Wahabi oh Wahabi !!!

Maulana Syeikh Nazim Al-Haqqani :
"Jika saya berbicara dengan paus, dia menjadi muslim, jika saya berbicara dengan pendeta, dia menjadi muslim, jika saya berbicara dengan jesuit (orang kristen), dia menjadi muslim, dan jika saya berbicara dengan wahabi, dia menjadi lebih keras kepala".

Fakta-fakta yang harus di pertimbangkan untuk kita masih mentolerir wahabi di samping jurus andalan takfirinya :

1. Kaum Wahabi berpendapat bahwa Tuhan mereka duduk di Arsy dan membutuhkan tempat, ini sama artinya mereka menganggap Tuhan mereka adalah benda. Ideologi semacam ini sangat mirip dengan kaum mujasimah yang hidup dimasal lalu !

Al-Imam al-Hafidh Abdur Rahman Ibn Ali Ibn al-Jawzi (W. 597 H) mengatakan dalam kitabnya Syubah at-Tasybih :
إِنَّ مَنْ وَصَفَ اللهَ بِاْلمَكَانِ وَالْجِهَةِ فَهُوَ مُشَبِّهٌ مُجَسِّمٌ لِلّهِ لاَ يَعْرِفُ مَا يَجِبُ لِلْخَالِقِ
Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah, maka ia adalah seorang musyabbih (yaitu orang yang menyerupakan Allah dengan Makhluk-Nya) dan mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jisim atau benda) yang tidak mengetahui sifat Allah .
Al-Hafidh Ahamad Ibn Ali Ibn Hajar al Asqalani (W. 852 H) dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al Bukhari mengatakan :
إِنَّ الْمُشَبِّهَةَ الْمُجَسِّمَةَ للهِ تَعَالَـى هُمُ الَّذِيْنَ وَصَفُوْا اللهَ بِاْلـمَكَانِ وَاللهُ مُنَـزَّهٌ عَنْهُ.
Sesungguhnya golongan musyabbihah dan mujassimah adalah mereka yang mensifati Allah dengan tempat padahal Allah Maha Suci dari tempat.
Al-Imam ath-Thahawi juga mengatakan
وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِـي الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ
Barangsiapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia, maka ia telah kafir.

2. Kaum Wahabi mengaku lebih mengenal tuhannya karena berpegang ayat
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
dengan arti Dhahirnya.

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, (Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”.
(HR. Ahmad)

3. Sejatinya kaum wahabi telah bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw. karena :

- Prilaku kaum Wahabi yang merusak makam keluarga Rasulullah dan para sahabat beliau serta ulama - ulama merupakan bentuk pembagkangan dan penolakan ajaran Rasulullah yang jelas2 memerintahkan umatnya untuk menghormati kuburan.
Rasulullah bersabda : Sesungguhnya aku berjalan diatas bara api atau pedang atau aku menambal sandal dengan kakiku lebih aku sukai daripada berjalan diatas sebuah kuburan muslim.
(HR. Ibnu Majah)

- Sikap main hantam dengan mensyirikan semua pengguna ajimat, yg faktanya Rasulullah tidak menganggap syirik pada semua pengguna ajimat.

Hadits Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohih-nya :
عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِي بِهَا مِنْ الْعَقْرَبِ وَإِنَّكَ نَهَيْتَ عَنْ الرُّقَى قَالَ فَعَرَضُوهَا عَلَيْهِ فَقَالَ مَا أَرَى بَأْسًا مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ

Dari Jabir ra. : Rosululloh saw. melarang Ruqyah/mantera/jampi-jampi, kemudian datang keluarga Amr Ibn Hazm kepada Rosululloh saw, mereka berkata : Kami memiliki Ruqyah/Jampi-jampi untuk mengobati sengatan kalajengking, sedangkan engkau telah melarang Ruqyah/jampi-jampi tersebut. Selanjutnya mereka (keluarga Amr) memperlihatkan jampi-jampi tersebut kepada Rosululloh saw. Maka beliau bersabda : Menurutku tidak apa-apa, barang siapa mampu memberi manfaat untuk saudaranya maka hendaklah ia memberi manfaat pada saudaranya. (HR. Muslim)

Dalam hadits lain Shohih Muslim :
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
Dari Auf Ibn Malik Al Asyja’iy, ia berkata : Kami melakukan Ruqyah pada masa Jahiliyah, lalu kami berkata : Yaa Rosulalloh, bagaimana menurutmu ? maka Beliau bersabda : Perlihatkan Ruqyahmu padaku. Ruqyah tidak apa-apa selama tidak mengandung syirik. (HR. Muslim)

- Mereka menolak memberi sedekah dalam kenduri mayit, padahal Rasulullah mendatangi kenduri mayit

Diriwayatkan oleh Abu Daud, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari sahabat Anshar, yang redaksinya sebagai berikut :

أَوْسِعْ » : قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوصِي الْحَافِرَ
فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَه دَاعِي امْرَأَةٍ فَجَاء وَجِيء بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ، ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ، فَأَكَلُوا، فَنَظَرَ ، « مِنْ قِبَلِ رِجْ لَيْهِ، أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ
فَأَرْسَلَتِ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ : يَا ، « أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا » : آبَاؤُنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلُوكُ لُقْمَة ف ي فَمِهِ، ثُمَّ قَالَ
رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَرْسَلْتُ إِلَى الْبَقِيعِ يَشْتَرِي لِي شَاةً، فَلَمْ أَجِدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى جَارٍ لِي قَدِ اشْتَرَى شَاة ، أَ ن أَرْسِلْ إِلَيَّ بِهَا بِثَمَنِهَا، فَلَمْ يُوجَدْ،
» أَطْعِمِيهِ الْأُسَارَى » : فَأَرْسَلْتُ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيَّ بِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami keluar bersama Rasulullah saw pada sebuah jenazah, maka aku melihat Rasulullah saw berada diatas kubur berpesan kepada penggali kubur : "Perluaskanlah olehmu dari bagian kakinya, dan juga luaskanlah pada bagian kepalanya", Maka tatkala telah kembali dari kubur, seorang wanita mengundang (mengajak) Rasulullah, maka Rasulullah datang seraya didatangkan (disuguhkan) makanan yang diletakkan dihadapan Rasulullah, kemudian diletakkan juga pada sebuah perkumpulan (kaum/sahabat), kemudian dimakanlah oleh mereka. Maka ayah-ayah kami melihat Rasulullah saw makan dengan suapan, dan bersabda: "Aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya”. Kemudian wanita itu
berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengutus ke Baqi’ untuk membeli kambing untukku, namun tidak menemukannya, maka aku mengutus kepada tetanggaku untuk membeli kambingnya kemudian agar di kirim kepadaku, namun ia tidak ada, maka aku mengutus kepada istinya (untuk membelinya) dan ia kirim kambing itu kepadaku, maka Rasulullah bersabda : “berikanlah makanan ini untuk tawanan”.

Lalu fakta yang menyebutkan bhwa sahabat melakukan kenduri pada saat Rasulullah, Abu bakar, dan Umar wafat :
فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل للناس طعام فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ بالطعام ووضعت الموائد ، فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال العباس بن عبد المطلب : أيها الناس ! إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد العباس يده فأكل ومد الناس أيديهم فأكلوا

Ketika Umar ra terluka sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketikan hidangan hidangan ditaruhkan, orang orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib ra : "Wahai hadirin, sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar ra dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yg mesti, maka makanlah makanan ini !”, lalu beliau Abbas mengulurkan tangannya dan makan, maka orang orang pun mengulurkan tangannya masing masing dan makan.

* Fokus pada kalimat : "Wahai hadirin.., sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar ra dan kita makan dan minum sesudahnya ".

4. Dan yg trakhir adalah dari cara mereka memahami Al Quran pada ayat-ayat mutasyabihat dengan menggunakan nafsunya sendiri, hingga menolak beberapa ajaran Rasulullah adalah merupakan bukti mereka sebagai kaum yang diibatarakan anak panah yang lpas dari busurnya (sudah keluar jalur dari ajaran Islam yang sebenarnya).

Lalu masihkah harus kita mentolerir ?

(Rois Faisal .R)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wahabi oh Wahabi !!!"

Post a Comment