INDAHNYA SALING MEMAAFKAN

(Refleksi diri menjelang Ramadhan)

Setiap kita pernah melakukan kesalahan, kealpaan, atau kekhilafan. Baik kepada diri sendiri, kepada Allah dan terutama kepada sesama. Sengaja atau tidak, besar atau kecil, langsung atau tidak langsung yang pasti kita pernah berbuat kesalahan.
Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi yang artinya, “Nabi Musa a.s bertanya kepada Allah, “Ya Rabbi ! Siapakah diantara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu?” Allah berfirman, “Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.”
Ini berarti bahwa manusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, kecuali Rasulullah Saw. yang ma’shum (sentiasa dalam bimbingan Allah). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang bisa memaafkan kesalahan orang lain yang telah melukai hati dan perasaannya.
Orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin). Allah berfirman,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
_Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan *memaafkan kesalahan orang lain*, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan_. (QS. Ali-Imran: 133-134).
Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak untuk menahannya tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut balas atasnya atau denda kepadanya.
Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran al 'afwu (العفو) yang berarti “menghapus”, artinya memaafkan berarti menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara.
Boleh jadi, ketika apa yang dilakukan masih dalam tahap “masih menahan amarah”. Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru boleh dikatakan telah memaafkan orang lain.
Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Kerana sifat pemaaf merupakan sebahagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus diikuti.
Allah Swt. berfirman :
فمن عفى واصلح فاجره على الله
_Maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah_. (QS. Asy-Syura : 40).
Dalam sebuah Hadits dinyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata kepada Sahabat Uqbah, “Wahai Uqbah, bagaimana jika ku beritahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? _Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu; hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan hendaklah engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu_.” (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Al-Quran memang menetapkan, bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diizinkan untuk membela diri tapi bukan didasarkan atas balas dendam. Pembelaan diri dilakukan dengan penuh simpati seraya menunjukan perangai yang luhur, bersabar, memaafkan dan toleran.
Ketika Matsah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan putrinya, Aisyah yang juga isteri Nabi. Abu Bakar bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberikan maaf dan berlapang dada (Lihat tafsir QS. An-Nur : 22).
Dari ayat ini ternyata ada tingkatan yang lebih tinggi dari al 'afwu (العفو), yaitu al shafhu (الصفح). Kata ini pada mulanya berarti kelapangan. Darinya dibentuk kata shafhat (صفحة) yang bererti lembaran atau halaman, serta mushafahat (مصافحة) yang berarti berjabat tangan. Seorang yang melakukan al shafhu seperti anjuran ayat diatas, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.
Al shafhu yang digambarkan dalam bentuk jabat tangan itu, menurut Al-Raghib “lebih tinggi nilainya” dari pada memaafkan. Dalam al shafhu dituntut untuk membuka kembali lembaran baru dan menutup lembaran lama.
_Let’s gone be by gone_ (yang lalu biarlah berlalu) bangunkan kembali masa depan dengan semangat yang baru. Kita selalu lupa, hanya kerana kesalahan yang telah dibuat orang lain, kita melupakan semua kebaikan yang pernah dibuatnya. Untuk itu, kita juga harus memperlakukan semuanya secara seimbang.
Yang terbaik buat kita hari ini adalah bersama-sama bangun kembali dengan semangat baru, ketulusan hati dan semangat persaudaraan. Jangan ada yang berkata, “Tiada maaf bagimu.” Ahli hikmah mengatakan,
_Ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal. Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu_.
Semoga puasa kita tahun ini makin berisi. Amiin


Dr. H. Fathurin Zen SH, M.Si
Dosen Program S3 Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "INDAHNYA SALING MEMAAFKAN"

Post a Comment