JANGAN MENGGANGGU WALI ALLAH SWT, SEKILAS TENTANG MBAH PRIOK

Dalam Hadits Qudsi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dalam shahihnya,
"Siapa memusuhi wali-Ku, Aku mengumumkan perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika aku telah menintainya, Aku menjadi telinganya di mana ia mendengar dengannya, Aku menjadi matanya di mana ia melihat dengannya, Aku menjadi tangannya di mana ia bertindak dengannya, dan Aku menjadi kakinya di mana ia berjalan dengannya. Jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, Aku pasti memberi permintaannya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya."

Kenapa dan ada apa dengan Mbah Priok?
Nama Mbah Priok bagi warga Koja-Jakarta bukanlah nama yang asing terdengar. Namun bagi warna Indonesia pada umumnya akan bertanya-tanya siapa sebenarnya Mbah Priok tersebut? Siapa sosok yang booming di sebut-sebut diberbagai pemberintaan nusantara sejak 14 April 2010 silam?
Ya, nama Mbah Priok booming terdengar di berbagai pemberitaan setelah terjadi bentrok antara satpol PP yang akan mengeksekusi makam beliau, dengan massa pro Mbah Priok yang menolak eksekusi.

Siapa sebenarnya mbah Priok?
Mbah Priok yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini beliau sebenarnya adalah Al 'Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad, seorang ulama asal Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan, yang wafat ketika dalam perjalanan dakwah ke Pulau Jawa.

Setelah belajar kepada orangtuanya, habib kelahiran tahun 1727 itu menuntut ilmu ke Hadhramaut, Yaman. Hampir sebagian besar usianya dihabiskan untuk belajar di Negeri Para Wali tersebut. Setelah kembali ke tanah kelahirannya, Habib Hasan pun segera larut dalam kegiatan berdakwah keluar masuk kampung di Sumatera Selatan.

Sesudah puluhan tahun berdakwah di Palembang, ia memutuskan untuk berdakwah ke Pulau Jawa. Bersama Habib Ali Al-Haddad, sahabatnya, Habib Hasan berangkat menuju Jawa menggunakan perahu layar. Awalnya, pelayaran mereka berlangsung mulus, bahkan perahunya selalu dikawal dua ekor lumba-lumba di kiri clan kanan sampai perbatasan Selat Sunda.

Namun, beberapa waktu kemudian, di tengah perjalanan setelah melewati Selat Sunda, badai dahsyat memporakporandakan perjalanan mereka. Berharihari terapung-apung di lautan luas, satu per satu anggota rombongan mulai lemah. Keadaan semakin parah ketika tiba-tiba ombak membalik perahu mereka, yang mengakibatkan hampir semua anggota rombongan wafat.

Nisan dan Priuk
Tinggal Habib Hasan clan Habib Ali yang masih hidup. Sambil berenang, kedua ulama itu berusaha membalik kembali perahunya. Namun malang, selain sebuah dayung dan periuk nasi yang berhasil diraih, seluruh perkakas clan perbekalan yang mereka bawa dari Palembang hilang tenggelam, dan sebagian lagi hanyut entah ke mana.

Sepuluh hari terkatung-katung di laut membuat Habib Hasan bin Muhammad AlHaddad melemah dan akhirnya wafat. Dengan dayung yang tersisa, Habib Ali membawa jenazah Habib Hasan Al-Haddad ke daratan terdekat.

Serombongan nelayan yang tengah beristirahat segera membantu prosesi pemakaman di daerah seksi satu, yang kini dikenal dengan nama Pulau Dayung. Sebatang dayung dan periuk yang tersisa dijadikan nisan penanda. Sementara Habib Ali melanjutkan perjalanannya berdakwah ke daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Dua puluh tiga tahun kemudian, pemerintah Belanda yang akan membangun pelabuhan bermaksud menggusur makam Habib Hasan. Namun peristiwa aneh terjadi :
Kuli-kuli yang diperintahkan untuk memindahkan makam tak dikenal itu menghilang secara misterius. Setiap malam para pekerja juga melihat seseorang berjubah putih yang memancarkan kemilau cahaya duduk berdzikir di dekat nisan periuk itu.

Kompeni lalu meminta bantuan seorang kiai untuk mencari tahu makam siapakah gerangan yang "menolak dipindahkan" itu. Melalui suatu upacara ritual diketahui, penghuni makam itu adalah seorang ulama besar asal Palembang, yang masih memiliki seorang adik bernama Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad.

Akhirnya diputuskan mendatangkan sang adik untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Dengan izin Allah SWT, jenazah Habib Hasan, yang masih utuh berbalut kain kafan dan tak rusak sedikit pun, dipindahkan ke makam yang sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu. Dan sebagai penanda, periuk sang habib kembali dijadikan nisan, dan di atas makamnya ditanam bunga tanjung.

Masyarakat di sekitar daerah itu melihat, kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung Periuk. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yaitu bunga tanjung clan periuk. Seiring perjalanan waktu, dialek masyarakat daerah Koja dan sekitarnya membunyikan Tanjung Periuk dengan Tanjung Priok.
Hingga saat ini, makam habib yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Priok itu masih memancarkan aura karamahnya. Tahun 2004 yang lalu, misalnya, makam Habib Hasan akan dibuldozer oleh oknum pejabat pelabuhan yang merasa keberadaan makam itu mengganggu.
Ajaib, setiap kali buldozer diarahkan ke makam, mesinnya selalu mati dan rusak total, sehingga harus diganti yang baru. Tak hanya itu, operator buldozernya pun kemudian sakit dan meninggal. Konon, peristiwa ajaib itu terulang sampai enam kali.

Satpol PP Akui Ada Keanehan Saat Bentrok di Koja
Petugas Satpol PP mengakui ada keanehan yang terjadi saat bentrokan di Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara.

Kejadian-kejadian aneh itu menurut Kasi Pengawasan Satpol PP, Soetanto, sempat membuat para petugas saat itu stres.

"Masak ada bambu bisa membelah tameng. Semua anggota kami stres," ujar Soetanto saat ditemui di Lapangan Irti Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (17/4/2010).

Kejadian aneh lain, tambahnya, saat kendaraan water cannon menyemprotkan air, justru air tersebut seperti mengarah ke anggotanya.

"Batu-batu yang dilempar sepertinya sedikit yang kena, seperti tidak percaya," bebernya lagi.
Kondisi ini, lanjutnya, membuat anggotanya tertekan dan membutuhkan konseling. Bahkan gejala stres itu jelas terlihat saat mereka dievakuasi dari terminal peti kemas Koja, menggunakan kapal melalui laut saat Rabu maghrib.

"Mereka itu (Satpol PP) perlu diberi konseling karena pada stres semua saat masuk ke kapal yang mengevakuasi melalui laut," katanya. (www.okezone.com)

Salah seorang petugas Satpol PP yang dari awal mengamati proses bentrokan fisik mengatakan kendati jumlah pengikut Habib tidak ada setengahnya dari Satpol PP, mereka tidak ada yang takut terluka, parah sama sekali !. "Sepertinya mereka punya ilmu ghaib. Tidak ada yang terluka berat, saat terkena lemparan benda keras, bahkan maju terus," kata petugas yang tidak mau disebut namanya itu.

Sebaliknya, justru petugas yang banyak menderita luka. Padahal, petugas sudah mengenakan pakaian anti huru-hara. Petugas Satpol PP yang bernama Slamet menambahkan malahan ada helm petugas yang sampai pecah karena terkena lemparan dari salah satu pengikut habib.

Tetapi sebaliknya, ketika petugas melempar batu ke arah massa, seolah-olah bagi massa, batu itu tidak berarti apa-apa. Slamet sangat heran dengan pengalamannya. Dia mengaku merasakan ada kekuatan di luar akal sehatnya yang ikut membentengi lokasi sehingga petugas sangat sulit melaksanakan eksekusi. (www.tvone.com)

Bertahan Karena Karomah Mbah Priok
Peristiwa bentrokan di Koja Jakarta Utara, Rabu lalu, bermula saat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berusaha menertibkan komplek makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad. Ratusan santri dan warga yang berusaha mempertahankan makam pun melawan ribuan anggota Satpol PP.

Lantas, bagaimana ratusan orang di dalam komplek dapat melawan ribuan anggota Satpol PP yang dibantu petugas keamanan? Sebagian santri percaya mereka dapat bertahan karena karomah Habib Hasan yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Priok.

Karomah adalah semacam keajaiban, yang dipercaya dimiliki oleh pemuka agama sekelas wali atau aulia. Sedangkan untuk orang yang sekelas Nabi, keajaiban itu dikenal dengan nama mukjizat.
"Semua karena pertolongan Allah dan karomah Habib Hasan. Ribuan Satpol PP itu juga sampai ketakutan waktu berusaha membongkar," kata Warso, salah seorang warga.

Karomah itu, kata Warso, antara lain saat Satpol PP yang tiba-tiba jatuh saat memasuki halaman depan komplek makam. "Seperti ada yang nyelengkat (menjegal)," kata dia.

Karomah lain, Warso menceritakan, adalah saat seorang santri cilik tidak terluka atau pun jatuh saat terkena lemparan batu besar yang dilempar petugas Satpol PP. "Gas air mata juga mati waktu ditembak ke sini," ujar Warso.

Makam Mbah Priok memang lama dikenal warga sebagai tempat 'ajaib'. Abdillah, seorang warga Koja, menceritakan bahwa ada salah satu pekerja yang buang air kecil sembarangan, yang kemudian merasakan 'karomah' Mbah Priok.

"Kepalanya tiba-tiba miring, kayak habis ditampar. Itu seperti 'ditegur' langsung oleh Habib Hasan," ucap Abdillah. (www.metro.vivanews.com)
- Ridha Hidayat Habsyie -

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "JANGAN MENGGANGGU WALI ALLAH SWT, SEKILAS TENTANG MBAH PRIOK"

Post a Comment