Tentang AL-GHUNYAH

Abu Yahya Badrussalam, dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan bahwasannya Syeikh Abdul Qadir Al-jilani mempunyai aqidah yang bertabrakan dengan Imam Asy'ari, karena tasybih dan tajsim dengan merujuk kitab Al-ghunyah. Benarkah demikian ?

Bismillahirrahmanirrahim.
Setelah melihat, mencermati dan mengkaji redaksi asli kitab al-Ghunyah karya Syeikh Abdul Qodir al-Jailani maka kami berkesimpulan bahwa kutipan pertanyaan diatas tidak semuanya benar dan tidak pula semuanya salah. Kutipan sebagaimana yang tertera dalam permasalahan tersebut adalah kutipan yang sepenggal-sepenggal, sehingga bisa menimbulkan kesalah fahaman.
Pemikiran Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitab al-ghunyah belum bisa dipahami dengan benar kalau hanya membaca/mengambil satu alenia tanpa menghubungkan/mengaitkan dengan alinea-alinea sebelum dan sesudahnya. Jika hanya memahami sepenggal itu saja maka akan jatuh ke dalam pemahaman tajsim (meyakini bahwa Allah adalah meteri/benda) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk).
Setidaknya pemikiran Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang tertuang di dalam kitab al-ghunyah bisa kita jelaskan sebagai berikut :

1. Madzhab pemahaman dan i'tiqod beliau adalah TAFWIDL, yakni menerima apa adanya teks tanpa takwil. Dan menyerahkan maksud teks sepenuhnya kepada Allah. Hal ini dapat difahami dari redaksi beliau yang mengatakan :
وينبغي اطلاق صفة الاستواء من غير تأويل وانه استواء الذات على العرش لا على معنى القعود والمماسة كما قالت المجسمة والكرامية
"Sebaiknya shifat istiwa' dimuthlaqkan tanpa takwil (mengarah makna lain). Dan sesungguhnya istiwa' tersebut adalah istiwa' nya Dzat atas arsy. Bukan istiwa' yang bermakna duduk dan saling menyentuh seperti perkataan mujassimin(golongan yang meyakini bahwa Allah adalah materi) dan karomiyah (pengikut Abu Abdillah Muhammad bin Karrom yang menyatakan bahwa Allah adalah jawhar atau materi/benda. Lihat al-farq bayna al-firoq, 161-162)” (Syekh Abdul Qodir Al-Jilani; Al-Ghunyah, hal: 124)

فالاستواء من صفات الذات بعد ما اخبرنا به, ونص عليه واكده فى سبع ايات من كتابه والسنة المأثورة به ...... ولا نخرج من الكتاب والسنة , نقرأ الاية والخبر ونؤمن بما فيهما ونكل الكيفية فى الصفات الى علم الله عز وجل
"Maka istiwa' merupakan bagian dari sifat-sifat dzat setelah Allah mengkhabarkan pada kita dan menjelaskannya serta mengukuhkannya dalam tujuh ayat dan kitabnya dan di dalam sunnah yang berbicara hal itu, kami tidak akan keluar (dalam memahami ayat seperti itu) dari al-kitab dan as-sunnah. Kami membaca ayat dan juga hadits dan kami beriman dengan segala sesuatu yang ada pada keduanya. Namun kami menyerahkan kayfiyahnya (bentuk/hakikat) sifat-sifat tersebut kepada ilmunya Allah" (Syekh Abdul Qodir Al-Jilani; Al-Ghunyah, hal: 125)

2. Beliau menolak faham tasybih dan tajsim. Tasybih berarti menyerupakan Allah dengan makhluq, sedangkan tajsim berarti menganggap Allah adalah materi. Hal ini bisa di faham dari redaksi di atas.

Kesimpulan:
1. Kutipan diatas hanyalah kutipan sepenggal yang tidak bisa disimpulkan sebagai i'tiqod Syekh Abdul Qodir al-Jailani tanpa melihat penjelasan beliau pada sisi yang lain.
2. Sesuai dengan tingkat pemahaman tauhid beliau yang sudah pada maqom arbabus syuhud maka selayaknya dan memang sudah sepantasnya bila beliau mengedepankan tafwidl daripada takwil. 
3. Kesimpulan akhir dari pemahaman beliau, "kami tidak berani untuk memaksakan pada selain yg tersirat dalam tafsir bacaannya ,sebab hal itu adalah ghoib, tidak mungkin logika bisa menangkap dan menerimanya".

TAMBAHAN K.H AZIZIHASBULLAH :

Beberapa pengkaji menyebutkan bahwa Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menyebut Asy'ariyyah sebagai kelompok sesat. Mereka berhujjah dengan ucapan beliau dalam al-Ghunyah hal. 91 berikut:

ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺎﺕ ﻭﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥّ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻮﺕ ﻻ ﻛﺼﻮﺕ ﺍﻵﺩﻣﻴﻴﻦ ، ﻛﻤﺎ ﺃﻥّ ﻋﻠﻤﻪ ﻭﻗﺪﺭﺗﻪ ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﻻ ﺗﺸﺒﻪ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻵﺩﻣﻴﻴﻦ ، ﻛﺬﻟﻚ ﺻﻮﺗﻪ ، ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ، ﺧﻼﻑ ﻣﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﺍﻷﺷﻌﺮﻳﺔ ﻣـﻦ ﺃﻥّ ﻛـﻼﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻌﻨﻰ ﻗﺎﺋـﻢ ﺑﻨﻔﺴـﻪ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺣﺴـﻴﺐ ﻛﻞ ﻣﺒﺘﺪﻉ ﺿﺎﻝ

Ucapan beliau yang terakhir: "Allah yang menghisab setiap ahli bid'ah dan ahli sesat" seakan-akan menjadi hujjah bahwa beliau mensesatkan Asy'ariyyah.


Menurut saya ini adalah anggapan yang keliru. Alasannya adalah:

1. Syaikh Abdul Qodir al-Jilani yang bermadzhab Hanbali tidak secara sharih menganggap Asy'ariyyah adalah kelompok sesat atau bid'ah. Pada ucapan tersebut, Syaikh Abdul Qodir  al-Jilani menjelaskan bahwa Kalamullah adalah dengan "shout" tetapi tidak sama dengan suara manusia. Dan beliau tak sependapat dengan akidah Asy'ariyyah yang menyebutkan kalamullah adalah kalamunnafsi. Jadi, ucapan terakhir beliau di atas bisa jadi sebagai ta'ridh atas pendapat Asy'ariyyah yang dianggapnya bid'ah dan sesat, tetapi beliau tidak menggeneralisir bahwa Asy'ariyyah adalah kelompok bid'ah atau sesat. Mungkin ucapan ini imbas dari perseteruan lama antara Hanabilah dengan Asy'ariyyah atau bahkan mungkin sisipan dari orang yang tak suka dengan Asy'ariyyah. Andai benar Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menuduh Asy'ariyah sesat tentu ucapan beliau akan menjadi bahan diskusi ramai dikalangan ulama Asy'ariyyah dan lain-lain.


2. Masalah kalamullah dengan "shout" ini adalah masalah klasik yang pernah menjadi perbedaan tajam antara ulama Hanabilah dengan ulama Asy'ariyah. Sebagian ulama Asy'ariyah ada yang sependapat dengan Hanabilah, pun sebaliknya ulama Hanabilah juga ada yang sependapat dengan Asy'ariyyah, seperti Syaikh Shodaqah bin Husain al-Baghdadi dan Ibn al-Zaghuni.


3. Khilaf tersebut menurut al-Allamah ath-Thufi al-Hanbali masih sebatas khilaf lafzhi atau khilaf far'i artinya tidak sampai ke ranah khilaf ushul. Karena sesungguhnya, kedua kelompok ini sepakat dalam ushul terkait dengan sifat Kalam Allah. Hanya memang kadang antara satu pihak satu dengan yang lain terlalu ghuluw ketika berhujjah.


4. Imam al-Baqillani adalah salah satu ulama yang berkhilaf tajam membela Asy'ariyyah dalam masalah ini, hingga pernah keluar ucapan dari ulama Hanbali bahwa beliau ada zindiq. Tetapi karena khilaf tentang masalah ini adalah khilaf far'i, maka ulama Hanbali Syaikh Abul Fadhal at-Tamimi saat menghadiri jenazah al-Baqillani menyebut beliau sebagai penolong sunnah dan agama serta imamnya kaum muslimin (Tabyin Kidzbil Muftari hal. 221).


5. Ulama Hanbali mengakui bahwa kelompok Ahlussunnah wal Jama'ah adalah 3 kelompok, yaitu: Atsariyyah (Imamnya Ahmad bin Hanbal), Asy'ariyyah (Imamnya Abul Hasan al Asy'ari) dan Maturidiyyah (Imamnya adalah Abu Manshur al-Maturidi). Demikian diakui ulama Hanbali sendiri, yaitu Syaikh Abdul Baqi al-Mawahibi dalam kitabnya "Al-Ain wal Atsar fi Aqaid Ahlil Atsar" hal. 53, Syaikh As-Safarini al-Hanbali dalam "Lawami' al-Anwar" juz 1 hal. 73 dan lain-lain. Dengan ini tuduhan Ustadz Yazid Jawwas yang menuduh Asy'ariyyah dan Maturidiyyah bukan ahlussunnah telah terpatahkan. Bahkan ini juga menegaskan, bahwa Ustadz Yazid Jawwas bukan bermanhaj Hanabilah.


6. Menurut Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah hal. 144 bahwa al-Ghunyah ini terdapat sisipan dari orang2 yang tak suka dengan Syaikh Abdul Qodir al-Jilani. Dari sisipan tersebut seakan-akan beliau berfaham mujassimah. 


Wallahu A'lam bihaqiqatil hal.


(Rois Faisal Ridho)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tentang AL-GHUNYAH"

Post a Comment