemahkan status hukum “Makruh” pada kalimat diatas dan hal itu sudah menjadi tuntutan untuk tidak jujur bagi mereka sebab mereka telah menolak pembagian bid’ah. Karena penolakan tersebut, maka mau tidak mau mereka harus berusaha memelintir maksud dari bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh) tersebut. Padahal bid’ah juga dibagi menjadi lima status hukum namun mereka tolak, sebagaimana yang tercantum dalam kitab al‐Imam an‐Nawawi yaitu Syarah Shahih Muslim ;

أن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة
“Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi 5 macam ; bid’ah yang wajib, mandzubah (sunnah), muharramah (bid’ah yang haram), makruhah (bid’ah yang makruh), dan mubahah (mubah)” [Syarh An‐Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]

Bila ingin memahami perkataan Ulama madzhab Syafi’I, maka pahami juga istilah‐istilah yang ada dan digunakan didalam madzhab Syafi’i. Penolakan mereka terhadap pembagian bid’ah ini mengandung konsekuensi yang besar bagi mereka sendiri saat dihadapkan dengan kitab‐kitab ulama Madzhab Syafi’iyyah, dan untuk menghidarinya, satu‐satunya jalan adalah dengan jalan tidak jujur atau mengaburkan maksud yang terkandung dari sebuah kalimat. Siapapun yang mengikuti pemahaman mereka maka sudah bisa dipastikan keliru. Status hukum yang disebutkan pada kalimat diatas adalah “Makruh”. Makruh adalah makruh dan tetap makruh, bukan haram. Dimana pengertian makruh adalah “Yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi yaitu mendapat pahala apabila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila dilakukan”. Makruh yang disebutkan diatas, juga terlepas dari hukum takziyah itu sendiri. 

Kemudian persoalan “an‐Niyahah (meratap)” pada hadits Shahih diatas, dimana hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah :
“Kami (para sahabat) memandang berkumpul di tempat keluarga mayyit dan membuat makanan termasuk bagian dari meratap”
“An‐Niyahah” memang perbuatan yang dilarang dalam agama. Namun, bukan berarti sama sekali tidak boleh bersedih atau menangis saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia, sedangkan Rasulullah saja menangis mengeluarkan air mata saat cucu Beliau wafat. Disaat Beliau mencucurkan air mata, (sahabat) Sa’ad berkata kepada Rasulullah :
“..maka Sa’ad berkata : Ya .. Rasulullah apakah ini ? “Ini (kesedihan ini) adalah rahmat yang Allah jadikan di hati para hamba‐Nya, Allah hanya merahmati hamba‐hamba‐Nya yang mengasisihi (ruhama’)” [HR. Imam Bukhari No. 1284]

Rasulullah juga menangis saat menjelang wafatnya putra Beliau yang bernama Ibrahim, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf,

“..Maka Abdurrahman bin ‘Auf berkata kepada Rasulullah, “dan anda wahai Rasulullah ?, Rasulullah berkata, “wahai Ibnu ‘Auf sesungguhnya (tangisan) itu rahmat". Dalam sabda yang lain beliau bersabda, “Sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata, dan hati bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang menjadi keridhaan Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih karena perpisahanku dengan Ibrahim”. [HR. Imam Bukhari No. 1303]

Rasulullah juga menangis di makam ibunda beliau sehingga orang yang bersamanya pun ikut menangis sebagaimana diriwayatkan di dalam hadis‐hadis shahih [lihat Mughni alMuhtaaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz AlMinhaj, Al‐Allamah Al‐Imam Muhammad al‐Khathib asy‐Syarbini, Dar el‐Fikr, juz 1, hal. 356). Maka meratap yang sebenarnya dilarang (diharamkan) yang disebut sebagai “An‐Niyahah” adalah menangisi mayyit dengan suara keras hingga menggerung apalagi diiringi dengan ekspresi berlebihan seperti memukul‐mukul atau menampar pipi, menarik‐narik rambut, dan lain sebagainya. Kembali kepada status hukum “Makruh” diatas, sebagaimana juga dijelaskan didalam Kitab al‐Mughniy :

فأما صنع أھل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغال لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أھل الجاھلية
“Maka adapun bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang, maka itu
Makruh, karena bisa menambah atas musibah mereka, menambah kesibukan mereka (merepotkan) dan meniru‐niru kaum Jahiliyah” [Al‐Mughniy Juz II/215]

Makruh bukan haram, dan status hukum Makruh bisa berubah menjadi Mubah (Jaiz/boleh) jika keadaannya sebagaimana digambarkan dalam kitab yang sama, berikut ini ;

وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى والاماكن البعيدة ويبيت عندھم ولا يمكنهم الا أن يضيفوه
“Dan jika melakukannya karena ada hajat, maka itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yang datang ada yang berasal dari pedesaan, dan tempat-tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tidak bisa (tidak mungkin) kecuali mereka mesti di jamu (diberi hidangan)” [Al‐Mughniy Juz II/215]

Point Ketiga :

Penukilan (pada point 3) ini juga tidak tepat dan keluar dari konteks, sebab pernyataan tersebut masih terikat dengan kalimat sebelumnya. Dan mereka juga menterjemahkan status hukum yang ditetapkan dalam kitab Al‐Bazaz. Terjemahan “Mereka” :
“Dalam Kitab Al Bazaz : Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.”
Berikut teksnya (yang benar) :

وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أھل الميت، لانه شرع في السرور، وھي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أھل الميت وصنعهم الطعام من النياحة. اھ. وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد االسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ
“Dan (juga) berkata : “Dan dimakruhkan penyediaan jamuan besar dari keluarga mayyit, karena untuk mengadakan kegembiran dan ini adalah bi’dah. Diriwayatkan oleh Al‐Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang shahih, dari Jarir bin Abdullah, berkata : “kami (sahabat) menganggap berkumpulnya ketempat keluarga mayyit dan menyediakan makanan bagian dari meratap”. Dan didalam kitab Al‐bazaz, “Dimakruhkan menyediakan makanan pada hari pertama, ke tiga dan setelah satu minggu dan juga dikatakan (termasuk) makanan yang dibawa ke kuburan pada musiman”.

Apa yang dijelaskan didalam kitab Al‐Bazaz adalah sebagai penguat pernyataan Makruh sebelumnya, jadi masih terkait dengan apa yang disampaikan sebelumnya. Namun sayangnya, mereka menukil separuh‐separuh sehingga maksud dari pernyataan tersebut melenceng, parahnya lagi (ketidak jujuran ini) mereka gunakan untuk melarang Tahlilan karena kebencian mereka terhadap kegiatan tersebut dan tidak menjelaskan apa yang sebenarnya dimakruhkan. Yang dimakruhkan adalah berupa jamuan besar untuk tamu yang dilakukan oleh keluarga mayyit untuk kegembiraan. Status hukum ini adalah makruh bukan haram, namun bisa berubah menjadi jaiz (mubah) sebagaimana dijelaskan pada point 2 didalam Kitab Al‐Mughniy. 

Point Keempat :

Lagi‐lagi mereka menterjemahkan secara tidak jujur dan memenggal‐menggal kalimat yang seharusnya utuh. Terjemahan ‘mereka’ :
“Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram.” (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145‐146)
Mereka telah memotong kalimatnya hanya sampai disitu. Sungguh ini telah memfitnah atas nama ulama (Pengarang kitab I’anatuth Thabilibin).
Berikut teks lengkapnya (yang benar) ;

وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.
“Dan didalam kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al‐Minhaj (karangan Al‐‘Allamah asy‐Syekh Sulaiman al‐Jamal) : “Dan sebagian dari bid’ah Munkarah dan Makruh mengerjakannya yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita, berkumpul dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang, atau dari harta mayyit yang memiliki tanggungan hutang atau dari harta yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya”

Begitu jelas ketidak jujuran yang mereka lakukan dan penipuan terhadap umat Islam yang mereka sebarkan melalui website dan buku‐buku mereka. Buku mereka yang memuat terjemahan tidak jujur diatas adalah buku yang berjudul “Membongkar Kesesatan Tahlilan”, hal. 31, disana ditulis :
"Dan di antara bid'ah munkaroh yang sangat dibenci adalah apa yang dilakukan orang di hari ketujuh dan di hari ke‐40nya. semua itu haram hukumnya".
Dan juga dalam buku “Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan” :
"Di antara bid'ah munkarat yang tidak disukai ialah perkara yang sangat biasa diamalkan oleh individu dalam majelis untuk menyampaikan rasa duka cita (kenduri arwah), berkumpul dan membuat jamuan majelis untuk kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram" (lihat buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, hal. 69).

Kalimat yang seharusnya di lanjutkan di potong. Mereka telah menyembunyikan maksud yang sebenarnya dari ungkapan ulama yang berasal dari kitab aslinya. Mereka memenggal kalimat secara “seksama” (penipuan yang direncanakan/disengaja, red) demi tercapainya tujuan mereka yaitu melarang bahkan mengharamkan Tahlilan, seolah olah tujuan mereka didukung oleh pendapat Ulama, padahal hanya didukung oleh tipu daya mereka sendiri yang mengatas namakan ulama. Bukankah hal semacam ini juga termasuk telah memfitnah Ulama ? Menandakan bahwa pelakunya berakhlak buruk juga lancang terhadap Ulama ? Ucapan mereka yang katanya menghidupkan sunnah sangat bertolak belakang dengan prilaku penipuan yang mereka lakukan. 

Point Kelima :
Terjemahan mereka,
“Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas‐luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat‐rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang‐orang memaksa‐maksa diri mereka berbuat hal‐hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145‐146)
Kalimat diatas sebenarnya masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya, oleh karena itu harus dipahami secara keseluruhan. Berikut ini adalah kelanjutan dari kalimat pada point ke‐4.

. وقد قال رسول الله (ص) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورھم شيئا. ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارھم شيئا. وقال (ص): إن ھذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح، فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغالقا للشر. وويل لعبد جعله الله مفتاحا للشر، مغالقا للخير.
“Dan sungguh Rasulullah bersabda kepada Bilal bin Harits : Wahai Bilal, barangsiapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku setelah dimatikan sesudahku, maka baginya pahala seperti (pahala) orang yang mengamalkannya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka (orang yang mengamalkan) dan barangsiapa yang mengada‐adakan (membuat) bid’ah dhalalah dimana Allah dan Rasul‐Nya tidak akan ridha, maka baginya (dosa) sebagaimana orang yang mengamalkannya dan tidak dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. dan Nabi bersabda : “Sesungguhnya kebaikan itu memiliki khazanah‐khazanah, khazanah‐khazanah itu ada kunci‐kuncinya (pembukanya), Maka berbahagialah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka untuk kebaikan dan pengunci keburukan. Maka celakalah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka keburukan dan pengunci kebaikan”

ولا شك أن منع الناس من ھذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.
“Dan tidak ada keraguan bahwa mencegah manusia dari bid’ah Munkarah ini, padanya termasuk menghidupkan as‐Sunnah, dan mematikan bagi bid’ah, dan membuka pada banyak pintu kebaikan, dan mengunci kebanyakan pintu keburukan. Maka jika manusia membebani (dirinya) dengan beban yang banyak, itu hanya akan mengantarkan mereka kepada perkara yang diharamkan.”
Jika hanya membaca sepintas nukilan dari mereka, akan terkesan seolah‐olah adanya pelarangan bahwa berkumpulnya manusia dan makan hidangan di tempat keluarga mayyit adalah diharamkan sebagaimana yang telah mereka nukil secara tidak jujur dipoint‐4 atau bahkan ketidak jelasan mengenai bid’ah Munkarah yang dimaksud, padahal pada kalimat sebelumnya (lihat point‐4) sudah dijelaskan dan status hukumnya adalah Makruh, namun memang bisa mengantarkan pada perkara yang haram jika membebani dengan beban yang banyak, sebagaimana dijelaskan pada akhir‐akhir point ke‐5 ini dan juga pada point‐4 yaitu jika dibiayai dari harta yang terlarang , atau dari harta mayyit yang memiliki tanggungan hutang atau dari harta yang bisa menimbulkan bahaya atasnya.

PENUTUP

Demikian apa yang bisa kami sampaikan untuk meluruskan nukil‐nukilan tidak jujur dari “pendakwah salaf” yang katanya “pengikut salaf” namun sayang sekali prilaku mereka sangat bertolak belakang dengan prilaku salaf bahkan lebih buruk. Kami menghimbau agar jangan terlalu percaya dengan nukilan‐nukilan mereka, sebaiknya mengecek sendiri atau tanyakan pada ulama atau ustadz tempat antum masing‐masing agar tidak menjadi korban internet dan korban penipuan mereka. Masih banyak kitab ulama lainnya yang mereka pelintir maksudnya. Maka berhati‐hatilah.

والله سبحانه وتعالى أعلم

Abdurrohim ats‐Tsauriy 

Referensi :
‐ Kitab I’anatuth Thalibin, Al‐‘Allamah Asy‐Syekh Al‐Imam As‐Sayyid Ad‐Dimyathiy Asy‐Syafi’i
‐ Syarh An‐Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Al‐Imam Hujjatul Islam An‐Nawawi
‐ Shahih Al‐Bukhari, Imam Bukhari
‐ Situs yang disebutkan diatas
‐ Dari berbagai sumber

Situs & buku yg memuat nukilan palsu (dusta) diatas :
Buku “Membongkar Kesesatan Tahlilan”
Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan” 
http://fauzyachmed.blogspot.com/2009/10/bismillah‐assalaamualaikum‐wa.html
http://micr0byt3.wordpress.com/2007/08/28/tahlilan‐dan‐selamatan‐menurut‐madzhab‐syafii/
http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3
http://www.mesra.net/forum/lofiversion/index.php/t38399.html
Dan lain‐lain kemungkinan masih banyak.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MEREKA MENDUSTAKAN UMMAT"

Post a Comment