Ya Lal Wathan, Cintamu dalam Imanku

“Pusaka hati wahai tanah airku

Cintamu dalam imanku

Jangan hilangkan nasibmu

Bangkitlah hai bangsaku,”

Demikian kutipan sebagian kata-kata yang terkandung dalam syair karya KH. Wahab Hasbullah. “Mencintai tanah air sebagian dari iman”, ungkapan ini diyakini sebagian umat muslim sebagai hadis Nabi. Terlepas apakah benar-benar sudah menyelidiki secara mendalam atau tidak, mari kita berdialektika sekilas dari bagaimana ungkapan yang diyakini sebagai hadis ini, yang sudah lama tertanam dalam pikiran masyarakat.

Urusan mencintai tanah air adalah bagian yang esensial dari sikap nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme dan patriotisme tidak hanya sekedar menjadi sebuah pembicaraan dan ideologi saja. Akan tetapi sejak berdirinya suatu negara, sikap nasionalisme dan patriotisme juga terwujud di dalam sistem administratif negara itu sendiri. Dalam hukum kewarganegaraan dan kebangsaan, lazim jika seseorang berada di negeri ini, maka ia adalah warga negara dan berbangsa Indonesia, serta kedua orang tuanya berkebangsaan atau berkewarganegaraan yang sama, maka disebut lus soli. Sementara ketika ia mengikuti nasab asal orang tuanya, meski tidak dilahirkan di negeri asal maka disebutilus sanguinis. Bahkan sebelum adanya prinsip-prinsip sistem administratif di atas, nasionalisme dan patriotisme sudah ada secara kultural. Ikatan seseorang dengan negeri asalnya adalah bagian dari bentuk institusi sosial.

Sebelum kemerdekaan, masyarakat sudah mendengung-dengungkan Hubbul Wathȏn Minal Imȃn sebagai jargon untuk melawan penjajah, dan juga sebagai perwujudan dari sikap nasionalisme dan patriotisme. Bahkan KH. Wahab Hasbullah, salah satu pendiri Nahdhatul Ulama, menggubah ungkapan ini ke dalam bentuk sebuah karya sastra Arab (syair) untuk menyemangati rakyat, ulama, dan santri untuk melawan penjajah. Peristiwa tersebut terjadi pada 10 November 1945 M. di Surabaya, yang kemudian dijadikan sebagai hari pahlawan.

Menyoalkan Frasa Hubbul Wathȏn Minal Imȃn

Syaikh Al-Sakhowi dalam Al-Maqosid Al-Hasanah menyatakan bahwasanya ungkapan ini bukanlah hadis. Pendapatnya disepakati oleh sebagian ulama, diantaranya Al-Ajluni dalam karyanya Kasyf Al-Khafa dan Al-Bani dalam Silsilah Al-Hadis Al-Maudhu’ah, sampai sebagian ulama lain yang tidak memberikan komentar apa-apa mengenai hal tersebut. Dari keragaman penilaian di atas, setidaknya kita bisa tarik dua hal penting. Pertama, dengan segala perdebatan yang ada soal otentisitas ini, nampaknya ungkapan yang demikian sudah masyhur sejak zaman dahulu, tidak menutup kemungkinan jika orang yang beriman juga mencintai tanah airnya. Begitu pula sebaliknya, lewat kecintaannya pada tanah air akan timbul adanya sebuah persatuan dan kesatuan antara orang yang beriman, yang semakin kokoh dan kuat. Karena mereka juga terikat oleh ikatan tanah air, meski keyakinan mereka berbeda-beda dan beragam. Kedua, para ulama menanggapi ungkapan ini tidaklah bertentangan dengan ajaran agama. Karena dari esensi sebab diturunkannya syariat diartikan bahwa, syariat islam bukan hanya menyangkut sistem ritual atau ideologi saja, melainkan ia merupakan seperangkat nilai-nilai yang mencakup berbagai aspek dan kepentingan dalam keberlangsungan hidup, karena “Kullu mȃ fȋ syari’ah mu’allal”, setiap ajaran/syariat yang diturunkan pasti memiliki hikmah dan tujuan.

Namun, rupanya ada sejumlah hadis yang mengisyaratkan tentang kecintaan orang beriman pada tanah airnya. Bahkan nabi Muhammad SAW pernah berkata ketika beliau hendak meninggalkan kota Mekah  untuk hijrah ke Madinah, beliau bersabda; “Tidak ada kota (tanah air) yang membuat hatiku tentram dan kucintai melebihi Mekah. Andaikan saja kaumku (Suku Quraisy) tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan pernah ingin tinggal di daerah manapun.”

Atau misal hadis yang diriwayatkan Ibn Abi Hatim; “Dari Al-Dhahhak, beliau berkata; ketika rasul SAW keluar dari kota Mekah lalu beliau sampai di Al-Juhfah (Sebuah tempat antara Mekah dan Madinah), beliau rindu dengan kota Mekah, maka Allah SWT menurunkan ayat; ‘Sesungguhnya (Allah)akan mengembalikanmu ke tempat kembali (yakni Mekah).'” Fenomena yang terjadi saat ini, yang sedang semarak-semaraknya tentang gagasan untuk membumikan corak Islam Nusantara, jika kita pahami secara mendalam, hal ini adalah bentuk perwujudan dan upaya untuk menegakkan serta mengukuhkan kembali sikap nasionalisme dan patriotisme (Hubbul Wathȏn Minal Imȃn) di bumi Nusantara ini. Karena, ia punya andil besar dalam menjaga keberlangsungan hidup berbangsa dan negara yang didasari oleh keimanan, dan juga sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada hamba untuk menjaga bumi Allah SWT yang manusia itu sendiri adalah sebagai khalifahnya di muka bumi ini. Namun perspektif Al-Wathȏn disini tidak sekedar diartikan tanah air saja, melainkan akhiratpun termasuk di dalamnya. Demikian kata Mula Al-Qori.

Perdebatan mengenai apakah ungkapan “Hubbul Wathȏn Minal Imȃn” ini hadis atau bukan tidaklah menjadi permasalahan. Kalau toh bukanlah hadis, secara garis besar makna ungkapan Hubbul Wathȏn Minal Imȃn ternyata tidaklah bertentangan dengan semangat ajaran agama, khususnya agama islam, demi menegakkan kesatuan dan persatuan, keadilan dan kemakmuran bagi seluruh umat dalam berbangsa dan beernegara.

Demikianlah, maka ingin saya tutup paragraf ini dengan umgkapan Syaikh Al-Amiri, seorang ulama hadis, ketika menjelaskan kedudukan tentang jargon Hubbul Wathȏn Minal Imȃnbeliau berkata; “Jika engkau ingin mengetahui tentang (cara pandang) seseorang, maka lihatlah bagaimana ia merindukan tanah air (tanah kelahirannya), dan kecintaannya kepada handai taulan, dan tangisannya atas apa yang telah diperbuatnya kepada masa lalu.” Wallȃhu a’lam bishshowwȃb. []

Penulis: Ario Dinoto, santri asal Cirebon.

(Lirboyonet/Rois Faisal .R)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ya Lal Wathan, Cintamu dalam Imanku"

Post a Comment